UNS – Iklan retro karya Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menghasilkan prestasi pada kompetisi nasional. Mereka adalah Salshabila Ananda dan Jedidiah Donniar Yajnavido. Keduanya sukses meraih Juara I dalam Lomba Iklan Radio Lawas (Ladios) di ajang ADUIN Fest 2025.
Salshabila dan Vido berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui konsep unik yang mereka tampilkan. Iklan radio bertema momen kelulusan menjadi ide utama yang mereka angkat. Produk bernama Susu Sarjana menjadi fokus dalam iklan tersebut.
Vido, kepada uns.ac.id, mengungkapkan bahwa kemenangan ini menjadi kejutan yang menyenangkan. Saat pengumuman pemenang, mereka sempat tidak menyangka akan meraih posisi teratas. Sejak awal keduanya tidak menargetkan gelar juara. Mereka mengikuti lomba karena ingin mencoba hal baru dan menambah pengalaman.
“Rasanya senang banget dan nggak nyangka, sih. Apalagi kami ngerjain ini dari nol. Mulai dari brainstorming ide, ambil suara, sampai editing yang lumayan makan waktu juga. Jadi pas diumumin menang, terasa banget semua effort -nya paid off!,” ujar Vido, Selasa (10/6/2025).
Dua Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS tersebut sempat menghadapi tantangan dalam memahami karakter iklan radio lawas. Keterbatasan referensi membuat proses penyusunan naskah dan pemilihan efek suara menjadi penuh dinamika. Meski demikian, semangat eksplorasi tetap mereka pegang selama proses kreatif.
Salah satu strategi yang mereka gunakan adalah membangun suasana khas wisuda. Efek suara keramaian dan musik latar ala orkes tempo dulu digunakan untuk menguatkan atmosfer. Narasi iklan juga menggunakan gaya voice over klasik, namun tetap dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Kami memperkenalkan produk Susu Sarjana melalui voice over dengan karakter retro yang khas dan berkesan. Pilihan gaya ini kami gunakan untuk memberi sentuhan nostalgia, sekaligus memperkuat kesan bahwa Susu Sarjana punya cerita dan karakter tersendiri,” terang Vido.
Salshabila Ananda juga menyampaikan bahwa kekuatan utama media radio terletak pada kemampuan membangun imajinasi pendengarnya. Tidak adanya visual membuat audiens membayangkan sendiri suasana dan cerita yang disampaikan. Hal ini menurutnya menjadi keunggulan tersendiri di tengah dominasi media visual.
Media audio juga memiliki fleksibilitas tinggi dalam konsumsi sehari-hari. Pendengar bisa menikmati iklan radio saat berkegiatan tanpa harus menatap layar. Inilah yang membuat iklan berbasis audio tetap memiliki peluang di era digital. Mereka juga menilai bahwa pendekatan konvensional seperti iklan radio lawas dapat dikemas ulang menjadi sesuatu yang segar. Elemen nostalgia bisa menjadi daya tarik tersendiri di tengah tren konten digital yang serba cepat.

Salshabila menyampaikan pesan kepada mahasiswa komunikasi lainnya untuk terus berani bereksperimen. Ia mengajak generasi muda tidak hanya terpaku pada media digital, namun juga mengeksplorasi kekuatan media konvensional. Ia berharap mahasiswa komunikasi dapat lebih berani menciptakan karya kreatif lintas media.
“Sekarang tuh eranya kolaborasi antar bentuk media. Makin banyak kita coba, makin mengerti karakter masing-masing dan makin luas juga ide yang bisa kita eksplor. Jangan takut salah atau ngerasa ‘nggak zaman’. Kadang justru dari eksperimen yang keliatannya aneh itu muncul karya yang beda dan punya nilai sendiri,” pesan Salsha.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNS lainnya untuk terus berkarya. Selain itu, keikutsertaan dalam berbagai kompetisi juga dapat memperluas pengalaman dan kemampuan di bidang komunikasi kreatif.
ADUIN Fest 2025 sendiri diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kompetisi tersebut diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. ADUIN Fest 2025 merupakan agenda tahunan yang menghadirkan berbagai kompetisi kreatif di bidang periklanan.
Pada tahun ini, ADUIN Fest mengangkat tema “Reconnect Digital Advertising with Conventional Strategies”. Tema ini mengajak generasi muda menengok kembali kekuatan media konvensional. Dalam kompetisi Ladios, peserta ditantang untuk membuat iklan radio berdurasi maksimal 30 detik. Nuansa iklan radio era lampau menjadi konsep utama yang diusung oleh panitia. Meski demikian, peserta tetap dituntut menyesuaikan karya mereka agar relevan di era digital.
Humas UNS


















