UNS – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kali ini, mereka berhasil masuk dalam Top 5 Sayembara Nasional Wiswakharman Expo (WEX) 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Acara tahunan ini merupakan program dari Prodi Arsitektur UGM yang diikuti berbagai perguruan tinggi. Sayembara arsitektur nasional tersebut mengusung tema besar “Reka Cipta Kota Pelajar”. Tema tersebut berfokus pada gagasan pengembangan kota yang mendukung lingkungan belajar ramah, inklusif, dan berkelanjutan.
WEX 2025 mengajak peserta memahami pentingnya infrastruktur pendidikan yang nyaman dan fungsional. Selain itu, kota pelajar diharapkan mampu menghadirkan ruang publik yang mendukung interaksi sosial dan kreativitas. Penerapan teknologi dan prinsip keberlanjutan juga menjadi elemen penting dalam perancangan kawasan pendidikan.
Salah satu agenda utama dalam Wiswakharman Expo 2025 adalah Architectural Competition. Kompetisi ini mengangkat subtema “Melangkah Bersama Waktu dalam Ruang Menimba Ilmu”. Kompetisi ini bertujuan merancang ruang pendidikan Lanjut Usia (Lansia) yang ramah, inspiratif, dan mendukung keberlanjutan.
Tim mahasiswa Arsitektur UNS yang berpartisipasi terdiri atas Alyandi Arfah Kallolo, Arkan Bintang Reyhandi, dan Fransiskus Yosua Yoga Prasetya. Mereka berhasil masuk dalam jajaran lima besar finalis terbaik pada ajang bergengsi tersebut dengan desain arsitektur bernama “Lowanu Elderly Hub”. Hasil tersebut diumumkan pada akhir April 2025 dengan dilanjutkan sesi awarding pada Jumat (9/5/2025).
Dalam wawancara bersama Fransiskus Yosua Yoga Prasetya, konsep utama desain miliki mereka dijelaskan secara rinci. Yosua mengungkapkan kepada uns.ac.id bahwa mereka berfokus pada inklusivitas, teknologi, dan partisipasi Lansia dalam lingkungan pendidikan. Desain ini dirancang agar ramah terhadap kondisi fisik dan kebutuhan psikologis para Lansia.
“Inklusivitas menjadi aspek yang paling krusial, karena kita ketahui bahwa Lansia merupakan kaum yang cukup rentan sehingga diperlukan pendekatan arsitektur inklusif supaya Lansia bisa mengakses bangunan dengan kemampuan fisiknya yang mulai menurun,” ujar Yosua, Kamis (19/6/2025).
Selain itu, tim juga mengangkat elemen teknologi adaptif yang sesuai kemampuan pengguna Lansia. Teknologi tersebut dirancang untuk melatih aspek motorik, intelektual, kognitif, dan afektif para Lansia. Mengenai aspek aksesibilitas, Yosua menjelaskan beberapa strategi desain yang diterapkan. Jalur pedestrian terhubung langsung ke lingkungan sekitar dengan material lantai yang aman bagi Lansia. Guiding block, railing, dan ramp landai melengkapi akses di area bangunan, termasuk transportasi antar lantai.
Lift ditempatkan di area komunal agar aktivitas Lansia dapat terpantau oleh pengelola secara langsung. Selain itu, sirkulasi dalam bangunan didesain ramah Lansia dengan pencahayaan alami yang memadai. Area terbuka juga disediakan sebagai ruang interaksi sosial dan terapi Lansia.
“Pada bagian dalam, seluruh sirkulasi menuju ruang-ruangnya dilengkapi dengan guiding block dan railing sebagai syarat desain yang inklusif. Transportasi menuju lantai 2 menggunakan ramp yang landai dan lift yang diletakkan di komunal sehingga selain aman, sirkulasi menuju lantai 2 dapat dijangkau dengan mudah dan mampu terpantau langsung oleh pengelola,” terangnya.

Arkan Bintang Reyhandi mengaku, tantangan utama dalam perancangan adalah menyelaraskan konsep edukasi dengan kebutuhan Lansia. Desain bangunan dirancang agar menjadi media pembelajaran sekaligus ruang aktivitas produktif.
Alyandi Arfah Kallolo juga menambahkan, peran arsitek muda sangat penting untuk peka terhadap isu sosial. Menurutnya, fasilitas pendidikan Lansia masih kurang mendapat perhatian di Indonesia. Melalui sayembara ini generasi muda arsitek diharapkan dapat berkontribusi bagi pendidikan sepanjang hayat.
“Kita-kita (generasi muda) ini lah yang juga harus mulai peka terhadap isu-isu sosial yang ada di Indonesia. Salah satunya mengenai pendidikan Lansia,” ujar Arfah.
“Tantangannya adalah mengupayakan bagaimana desain bangunan tidak hanya sebagai tempat bernaung dan dibuat dengan estetika saja, tetapi juga bisa menjadi objek pembelajaran dari Lansia yang ada di dalamnya,” tutur Reyhan.
Prestasi mahasiswa Prodi Arsitektur UNS ini menjadi bukti kepedulian mereka terhadap isu sosial di masyarakat. Capaian ini diharapkan mendorong mahasiswa lain untuk terus berkreasi dan aktif dalam kompetisi nasional.
Humas UNS


















