FEB UNS Miliki Guru Besar Baru dalam Bidang Kepakaran Akuntansi Keperilakuan

FEB UNS Miliki Guru Besar Baru dalam Bidang Kepakaran Akuntansi Keperilakuan
FEB UNS Miliki Guru Besar Baru dalam Bidang Kepakaran Akuntansi Keperilakuan

UNS – Prof. Dra. Y Anni Aryani, M.Prof.Acc., Ph.D., Ak., CA., dikukuhkan sebagai Guru Besar Baru di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Prof. Y Anni merupakan Guru Besar ke-21 pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan ke-310 UNS. Pengukuhan ini menjadikannya Guru besar dalam bidang ilmu Kepakaran Akuntansi Keperilakuan. Pidato inaugurasi yang disampaikan mengangkat judul “Perempuan dalam Tata Kelola Perusahaan: Perilaku Etis dalam Pelaporan Akuntansi”.

Akuntansi keperilakuan sebagai kepakaran Prof. Y Anni merupakan satu ranting ilmu akuntansi yang mempelajari kondisi psikologis manusia dan pengambilan keputusannya. Faktor ini yang dapat mempengaruhi informasi akuntansi dan praktik bisnis. Interpretasi dan penyajian informasi akuntansi sendiri dapat dipengaruhi oleh faktor subjektif seperti bias individu dan gaya kognitif.

Prof. Y Anni mencermati bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi dimensi perilaku dalam akuntansi adalah pemahaman tentang etika. Dalam menyiapkan informasi laba pada laporan keuangan, proses manajemen terikat pada perilaku etis. Tindakan ini dapat dijustifikasi sebagai benar/salah, jujur/tidak jujur, adil/tidak adil. Sehingga, kualitas laba tergantung pada perilaku etis pihak manajemen dalam menyiapkan laporan keuangan.

“Dalam hal pelaporan informasi laba, manajemen mempunyai keleluasaan untuk melakukan manajemen laba. Dari sisi perspektif etika, manajemen laba menimbulkan pertanyaan apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang benar untuk dilakukan. Kode etik dan perilaku seseorang seharusnya dapat mencegah tindakan manajemen laba,” jelas Prof. Y Anni.

Tantangan muncul ketika garis antara pengelolaan laba yang etis dan tidak etis seringkali sulit ditentukan. Temuan permasalahan timbul ketika manajemen laba yang dilakukan mengarah pada manipulasi laba. Hal semacam ini mengakibatkan turunnya kualitas laba. Temuan Prof. Y Anni menunjukkan kasus manajemen laba tidak hanya di perusahaan non-keuangan, melainkan juga terjadi di perbankan, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

“Penelitian kami membuktikan bahwa direktur perempuan efektif menurunkan manajemen laba sehingga kualitas laba meningkat. Namun, kami juga membuktikan bahwa pengaruh tersebut tergantung pada karakteristik yang melekat pada direktur perempuan,” lanjutnya.

Secara spesifik, strata pendidikan tinggi seorang direktur perempuan justru sebaliknya menaikkan motivasi melakukan manajemen laba. Direktur perempuan yang berlatar belakang pendidikan ekonomi, keuangan dan akuntansi juga cenderung terlibat dalam praktik manajemen laba. Ketika direktur perempuan tersebut mempunyai strata pendidikan yang lebih tinggi dan berlatar belakang ekonomi, keuangan, dan akuntansi, mereka cenderung memiliki lebih sedikit insentif untuk terlibat dalam manajemen laba.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan direktur perempuan dengan pendidikan tinggi dan ahli dibidangnya menjadi lebih waspada terhadap konsekuensi manajemen laba. Temuan tersebut juga didukung dengan masa jabatan direktur perempuan yang mampu menurunkan manajemen laba. Semakin lama menjabat sebagai direktur, semakin tinggi keahliannya dalam mengelola organisasi dan menjalankan tugas pengawasan.

Riset Prof. Y Anni ini memberikan kesimpulan bahwa di Indonesia, keberadaan perempuan dalam tata kelola dapat berdampak positif bagi perusahaan. Perempuan diyakini menunjukkan kemampuan dan keterampilan dalam pengawasan yang lebih besar. Mereka kurang bertoleransi terhadap perilaku oportunistik atau tidak etis yang menjadikannya pengawas perusahaan yang efektif.

Bagi Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., pengukuhan ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi para guru besar yang dikukuhkan dan keluarga, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika UNS. Untuk itu Prof. Hartono mengajak kepada seluruh sivitas akademika UNS untuk menjadikan momen ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan inovasi di UNS.

Kepakaran beliau merupakan gambaran dukungan terhadap tercapainya SDGs kelima Kesetaraan Gender serta SDGs keenam belas, Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

“Kami berharap kepada para Guru Besar yang baru dikukuhkan. Semoga capaian ini menjadi awal dari kontribusi yang lebih besar bagi UNS, masyarakat, bangsa, dan negara serta menjadikan barokah bagi kita semua,” ujar Prof. Hartono. Humas UNS

Reporter: R.P. Adji / Redaktur: Dwi Hastuti