Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) LPPM UNS menyelenggarakan Projek Ecopreneurship di SMPN 5 Karanganyar pada 21–24 September 2026. Kegiatan ini melibatkan 260 siswa dalam mengolah sampah plastik dan botol bekas menjadi pot serta rak tanaman, sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui budidaya sayuran.
UNS — Mengubah sampah plastik menjadi produk bermanfaat sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di SMP Negeri 5 Karanganyar pada 21–24 September 2026.
Mengusung tema “Projek Ecopreneurship: Dari Bahan Bekas Menjadi Kebun Sayur Wirausaha”, kegiatan ini melibatkan 260 siswa dalam rangkaian pembelajaran berbasis praktik. Para siswa diajak mengolah galon dan botol plastik bekas menjadi pot tanaman, membuat rak tanaman dari kayu dan bambu bekas, menanam sayuran, hingga mengenal potensi ekonomi dari hasil budidaya.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMPN 5 Karanganyar, Darmawan Sugiharso, S.Pd., M.Pd., serta penjelasan program oleh Ketua PPKwu LPPM UNS, Dr. Tutik Susilowati, S.Sos., M.Si. Selanjutnya, pelatihan pengolahan galon dan botol plastik bekas menjadi pot tanaman disampaikan oleh Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS.
Pada hari kedua, siswa mempraktikkan pembuatan pot dengan pendampingan guru. Kegiatan dilanjutkan pada hari ketiga melalui pembuatan rak tanaman menggunakan kayu dan bambu bekas. Pada hari keempat, siswa belajar menanam sayuran pada pot yang telah dibuat dengan pendampingan Dimar Hantari, S.P., M.P., dosen Program Studi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi UNS.
Ketua PPKwu LPPM UNS, Dr. Tutik Susilowati, S.Sos., M.Si., mengatakan Projek Ecopreneurship dirancang untuk memperkenalkan konsep kewirausahaan kepada siswa melalui pengalaman belajar yang nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Inti dari Projek Ecopreneurship ini adalah membangun pola pikir kewirausahaan sejak dini melalui pembelajaran yang nyata. Kami ingin siswa memahami bahwa kreativitas dapat mengubah bahan bekas menjadi produk bernilai manfaat dan ekonomi, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Dr. Tutik.
Ia berharap kebun produktif yang dibangun bersama tidak berhenti sebagai hasil kegiatan pengabdian, tetapi dapat dikembangkan menjadi laboratorium pembelajaran dan kewirausahaan yang terus hidup di lingkungan sekolah.
Menurutnya, perpaduan antara pengolahan bahan bekas dan budidaya tanaman memberikan pengalaman utuh kepada siswa, mulai dari mengenali permasalahan lingkungan, menciptakan produk, memanfaatkan produk tersebut, hingga melihat peluang ekonomi yang dapat dikembangkan.
Sementara itu, Dr. Dyah Yuni Kurniawati yang menekuni bidang Green Art menyampaikan bahwa pengolahan galon dan botol plastik bekas menjadi pot merupakan praktik kreativitas yang dapat mengubah cara pandang siswa terhadap sampah.
“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kami ingin mengajak siswa SMPN 5 Karanganyar untuk mengubah cara pandang terhadap sampah plastik. Galon dan botol plastik bekas yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai estetis,” ungkap Dr. Dyah.
Dalam perspektif seni rupa, lanjutnya, proses tersebut merupakan bentuk kreativitas, yakni kemampuan melihat kemungkinan baru dari material yang sudah tidak digunakan. Transformasi galon dan botol plastik menjadi pot tanaman tidak hanya menghasilkan benda fungsional, tetapi juga menghadirkan nilai keindahan sekaligus pesan kepedulian terhadap lingkungan.
“Hal ini sejalan dengan semangat Green Art, yaitu pendekatan berkesenian yang mengintegrasikan kreativitas, estetika, dan kesadaran ekologis. Kami ingin menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa seni tidak hanya menghasilkan karya yang indah, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi dan solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan,” jelasnya.
Dr. Dyah berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan generasi muda yang kreatif, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan yang dimulai dari lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari.
