FT UNS Miliki Guru Besar Bidang Manajemen Proyek

FT UNS Miliki Guru Besar Bidang Manajemen Proyek

UNSFakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta miliki Guru Besar Baru bidang Manajemen Proyek. Beliau adalah Prof. Dr. Ir. Retno Wulan Damayanti, S.T., M.T. yang dikukuhkan oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si. di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Rabu (12/2/2025) lalu.

Prof. Retno Wulan Damayanti dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-40 pada FT dan ke-360 UNS. Dalam pengukuhannya, Prof. Retno Wulan Damayanti menyampaikan pidato inaugurasi berjudul “Harmonisasi Manusia dan Teknologi Untuk Manajemen Proyek yang Berkelanjutan”. Judul ini dipilih sebagai refleksi terhadap tantangan multidimensi yang dihadapi dalam mengintegrasikan teknologi dengan aktivitas manusia secara berkelanjutan.

Dalam pidatonya, Prof. Retno Wulan Damayanti menyampaikan bahwa perjalanan peradaban manusia telah menunjukkan bagaimana hasrat untuk melampaui batasan mendorong terciptanya inovasi teknologi yang mengubah cara pengelolaan proyek-proyek besar. Hal ini terlihat dari perbandingan pembangunan Monas yang membutuhkan waktu 14 tahun (1961-1975) dengan Thamrin Nine Tower 1 Jakarta yang hanya memerlukan 4 tahun (2017-2021). Dalam bidang antariksa, SpaceX telah mengembangkan teknologi roket yang dapat digunakan kembali, membuktikan bahwa imajinasi manusia dapat menjadi kenyataan melalui inovasi teknologi.
Kompleksitas dalam manajemen proyek modern terdiri dari tiga aspek utama, struktural, sosial, dan emergent. Kompleksitas struktural berkaitan dengan tantangan teknis dan organisasi proyek, seperti yang terlihat dalam pembangunan Green Building Pertamina Energy Tower yang mengintegrasikan berbagai teknologi berkelanjutan. Kompleksitas sosial menyangkut aspek manusia dan pemangku kepentingan, seperti dalam proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang melibatkan tantangan relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) dan negosiasi dengan pemilik lahan. Sementara kompleksitas emergent berkaitan dengan dinamika perubahan sistem, seperti yang terjadi dalam pengembangan kawasan industri 4.0 di Batam.

“Untuk menghadapi ketiga kompleksitas tersebut, manajer proyek perlu memiliki tiga kompetensi utama. Diantaranya kompetensi teknikal untuk menangani kompleksitas structural. Lalu kompetensi emosional-sosial untuk mengelola kompleksitas sosial, dan kompetensi adaptif untuk mengatasi perubahan dan ketidakpastian proyek. Ketiga kompetensi ini harus bersinergi untuk mengoptimalkan keberhasilan proyek,” ujar Prof. Retno Wulan Damayanti.

Sebuah pengalaman dalam manajemen proyek yang berupaya mewujudkan harmonisasi teknologi dan manusia antara lain pilot project konversi kompor gas LPG ke kompor induksi di Indonesia, khususnya di Surakarta pada tahun 2022. Program ini merupakan bagian dari upaya pencapaian SDG-7 (energi bersih dan terjangkau) serta upaya pemerintah mengurangi beban subsidi liquefied petroleum gas (LPG) 3kg.

Proyek menghadapi kompleksitas struktural (validasi data, timeline), sosial (resistensi, adaptasi), dan emergent (kebijakan, pendanaan). Manajer proyek mengatasi dengan pendekatan teknikal, sosial-emosional, dan adaptif melalui koordinasi intensif, pendekatan socio-humanis, dan penyesuaian strategi. Riset lanjutan untuk proyek ini berhasil mengidentifikasi 9 faktor pendukung keberlanjutan program, yaitu kebijakan, persepsi masyarakat, biaya, peluang bisnis, infrastruktur, kompetensi tim program, pendukung masyarakat pasca instalasi, manajemen kinerja tim, dan manajemen keuangan program.

Kesimpulannya, manajemen proyek modern membutuhkan pendekatan holistik yang mengharmonisasikan kemajuan teknologi dengan kepentingan manusia dan lingkungan. Keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari pencapaian target konvensional, tetapi juga dari dampak positif jangka panjang bagi alam dan manusia. Para pemimpin proyek dituntut untuk memiliki visi yang melampaui indikator kinerja standar, menghadirkan warisan bermakna melalui orkestrasi bijak antara daya cipta teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. 

HUMAS UNS