UNS — “Saat menjadi mahasiswa dulu, saya sering sekali berdemo.” Hal itulah yang dikatakan oleh Ikhlas Thamrin saat mengawali paparan pada Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta seri ke-102 pada Rabu (30/3/2022). Ikhlas mengaku bahwa dulu dia sering berdemo terutama tentang energi. Namun, usai menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum (FH) UNS pada 2005 lalu dia mengubah pola pikirnya.
“Saya ingat betul pernah berdemo di Jakarta untuk menolak kenaikan harga BBM. Namun, setelah lulus saya mulai berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk memberi solusi perihal energi,” ujarnya.
Sejak lulus, Ikhlas mengatakan bahwa dia mulai mencari solusi untuk energi di Indonesia. Menurut Ikhlas, energi di Indonesia saat ini rentan langka dan mahal karena masih belum menggunakan energi terbarukan. Belum lagi energi yang saat ini digunakan belum ramah lingkungan.
Ikhlas kemudian melakukan riset yang cukup lama terkait dengan hal ini. Sejak 2007, Ikhlas bersama timnya melakukan riset tentang energi. Pada 2015, dia kemudian membuat satu gerakan sosial sekaligus mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi. Hasil riset Ikhlas membuahkan sebuah solusi energi yang saat ini patennya sudah diberikan oleh International Certificate Testing Technology (ICTT).

Mahasiswa FH UNS angkatan 2001 ini menawarkan energi listrik berbasis pulsa. Dia menciptakan produk berupa kompor dan motor pulsa. Kompor dan motor listrik tersebut berbasis baterai dengan sistem pulsa token. Pengguna produk tersebut tidak perlu mencari stasiun pengisian listrik umum untuk mengisi daya produk jika baterai habis. Pengguna cukup mengisi pulsa token untuk menyalakan kompor dan motor.
Dua produk tersebut merupakan langkah awal yang Ikhlas lakukan untuk mewujudkan mimpinya dalam membangun ekosistem listrik di Indonesia pada 2030. Langkah lanjutan yang akan dilakukan alumnus yang kini menjadi Direktur Utama PT Baterai Freeneg Generasi yakni inovasi teknologi, kedaulatan manufaktur, dan digitalisasi sistem ekonomi.
Dengan melaksanakan ketiga fokus utama tersebut, Ikhlas berharap keinginannya membangun ekosistem listrik di Indonesia terwujud. Perubahan yang dia inginkan juga akan terwujud dengan hal itu.
“Saya masih ingat teori yang dulu disampaikan Pak Drajat. Kalau kita mau melakukan perubahan ada empat syarat yaitu nilai, social movement , hero, dan momentum. Jadi, empat syarat itu harus kita pegang jika kita pengin membuat perubahan. Syarat itu betul-betul saya catat saat itu dan berusaha saya laksanakan,” ungkap Ikhlas. Humas UNS
Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti



















