UNS – Festival Gebyar Memanen bersama Petani Cilik (GEMERICIK) menciptakan keseruan dalam mengenalkan pertanian tradisional. Area Wisata Embung Setumpeng, Ngampel, Gentungan, Mojogedang, Karanganyar menjadi lokasi festival. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang melibatkan kerja lintas kepakaran dan institusi pendidikan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh tim mahasiswa dan dosen Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) UNS serta Urban Rural Design & Conservation (URDC) Laboratorium. Mereka menyulap Rumah Tani di kawasan wisata Embung Setumpeng menjadi area pameran yang interaktif. Karya pada pameran merupakan hasil lintas kerja antar fakultas. Kolaborasi tersebut dilakukan bersama tim Kalimeja Exhibition – Delanggu serta Peer Group Pusat Studi Jepang (PSJ) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS.
Tujuan Festival GEMERICIK untuk mengenalkan pertanian tradisional kepada generasi muda, terutama anak-anak. Terdapat kegiatan mitigasi bencana melalui permainan dan pameran edukasi pertanian. Pembeda dari kegiatan ini adalah adanya series pameran poster edukasi, pemutaran video animasi, edukasi pertanian, dan instalasi bamboo di area Rumah Tani Mulyo. Festival ini juga mengajak tani cilik untuk mengikuti permainan tanggap bencana dengan sistem peringatan dini.



Festival GEMERICIK merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Bina Desa (PBD) 2024 yang mengangkat tema “Pengembangan Kawasan Eduwisata Terintegrasi dengan Pertanian dan Peternakan di Desa Gentungan, Karanganyar”. Program ini diketuai oleh Prof. Dr. Eng Syamsul Hadi, S.T., M.T., serta beranggotakan Dr. Eng. Kusumaningdyah Nurul Handayani, S.T., M.T., Dr. Ir. Emi Widiyanti Wianto, S.P., M.Si., dan Ari Prasetyo, S.T., M.T. UNS turut menggandeng Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan Pemerintah Desa Gentungan sebagai mitra kerja sama.
Wahana Pertanian yang Seru
Para peserta berasal dari SMPN 2 Mojogedang, SDN 1 Gentungan, SDN 2 Gentungan, SDN 3 Gentungan, serta Tani Cilik. Mereka diajak ke area persawahan guna melakukan praktik memanen secara langsung. Banyak praktik edukasi yang diberikan, seperti cara memotong padi serta cara kerja alat pemecah padi. Setelah memanen mereka memasuki zona pameran. Materi pertama yakni Pameran Kalimeja dari Delanggu berisi pengetahuan menanam padi. Materi kedua adalah video animasi menanam padi yang berada di instalasi ruang bambu. Materi ketiga berisi poster edukasi pertanian di Mojogedang.
Mereka berkesempatan memahami mengenai proses bertani khususnya mengenalkan varian Padi Rojolele dan memainkan figur tokoh-tokoh pertanian seperti Dewi Sri, Mbah Tanem, dan lain-lain. Mereka juga menonton video animasi pertanian di dalam struktur bambu yang berbentuk lingkaran dan dikelilingi oleh jerami padi. Wahana ini didesain oleh arsitek profesional Sony Indrawan dari Draw Workroom. Struktur bambu tersebut menggunakan pendekatan eco-design sehingga dibuat tanpa menggunakan paku. Selain itu, peserta juga bisa memainkan puzzle clip yang mencocokan gambar dengan tulisan.
Transfer Beragam Pengetahuan
Pameran ini mengenalkan pertanian organik dan pertanian tradisional, pariwisata di Embung Setumpeng, manajemen air pada pertanian, mitigasi bencana pada area pertanian, dan penjelasan komunitas tani di Mojogedang.
Materi permainan interaktif mitigasi bencana menjadi upaya pembeda dalam kegiatan Festival GEMERICIK. Sebanyak 200 pelajar melakukan permainan interaktif. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak terhadap potensi bencana alam seperti gempa dan tanah longsor yang umumnya terjadi di daerah pertanian. Bentuk permainan ini berupa simulasi menggunakan ular tangga, twister, dan shuffle card. Tiap permainan mengandung informasi edukasi pertanian, peringatan dini terhadap gempa dan tanah longsor. Permainan ini dirancang dengan level deteksi bahaya dan level siaga bencana
“Konten dan peralatan permainan edukasi mitigasi bencana ini dikembangkan merujuk pada referensi desain Iza Kaeru Caravan yang dikembangkan oleh NPO Art Plus, Kobe Jepang. Bagaimana informasi dikemas secara grafik menarik “kawai bunka”. Melalui supervisi desain bersama Tissa Florika, seorang profesional ilustrasi desain yang pernah magang di NPO Art Plus, peralatan permainan games ini dikembangkan bersama-sama,” terang Ketua Panitia Festival GEMERICIK, Dr. Eng Kusumaningdyah.
Cerita dari Mahasiswa Rotterdam University
Rangkaian kegiatan festival GEMERICIK ini ditutup dengan acara diskusi bersama dengan petani lokal. Pleun De Vries, mahasiswa magang di URDC Laboratorium Prodi Arsitektur UNS yang berasal Program Water Management- Rotterdam University, Belanda berbagi pengalaman terkait dengan pertanian dan pengelolaan air di Belanda. Ia menilai tanah Indonesia lebih subur. Kehadirannya secara langsung di Mojogedang memberinya bukti secara langsung. Tidak ada masalah kekeringan dan hujan ekstrem membuat tanaman tumbuh subur tanpa bantuan teknologi tambahan seperti yang ia lakukan di Belanda.
“Tentu saja tanah di Indonesia lebih subur. Tanaman bisa tumbuh subur tanpa harus menggunakan teknologi tambahan sehingga bisa lebih hemat. Oleh karena itu kalian harus berbangga hati dengan keadaan ini,” ujar Dr. Eng Kusumaningdyah.
Humas UNS



















