Analisis Karya Seni Rupa dengan Pendekatan Pragmatik Antarkan Prof. Slamet Raih Guru Besar UNS

Analisis Karya Seni Rupa dengan Pendekatan Pragmatik Antarkan Prof. Slamet Raih Guru Besar UNS

UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali mengukuhkan Guru Besar dalam bidang ilmu Pragmatik Seni Rupa. Beliau adalah Prof. Dr. Slamet Supriyadi, M.Pd. yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Prof. Slamet dikukuhkan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Rabu (12/2/2025) yang berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS.

Prof. Slamet, dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-92 FKIP dan ke-357 UNS. Pada pidato inagurasinya, beliau mengangkat judul “Pragmatik Sebagai Pendekatan Baru Dalam
Menganalisis Karya Seni Rupa”, yang didasari karena Ketika melihat kajian linguis cenderung hanya mengkaji segi wacana saja, sehingga kajian itu terasa hambar. Dengan kajian pragmatik bisa mengkaji segi non verbal dari satu bahasa, tidak hanya wacana saja.

Prof. Slamet dalam pidatonya menyampaikan bahwa sebagian besar linguis masih banyak yang berkutat pada pembahasan tentang bagaimana bahasa itu diteliti tentang kesalahan berbahasa, menganalisis struktur kalimat, yang secara umum mengarah kepada bahasa secara struktur bahasanya. Para ahli bahasa sering melupakan bahwa bahasa itu harus berkembang secara dinamis di tengah masyarakat. Pragmatik merupakan satu kajian bahasa yang mempelajari bagaimana bahasa itu digunakan oleh penutur dalam kehidupan sehari-hari, diluar struktur gramatikal bahasa.

“Pada pidato ini saya akan membatasi 3 pokok masalah, pragmatic sebagai pendekatan dalam menganalisis karya karikatur, pragmatic sebagai pendekatan dalam menganalisis karya seni ornamen ukir, dan pragmatic sebagai pendekatan dalam menganalisis seni batik tradisional. Pada saat menganalisis karya seni rupa, kita harus memperhatikan apa yang disebut ‘fenomena pragmatik’ yang terdiri atas inferensi, referensi, praanggapan, implikatur dan daya pragmatic. Selain itu juga kita selalu menghubungkan dengan konteks. Sebab Pragmatik sangat tergantung dengan konteks dan cenderung ke ‘speaker meaning’ sehingga karya seni rupa bisa dianalisis berdasarkan konteks terciptanya karya seni Rupa, implikaturnya dan daya pragmatiknya,” tutur Prof. Slamet.

Pragmatik juga bisa dimanfaatkan untuk sebagian besar ilmu yang berbeda, termasuk ilmu seni rupa. Karena ilmu pragmatik mampu mengungkap kode, simbol dan filosofi dalam seni rupa. Penelitian saya selama ini selalu saya kaitkan dengan pendekatan pragmatik dalam menganalisis karya seni rupa, misalnya karya seni rupa Karikatur, karya ornamen ukir, seni batik, dan seni lukis. Pragmatik merupakan studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya.

“Contoh penggunaan pragmatik dalam kajian seni rupa contohnya seperti pada karikatur yang fungsi utamanya kritik untuk perbaikan dan fungsi hiburan/humor. Contohnya karikatur ‘Pulangkan Saja Aku Pada Ibuku Atau Kakekku’ mengandung sindiran sehingga pembaca bisa tersentuh namun tetap kena kritikan yang diucapkan dalam konteks masa orde baru. Selanjutnya karya seni ukir motif kera. Makna implikatur motif Kera dan Burung sebagai simbol kebaikan dan ketamakan. Daya pragmatik motif Kera dan Burung, mempunyai daya pengaruh terhadap manusia supaya meniru filosofi burung, jangan meniru perilaku kera yang tamak. Terakhir karya seni batik, menganalisis seni rupa batik klasik, sangat dalam isi kandungan makna terciptanya motif batik tersebut. Maka kita analisis konteksnya, referensinya, implikaturnya dan daya pragmatik motif batik itu,” terang Prof. Slamet.

Kesimpulannya, pragmatik dapat diaplikasikan ke bidang ilmu lain. Misal, pragmatik hukum, pragmatik ekonomi dan juga untuk bidang seni khususnya seni rupa berupa karikatur, kartun, lukisan, periklanan bisa yang wacana verbal maupun non-verbal. Pada karya seni ornamen ukir, pragmatik berfungsi untuk membelajarkan masyarakat dalam menghayati makna yang terkandung pada ukiran. Berkaitan dengan seni batik tradisional, dengan corak motif legenda, pragmatik mampu menguak makna yang terkandung di dalam motif legenda tersebut.

Humas UNS