UNS Resmi Luncurkan Konsorsium Internasional SDG 8 di SMICDE 2025

UNS Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta secara resmi meluncurkan konsorsium internasional bertajuk “ International Association of Studies on Economic Growth and Development in Emerging Markets ” dalam rangkaian kegiatan Sebelas Maret International Conference on Digital Economy (SMICDE) 2025. Konsorsium ini dibentuk untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) terutama SDG ke 8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Konsorsium ini resmi dideklarasikan di Swiss-bel Hotel International Surakarta melalui prosesi penandatanganan deklarasi oleh para akademisi dan perwakilan institusi, serta disaksikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian UNS, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, S.Si., M.Si. pada Kamis (4/9/2025). Anggota konsorsium melibatkan berbagai universitas dan lembaga ternama dunia. Dari Indonesia, bergabung UNS serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dari kancah internasional hadir Harvard University (Amerika Serikat), University of Messina (Italia), University of Buckingham (Inggris), University of Akron (Amerika Serikat), Chung Hua University (Taiwan), serta OSTIM Technical University (Turkiye). Sejumlah universitas di Malaysia juga menjadi bagian penting dari konsorsium ini, di antaranya Taylor’s University, Asia Pacific University of Technology & Innovation, Universiti Utara Malaysia, Universiti Malaya, Universiti Putra Malaysia, Universiti Sains Malaysia, dan Universiti Malaysia Sarawak.

Melalui konsorsium ini, para anggota berkomitmen untuk mendorong penelitian kolaboratif, memperkuat jejaring akademik, serta membangun kemitraan lintas sektor antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Selain launching konsorsium, SMICDE 2025 juga menghadirkan keynote speakers internasional. Prof. Bruno S. Sergi dari Harvard University. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa teknologi kini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi global. Ia mengingatkan bahwa era revolusi industri digital akan berlangsung relatif singkat, hanya sekitar 20–25 tahun, sehingga penting untuk mengantisipasi dampaknya terhadap masyarakat. Prof. Bruno juga menekankan perlunya memperhatikan aspek etika dalam perkembangan teknologi, termasuk kepemilikan dan pengelolaan kecerdasan buatan.

Sementara itu, Prof. John W. Goodell dari University of Akron, USA menyoroti dinamika sistem keuangan Amerika Serikat yang tengah mengalami perubahan mendasar. Ia mengangkat isu Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam investasi yang kerap diperdebatkan, apakah sekadar persoalan keyakinan atau benar-benar memiliki nilai ekonomi (pecuniary value). Menurutnya, keberlanjutan bukanlah ide modern semata, tetapi bagian dari tradisi etika yang telah lama ada dan tetap relevan untuk masa depan sistem keuangan global.

“Dengan diluncurkannya konsorsium SDG 8 serta hadirnya gagasan para keynote speaker internasional, UNS meneguhkan posisinya sebagai bagian penting dari jejaring akademik global, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan di tingkat internasional,” terang Prof. Fitria.
Humas UNS