Tim PKM-RE UNS Hadirkan Inovasi Baru Pengobatan Kanker Payudara dari Herbal Tanaman Hias Ketepeng

Tim PKM-RE UNS Hadirkan Inovasi Baru Pengobatan Kanker Payudara dari Herbal Tanaman Hias Ketepeng

UNS – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan solusi untuk pengobatan penyakit kanker payudara berbahan herbal yang rendah efek samping serta toksisitas menggunakan tanaman hias Ketepeng. Tim tersebut  beranggotakan Setyanto Arief Wiedagdo, Anjelika Putri Febriyanti, Valentina Kusumaningrum, Fasha Putri Arkhani, dan Rizky Eka Putera yang merupakan mahasiswa gabungan dari Program Studi (Prodi) S1 Kimia dan S1 Kedokteran, serta di bawah bimbingan Dr. rer. nat. Maulidan Firdaus, S.Si., M.Sc.

Munculnya inovasi tersebut didasari oleh fakta bahwa kanker merupakan penyakit yang dikategorikan sebagai non-communicable disease atau penyakit tidak menular dengan angka kematian yang sangat tinggi. Di mana 70 persen kematian akibat penyakit diakibatkan oleh jenis penyakit ini. Kanker secara definisi merupakan kejadian mutasi genetik pada tubuh manusia yang berkembang dengan sangat agresif sehingga mengganggu keseimbangan tubuh.

“Salah satu jenis kanker dengan angka kejadian yang tertinggi kedua di dunia yaitu kanker payudara. Hampir 2,3 juta orang pada 2022 mengidap kanker payudara dengan lebih dari 600 ribu mengalami kematian di seluruh dunia. Di Indonesia tercatat 400 ribu pasien kanker payudara dengan lebih dari 240 ribu meninggal pada 2022, hal tersebut menunjukkan bahwa 20 persen pasien kanker payudara berasal dari Indonesia dan juga lebih dari 50 persen pasien kanker payudara meninggal setelah terdiagnosis penyakit tersebut,” jelas Setyanto, Ketua Tim PKM-RE UNS 2024, Rabu (31/7/2024).

Setyanto dan kawan-kawan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2024 berinovasi membuat obat antikanker rendah efek samping dan toksisitas yang berasal dari herbal khas Indonesia untuk meningkatkan budidaya herbal di Indonesia dan mencapai Indonesia sehat.

“Pengobatan kanker saat ini yang berupa kemoterapi memiliki efek samping serta toksisitas yang menurunkan kualitas hidup pasien. Penurunan kualitas hidup seperti rambut rontok, depresi, kehilangan berat badan dan juga kerusakan hati menyebabkan banyak pasien kanker enggan untuk melakukan kemoterapi. Oleh karena itu, kami menginovasikan alternatif pengobatan kanker payudara berbahan herbal yang rendah efek samping serta toksisitas,” pungkas Ketua Tim PKM-RE tersebut.

Terdapat beberapa langkah alternatif yang bisa digunakan untuk mengobati kanker. Baru-baru ini Ketepeng dipelajari sebagai kandidat sediaan obat yang dapat dimanfaatkan untuk penyembuhan kanker payudara. Pada penelitian tersebut Ketepeng terbukti memiliki kandungan flavonoid aktif yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi untuk membantu melawan sel kanker. Ketepeng dipilih karena merupakan salah satu tanaman hias yang banyak dibudidayakan karena bunganya yang cantik dan ternyata daunnya memiliki manfaat lain.

“Daun Ketepeng diambil ekstraknya lalu di optimasi untuk mendapatkan hasil flavonoid tertinggi. Hasil flavonoid tertinggi didapatkan melalui pengukuran Response Surface Methodology (RSM) pada variabel-variabel etanol dan suhu serta konsentrasi yang berbeda. Hasil dengan flavonoid tertinggi lalu di cek jenis flavonoid yang terkandung dalam ekstrak dengan metode Kromatografi cair-spektrometri massa. Hasil tersebut akan di cek kecocokan dan kekuatan antioksidan dan antiinflamasi melalui metode docking dan in silico dari segi alergenitas dan toksisitas,” tambah Setyanto.

Tim juga menjelaskan bahwa hasil ekstrak yang telah didapatkan dari daun Ketepeng belum dapat digunakan secara langsung dikarenakan bioavailabilitasnya yang masih rendah serta bentuk sediaan yang masih hidrofilik. Sel dalam tubuh memiliki suatu lapisan terluar yang bersifat hidrofobik yang berguna untuk mencegah sel hancur. Untuk mengatasi hal tersebut, tim menginovasikan penggunaan chitosan yang dikombinasikan dengan nano liposom sebagai pembawa ekstrak tersebut. Chitosan sendiri merupakan suatu zat mirip gula yang berasal dari cangkang hewan arthropoda yang saat ini masih kurang dimanfaatkan.

Sebagai contoh limbah tambak udang memiliki chitosan yang dapat berguna untuk kebutuhan medis dikarenakan memiliki bioavailabilitas yang tinggi di tubuh manusia. Selain itu, kombinasi dengan nano liposom dapat membantu ekstrak tidak larut dalam plasma dikarenakan bentuknya yang hidrofobik. Dan penggunaan folic acid sebagai reseptor mampu menghantarkan ekstrak ke sel kanker secara spesifik.

Hasil dari penelitian ini nantinya akan didaftarkan hak paten sederhana. Selain itu juga akan diseminasikan dalam konferensi internasional mendatang. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan dapat menjadi alternatif baru dalam penyembuhan kanker payudara dengan efek samping dan toksisitas yang minimal dan meningkatkan nilai budidaya tumbuhan Ketepeng. Keberlanjutan penelitian dapat dipantau melalui akun media sosial Instagram @calico.forcancer. HUMAS UNS

Reporter: Annisa Fakhira
Redaktur: Dwi Hastuti