Apresiasi terhadap kegiatan juga disampaikan Kepala SMPN 5 Karanganyar, Darmawan Sugiharso, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, program tersebut memberikan pengalaman kontekstual yang dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.



“Kegiatan ini sangat bagus untuk mengubah mindset anak-anak menjadi ecopreneur. Mereka tidak hanya diajak membuat pot dari galon dan botol bekas, tetapi juga belajar menanam dan dikenalkan sampai pada bagaimana hasilnya dapat dijual,” ungkap Darmawan.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sekaligus memberikan bekal keterampilan nonakademik atau soft skill dengan mengintegrasikan substansi pembelajaran dan literasi.
“Program ini sesuai dengan program sekolah, yaitu memberikan bekal kepada siswa melalui pengalaman kontekstual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi bekal soft skill yang bermanfaat bagi mereka. Ada substansi pembelajaran dan literasi yang dapat kita petik dari kegiatan pengabdian ini,” lanjutnya.
Darmawan berharap program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai, tetapi dapat terus dikembangkan dan diaplikasikan di lingkungan masyarakat sehingga manfaatnya semakin luas.
Kebun Sekolah sebagai Laboratorium Pembelajaran
Kebun sayur yang dibangun melalui Projek Ecopreneurship diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lintas mata pelajaran. Dalam pembelajaran IPA, misalnya, siswa dapat mengamati pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungan. Pada Matematika, kegiatan pengukuran, pencatatan data pertumbuhan, serta penghitungan hasil panen dapat menjadi bahan praktik.
Sementara itu, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diperkuat melalui kegiatan membaca, menulis, mengamati, dan menyampaikan informasi berdasarkan pengalaman siswa selama mengikuti kegiatan.
Proses merawat tanaman juga menjadi sarana pembentukan karakter, seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, konsistensi, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui kegiatan mengukur, mencatat, membaca informasi, menghitung kebutuhan, dan mengomunikasikan hasil pengamatan, siswa memperoleh pengalaman yang mendukung penguatan literasi dan numerasi.
Dengan demikian, kebun sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menanam sayuran, tetapi juga berpotensi menjadi ruang belajar kontekstual yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, karakter, lingkungan, dan kewirausahaan.
Antusiasme peserta terlihat selama praktik pembuatan pot dan penanaman sayuran. Salah satu siswa SMPN 5 Karanganyar, Sherly, mengaku senang mengikuti kegiatan yang diberikan tim UNS.
“Saya senang diberikan materi dari UNS. Dosen pematerinya keren dan mudah ditangkap. Semoga kami bisa menjaga tanaman-tanaman yang sudah kami tanam dan menjualnya, karena ini keren. Pot kami juga keren-keren,” ujar Sherly.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik dapat mempertemukan kreativitas, keterampilan, kepedulian lingkungan, dan pengenalan kewirausahaan dalam satu rangkaian kegiatan.
Melalui Projek Ecopreneurship, PPKwu LPPM UNS mendorong siswa untuk melihat bahwa bahan bekas dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, lingkungan dapat menjadi sumber belajar, dan aktivitas sederhana seperti merawat tanaman dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi SMPN 5 Karanganyar untuk mengembangkan kebun produktif secara berkelanjutan sekaligus menanamkan kreativitas, kepedulian ekologis, dan semangat kewirausahaan kepada siswa. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Kapan kegiatan Projek Ecopreneurship di SMPN 5 Karanganyar dilaksanakan?
Kegiatan Projek Ecopreneurship dilaksanakan pada tanggal 21–24 September 2026. Lihat di artikel
Siapa penyelenggara kegiatan Projek Ecopreneurship di SMPN 5 Karanganyar?
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS. Lihat di artikel
Apa saja produk yang dibuat oleh para siswa dalam kegiatan tersebut?
Para siswa mengolah galon dan botol plastik bekas menjadi pot tanaman, membuat rak tanaman dari kayu dan bambu bekas, serta menanam sayuran. Lihat di artikel

















