Dokter RS UNS Sampaikan Cara Penanganan Leukemia Akut pada Anak

Dokter RS UNS Sampaikan Cara Penanganan Leukemia Akut pada Anak

Dokter Spesialis Anak RS UNS Surakarta, dr. Debby Andina Landiasari, Sp.A., menjelaskan penanganan leukemia akut pada anak, jenis kanker darah yang umum pada anak usia 2-5 tahun. Penyakit ini berkembang cepat dan dapat disebabkan oleh faktor genetik serta lingkungan. Gejalanya meliputi wajah pucat, lemas, sesak napas, mimisan, demam berulang, penurunan nafsu makan, nyeri tulang, dan benjolan. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, tes darah, dan aspirasi sumsum tulang, diikuti imunologi, sitogenetika, atau biologi molekuler jika perlu. Pengobatan meliputi terapi suportif (transfusi darah, antibiotik) dan terapi kuratif (kemoterapi). Perawatan di rumah menekankan edukasi, kebersihan, manajemen efek samping, dan dukungan psikologis. Dengan protokol modern, remisi dapat tercapai pada sekitar 98% pasien.

UNS — Leukemia merupakan jenis kanker darah yang bermula dari sumsum tulang. Kondisi ini terjadi ketika sel darah putih (leukosit) berkembang biak secara tidak terkendali, sehingga kehilangan fungsi normalnya dan mengganggu produksi sel darah sehat lainnya.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Debby Andina Landiasari, Sp.A. menyampaikan, penyakit ini menyumbang sekitar 30-40% dari total kasus kanker pada anak. Secara statistik, terdapat sekitar 4 hingga 4,5 kasus per 100.000 anak di bawah usia 15 tahun setiap tahunnya, dengan puncak kerentanan pada rentang usia 2 sampai 5 tahun. Istilah “akut” digunakan karena penyakit ini berkembang dengan sangat cepat dan dapat memburuk dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani.

Meskipun penyebab pastinya belum diketahui secara absolut, para ahli mengidentifikasi beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko leukemia akut. Diantaranya faktor genetik. Anak dengan riwayat kanker dalam keluarga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai jenis keganasan, termasuk leukemia. Selain faktor keturunan tersebut, beberapa kondisi genetik spesifik juga dapat meningkatkan risiko ini, seperti Sindrom Down, Neurofibromatosis tipe 1, Sindrom Bloom, Anemia Fanconi, Ataksia-telangiektasia, Sindrom Li-Fraumeni, gangguan perbaikan DNA, serta perubahan pada kromosom.

“Kemudian faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang diduga kuat meningkatkan risiko leukemia pada anak meliputi paparan radiasi (termasuk sinar-X), zat kimia berbahaya, serta polusi udara dalam jangka panjang,” terang dr. Debby seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Selasa (20/1/2026).

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Orang tua harus waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut. Wajah pucat, tubuh lemas, dan cepat lelah saat beraktivitas. Lalu sesak napas dan berbagai jenis pendarahan spontan (seperti memar atau mimisan). Kemudian demam berulang tanpa penyebab yang jelas. Nafsu makan menurun drastis dan perut membuncit (akibat pembengkakan hati atau limpa). Nyeri pada tulang serta adanya benjolan (kelenjar getah bening) yang tidak nyeri.

“Pada kasus tertentu, muncul gangguan saraf (sakit kepala hebat), gangguan pada mata (pendarahan retina), hingga pembengkakan pada organ intim (testis atau ovarium),” imbuhnya.

Prosedur Diagnosis dan Pengobatan

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah lengkap. Namun, kepastian diagnosis dilakukan melalui aspirasi sumsum tulang. Jika diperlukan, pemeriksaan lanjutan seperti tes imunologi, sitogenetika, hingga biologi molekuler akan dijalankan untuk membedakan leukemia dengan penyakit lain seperti anemia aplastik atau infeksi virus berat.

Strategi pengobatan terbagi menjadi dua, yaitu terapi suportif, fokus pada penanganan komplikasi dan penyakit penyerta, seperti pemberian transfusi darah, antibiotik, dukungan nutrisi, dan pendampingan psikososial. Terapi Kuratif yaitu menggunakan skema kemoterapi yang terdiri dari fase induksi, intensifikasi, perlindungan sistem saraf pusat, hingga fase pemeliharaan (rumatan).

Dengan protokol medis modern, sekitar 98% pasien dapat mencapai masa remisi. Meski demikian, risiko kambuh (relaps) masih ada pada sekitar 25-30% kasus. Kesempatan sembuh bagi pasien yang kambuh lebih dari 6 bulan setelah pengobatan selesai (late relapse) jauh lebih tinggi (40-50%) dibandingkan mereka yang kambuh lebih awal (10-30%).

Panduan bagi Orang Tua dalam Perawatan di Rumah

Merawat anak dengan leukemia membutuhkan ketelatenan ekstra. Beberapa langkah penting yang bisa dilakukan keluarga, pertama edukasi mandiri, pahami rencana perawatan jangka panjang dan efek samping obat.

Kedua, protokol kebersihan, selalu mencuci tangan dan hindari kerumunan untuk mencegah infeksi sekunder. Ketiga, manajemen efek samping, pastikan asupan cairan cukup untuk mencegah dehidrasi akibat mual pasca-kemoterapi. Dan keempat, dukungan psikologis, ciptakan suasana positif, bawa mainan atau buku kesukaan saat anak harus menjalani rawat inap di rumah sakit agar suasana hatinya tetap terjaga. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu leukemia akut pada anak dan seberapa umum?

Leukemia akut adalah jenis kanker darah yang berkembang pesat dari sumsum tulang, terjadi ketika sel darah putih tumbuh tak terkendali. Ini menyumbang 30-40% kasus kanker anak, dengan puncak kerentanan pada usia 2-5 tahun. Lihat di artikel

Faktor apa saja yang diduga meningkatkan risiko leukemia akut pada anak?

Risiko dapat meningkat akibat faktor genetik, seperti riwayat kanker dalam keluarga atau kondisi genetik spesifik (misalnya Sindrom Down), serta faktor lingkungan seperti paparan radiasi, zat kimia berbahaya, dan polusi udara. Lihat di artikel

Apa saja gejala leukemia akut yang perlu diwaspadai orang tua?

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain wajah pucat, tubuh lemas, sesak napas, pendarahan spontan (memar, mimisan), demam berulang tanpa sebab jelas, penurunan nafsu makan, nyeri tulang, dan benjolan. Lihat di artikel

Bagaimana diagnosis leukemia akut pada anak ditegakkan?

Diagnosis awal meliputi pemeriksaan fisik dan tes darah lengkap. Kepastian diagnosis diperoleh melalui aspirasi sumsum tulang, dengan pemeriksaan lanjutan seperti tes imunologi atau sitogenetika untuk membedakannya dari kondisi lain. Lihat di artikel

Apa saja strategi pengobatan leukemia akut pada anak?

Pengobatan terbagi menjadi terapi suportif untuk mengatasi komplikasi (misal transfusi darah) dan terapi kuratif menggunakan kemoterapi dalam beberapa fase, yang dengan protokol modern dapat mencapai remisi pada mayoritas pasien. Lihat di artikel