UNS – Bagi Prof Dr Slamet Subiyantoro, MSi, patung loro blonyo memiliki pesona tersendiri. Loro blonyo yang secara visual merupakan patung sepasang figur manusia mengenakan busana adat Jawa gaya basahan tak sekedar dimaknai sebagai aksesoris belaka. Loro blonyo memiliki makna yang sangat dalam. Esensi loro blonyo adalah manifestasi dari pandangan hidup Jawa yang bersifat simbolik keharmonisan dan kesuburan. “Ajaran Jawa telah lama memberi sumbangan besar dalam menciptakan tata hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam semesta dan dengan sesembahannya. Ini rupanya telah mengkristal menjadi landasan dalam sendi-sendi tradisi Jawa,” ucap Slamet. Pria  yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS pada 9 November 2017 ini sudah lama meneliti loro blonyo.  Slamet mengawali risetnya soal loro blonyo di 2005 dan terus meneliti soal itu hingga kini. Ia juga beroleh Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk hak desain Topeng Loro Blonyo di 2017 dan hak desain industri untuk desain packaging kerajinan loro blonyo pada 2016. Menurut Slamet, struktur posisi loro blonyo sebagai bentuk seni rupa tradisi adalah bahasa simbolik Jawa yang menegaskan bahwa dunia ini selalu berpasangan dan senantiasa paradoks (berlawanan). Pasangan tersebut misalnya lahir-batin, atas-bawah, ibu-bapak, lelaki-perempuan, hidup-mati, sangkan-paran, kawula-Gusti, ngarep-buri, pendhapa-dalem. Keselarasan tercipta setelah melakukan perpaduan dalam ruang yang disebut liminalitas. “Dalam tataran mistik Kejawen selarasnya kawula yang manunggal dengan sifat Gusti, betul-betul luluh dalam zat kesucian sehingga bisa bersenyawa dalam satu ruang batin yang suwung,” jelasnya. Dia menambahkan, dalam ruang peralihan dari dunia profan yang kotor ke dunia sakral yang suci merupakan upaya menyesuaikan untuk mencapai ruang kosong. Upaya tersebut biasa dilakukan dengan tindakan ritual dengan cara menahan nafsu makan (aluwanah), kesenangan (shufiah), dan nafsu marah (amarah) menuju nafsu kebaikan (mutmainnah). Slamet menjelaskan, ruang suwung ditransformasikan ke dalam ruang senthong tengah rumah joglo. Pada ruang tersebut patung loro blonyo ditempatkan sebagai manifestasi dari kawula yang menyatu dengan Gusti yang dimanifestasikan rumah. Patung dan rumah dengan demikian merupakan representasi manunggaling kawula dengan Gusti.

Diaplikasikan dalam Kehidupan

Dalam kehidupan keluarga, filosofi loro blonyo juga ia terapkan. Sang istri, Pargiyanti, S.Pd. ia pasrahkan urusan domestik sementara Slamet berkarya di luar rumah. Jadwal mengajarnya memang sangat padat. Ia mengajar belasan mata kuliah di jenjang S1, S2, dan S3. Slamet juga menjabat sebagai Koordinator Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) FKIP UNS. Ia juga sibuk mengisi seminar di dalam dan luar negeri, terutama bidang antropologi seni rupa, bidang yang tidak terlalu banyak dikuasai orang. Kesibukannya membuat Slamet jarang bertemu keempat buah hatinya. Dua buah hatinya yang terbesar, Isdhiega Arya Subiyantara, S.Pd. dan Anshelia Rusyda Subiyantari, S.Pd. kini tengah menempuh pendidikan strata 2. Sementara, dua anak terkecil Abdurrofi’I Assajid Arbya dan Ahnaf Jahfal Arbyan Subiyantoro masih duduk di bangku SD. Minatnya sebagai guru sudah dimulai saat ia sekolah di Sekolah Pendidikan Guru Negeri Klaten. Ia memperoleh beasiswa Supersemar dan melanjutkan pendidikan ke IKIP Yogyakarta jurusan D3 Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan. Prestasinya yang baik membuat ia mendapat beasiswa dan bisa langsung melanjutkan studi jenjang sarjana di jurusan yang sama. Dia melanjutkan studi S-2 di Universitas Indonesia Jakarta bidang Antropologi (Seni) dan S-3 di Universitas Gadjah Mada bidang Antropologi (Budaya). Mengajar di UNS sejak -1992, Slamet sempat dua kali menjadi Dosen Berprestasi 2 tingkat Fakultas dan menjadi Dosen Berprestasi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Setelah meraih capaian tertinggi di bidang akademik, Slamet mengaku tak akan berhenti sampai di situ. Ia akan terus meneliti, mengajar, dan menebar manfaat bagi orang banyak lewat ilmunya.

Suka dengan artikel ini?

Tags :

Dosen FH UNS Sampaikan Keuntungan Memiliki NIB Bagi UMKM

UNS --- Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang juga sebagai...

PSJ UNS dan Prodi Arsitektur UNS Gelar FGD Ide Pengembangan Kawasan Hunian Baru di Kampung Metal, Surakarta

UNS --- Pusat Studi Jepang (PSJ) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Research Group...

PPKwu LPPM UNS Adakan FGD Progam Desa Wisata Batik di Pilang Sragen

UNS --- Tim Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat...

Dosen FP UNS Adakan Sosialisasi Reboisasi dengan Tanaman Mangga

UNS --- Dosen Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung...

Peneliti dari Prodi Fisika UNS Serahkan Bantuan EWS Tanah Longsor kepada BPBD Karanganyar

UNS --- Tim peneliti dari Program Studi (Prodi) Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan...

Dosen Prodi Fisika FMIPA UNS Hibahkan Perangkap Hama untuk Petani Bawang Merah

UNS --- Dosen Program Studi (Prodi) Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)...

Dosen FKIP UNS Dampingi Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berbasis Etno-STEM untuk Guru IPA Kabupaten Karanganyar

UNS --- Dosen Program Studi (Prodi) S-1 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Keguruan...

LPPM UNS Dampingi Pengrajin Topeng Batik di Patuk, Gunung Kidul

UNS --- Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS)...

Jurnal Basastra PBSI FKIP UNS Beri Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah pada Jurnal Terindeks Global

UNS --- Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya (Basastra) yang diterbitkan...

Grup Riset Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah UNS Tingkatkan Kewirausahaan Siswa SMK di Boyolali

UNS --- Grup Riset Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Universitas Sebelas Maret (UNS)...