UNS – Grup Riset Material Maju Program Studi (Prodi) Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Material Maju dengan judul ‘Pengembangan Energi Alternatif Biogas dari Sampah Organik di Desa Wonorejo Polokarto Sukoharjo’.
Kegiatan ini menjadi platform bagi para pemangku kepentingan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan wawasan tentang pengolahan sampah organik. Kegiatan pengabdian ditandai dengan serah terima instalasi alat biogas kepada masyarakat sekitar pada Senin (21/10/2024) di Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.
Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Desa (Kades) Wonorejo, Yusuf Aziz Rahma dan perangkat desa terkait. Adapun dari FMIPA UNS turut hadir Dr. Eng. Risa Suryana, M.Si., Dr. Eng. Kusumandari, M.Si., Prof. Dr. Eng. Hendri Widiyandari, M.Si., Khairuddin, S.Si, M.Phil, Ph.D. dan Teknisi Biogas, M. Sahid Praptomo, S.Si.
Tahapan pengabdian dimulai beberapa bulan yang lalu dengan anjangsana dan survey lokasi tempat instalasi biogas. Pada kesempatan tersebut tim Grup Riset bertemu dengan Kades Wonorejo, Yusuf Aziz Rahma yang didampingi oleh beberapa perangkat desa untuk melakukan diskusi seputar biogas dan lokasi tempat instalasi reaktor biogas yang cocok. Hal ini dikarenakan lokasi yang dipilih harus cukup luas sehingga potensi supply limbah organik selain sampah masyarakat akan mudah terpenuhi.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat disambut dengan sangat antusias oleh pihak desa maupun masyarakat pengguna. Biodigester atau reaktor biogas merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan proses biologis dimana bahan organik oleh mikroorganisme anaerobik terurai dalam ketiadaan oksigen terlarut (kondisi anaerob). Hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah padatan, menghasilkan energi dalam bentuk biogas, mengurangi bau kotoran, menghasilkan air buangan yang bersih, dan menghasilkan padatan yang mengandung bahan gizi untuk pupuk.

Biodigester harus dirancang sedemikian rupa sehingga proses fermentasi anaerob dapat berjalan baik. Tahapan selanjutnya adalah pengisian reaktor dengan starter kotoran hewan (kohe) sapi yang dicampur air dengan perbandingan 1:1. Untuk selanjutnya reaktor biogas dapat diisi dengan limbah organik seperti limbah sayur, buah dan sisa sampah dapur. Menurut teknisi biogas M. Sahid Praptomo, S.Si., biogas dapat terbentuk pada 4 – 5 hari setelah reaktor diisi dan umumnya mencapai maksimum pada 20 – 25 hari .
“Proses pembentukan biogas melibatkan serangkaian tahapan dimana bahan organik dipecah secara bertahap menjadi unit-unit yang lebih kecil, dengan setiap tahapan memerlukan keterlibatan mikroorganisme tertentu. Mikroorganisme ini secara berurutan menguraikan produk dari tahapan sebelumnya,” terang Sahid Praptomo.
Dari hasil ujicoba fungsi biogas untuk menyalakan kompor, didapati api yang terbentuk cukup stabil dengan warna biru. Hal ini menunjukkan bahwa biogas yang dihasilkan cukup bagus. Begitupun ketika dicoba untuk memasak air, api dari biogas mampu mendidihkan 1,5 liter air dalam waktu kurang lebih 10 menit. Dari uji fungsi ini dapat disimpulkan bahwa pembuatan biogas dari sampah organik sudah berhasil dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dengan mengembangkan biogas dari sampah organik, dapat berkontribusi pada beberapa target dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 7 yaitu Energi Bersih dan Terjangkau. Biogas sebagai sumber energi terbarukan dapat membantu meningkatkan akses terhadap energi bersih. Kemudian berkaitan juga dengan SDGs 11 Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, yaitu pengelolaan sampah organik dengan cara ini berkontribusi pada pengurangan limbah di lingkungan perkotaan. Lalu SDGs 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yaitu memperkuat praktik pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya secara efisien dan SDGs 13 Penanganan Perubahan Iklim, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pengolahan sampah organik menjadi biogas. HUMAS UNS



















