Bertepatan dengan Hari Jalan Nasional 2024, UNS Kukuhkan Guru Besar Ilmu Konstruksi Jalan

Bertepatan dengan Hari Jalan Nasional 2024, UNS Kukuhkan Guru Besar Ilmu Konstruksi Jalan

UNS – Bertepatan dengan Hari Jalan Nasional 2024 pada Jumat (20/12/2024), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengukuhkan guru besar baru dalam bidang ilmu Kepakaran Konstruksi Jalan. Beliau adalah Prof. Ir. Ary Setyawan, M.Sc., Ph.D. Pengukuhan ini menjadikan Prof. Ary sebagai Guru Besar ke-30 Fakultas Teknik (FT) dan ke-327 UNS.

Prof. Ary Setyawan adalah seorang Insinyur Sipil dengan masa berkarya lebih dari 33 tahun di bidang teknik sipil. Pengalamannya melibatkan keilmuan material jalan raya, infrastruktur, lingkungan, rehabilitasi, dan pemeliharaan jalan. Beliau turut berkontribusi dalam keterlibatannya pada Pusat Pengkajian Kebijakan Daerah dan Kelembagaan (PPKDK).

Prof. Ary Setyawan menjadi anggota Himpunan Pengembang Jalan Indonesia (HPJI) serta Himpunan Ahli Pemeliharaan Bangunan Gedung Indonesia (HAPBI). Gelar Sarjana Teknik Sipil UNS diraih Beliau pada 1991. Pada 1998, Beliau memperoleh gelar Master of Science Engineering di Institute for Transport Studies, Leeds University, United Kingdom. Serta pada 2003 memperoleh gelar Ph.D. dari Civil Engineering Department, Leeds University, United Kingdom.Sederet pengalaman akademik dan praktik itulah yang kini mengantarkan Prof. Ary Setyawan sebagai Guru Besar UNS dalam ilmu Kepakaran Konstruksi Jalan. Beliau dikukuhkan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram. Beliau yang juga sebagai Ketua Roadmate Research Group UNS, menyampaikan pidato inaugurasi dengan tajuk “Inovasi Teknologi unyuk Jalan Mantap Berkelanjutan”.

Dalam pidatonya, Prof. Ary Setyawan menyampaikan sejumlah inovasi yang telah Beliau kembangkan. Dalam memberikan solusi konstruksi jalan tahan beban berlebih, sejumlah inovasi dihadirkan seperti perkerasan semi lentur dan alat penimbang kendaraan yang sedang berjalan. Perkerasan semi fleksibel terdiri atas lapisan aspal berpori berukuran tunggal yang diletakkan dengan paver aspal tradisional. Perkerasan ini menghasilkan kombinasi kualitas seperti daya dukung statis yang tinggi, ketahanan aus, daya tahan, kemudahan lalu lintas, dan kemungkinan aplikasi pada semua sub-dasar padat.

Dalam inovasi lain, alat penimbang berat kendaraan yang sedang berjalan menggunakan serat optik yang merupakan salah satu jenis sensor Weight in Motion (WIM). Pengembangan terus dilakukan oleh Prof. Ary Setyawan untuk mengetahui kecepatan dan konfigurasi roda kendaraan. Hasil prototipe ini dinilai sudah siap diproduksi secara masal dan dapat diaplikasikan di seluruh ruas jalan di Indonesia.“Inovasi ini adalah membuat paduan antara jalan lentur dan beton yang saya sebut sebagai perkerasan semi lentur,” ujar Prof. Ary Setyawan.

Inovasi lain terkait inovasi konstruksi ramah lingkungan turut dikembangkan. Dalam memberikan solusi, sejumlah inovasi dihadirkan seperti aspal alami berbahan getah damar dengan nama Daspahlt serta penggunaan cangkang sawit sebagai pengganti bahan bakar diesel. Bioaspal dari getah damar dapat menjadi bahan aspal terbarukan untuk konstruksi jalan. Pembuatannya dengan memodifikasi jabung yang dicampur dengan puing bata merah giling dan minyak goreng berkualitas rendah.

Bioaspal ini pun mendapat perhatian dari Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono, M.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Suranto mengapresiasi usaha Prof. Ary Setyawan yang telah memanfaatkan kekayaan plasma nutfah yang ada. Damar sebagai tanaman asli Indonesia nyatanya dapat digunakan sebagai terobosan dalam produksi aspal.

“Satu yang menarik yaitu tentang bioaspal yang diciptakan dengan memanfaatkan kekayaan plasma nutfah yang kita punyai. Pesan saya, apa yang dikerjakan harus dilanjutkan dengan berbagai kolaborasi,” ucap Prof. Suranto.

Pada inovasi lain, cangkang sawit digunakan sebagai pengganti bahan bakar diesel untuk memanaskan agregat dan aspal dalam Aspal Mixing Plant (AMP). Gasifikasi bahan alam ini menjadi pilihan menarik karena dapat menghasilkan gas mempan bakar yang komponen utamanya adalah CO dan H2. Hasil penelitian Beliau menunjukkan bahwa gasifikasi 40-45Kg cangkang sawit dapat menghasilkan gas sebanyak 70-75Nm3 dengan nilai kalor bakar gas sebesar 5,50–5,80MJ/Nm3. Jumlah kalor tersebut dapat memanaskan agregat sampai suhu 145-160 derajat Celcius. Panasnya berguna untuk produksi 1 ton Hot-Mix Aspahlt (HMA), menurunkan emisi CO2 ekuivalen sebanyak 40% bila dibanding dengan penggunaan bahan bakar minyak. Penurunan emisi CO2 ini karena cangkang sawit sebagai biomassa dipandang bersifat carbon neutral.

Inovasi terakhir yang beliau sampaikan dalam pidato pengukuhannya adalah alat ukur maturitas beton menggunakan IoT. Pengembangan alat ini melalui riset UNS dalam program Kedaireka 2023 yang bekerja sama dengan PT Hutama Karya. Produk ini diharapkan dapat digunakan di semua proyek sebagai solusi pengujian untuk beton yang efektif secara metode dan efisien secara waktu dan biaya, serta mampu menjadi market leader untuk produk pengujian beton di Indonesia.

Dikukuhkannya Prof. Ary Setyawan yang bertepatan dengan Hari Jalan Nasional 2024 setiap 20 Desember ini menjadi sebuah momentum spesial. Hal ini berkaitan dengan bertambahnya pakar konstruksi jalan di Indonesia yang kali ini lahir dari UNS. Momentum ini diharapkan dapat memberi motivasi dalam berinovasi membangun dan mengelola jalan di Indonesia. Humas UNS