Berita TerkiniMahasiswa UNS

Gantikan Bleng, Mahasiswa UNS Buat Pengenyal Kerupuk dari Kulit Jeruk

By 24 March 2019 No Comments

UNS –  Sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) membuat inovasi pengenyal adonan dari kulit jeruk Pamelo sebagai pengganti penggunaan bleng dalam pembuatan Kerupuk Gendar. Mereka adalah Dwi Wahyuningrum (D3 Teknologi Hasil Pertanian 2017), Irfina Widya Istiqomah (Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian 2017) dan Arifah Eviyanti (D3 Agribisnis).

Dwi membuat kulit jeruk Pamelo sebagai pengenyal dengan cara mengambil kulit jeruk bagian dalam yang bertekstur seperti gabus (Albedo) lalu dikeringkan dan diekstrak dengan menggunakan pelarut Asam Sitrat sebanyak 5 persen. Kemudian dicuci dengan Etanol 70 persen dan 96 persen.

“Dalam kulit jeruk Pamelo bagian dalam terdapat senyawa bernama Pektin yang dapat digunakan sebagai pengenyal kerupuk. Pektin adalah senyawa karbohidrat kompleks yang terdapat pada dinding sel tumbuhan yang sifatnya dapat menyerap air sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengental,” terang Dwi kepada redaksi pada Jumat (23/03/2019).

Dwi menjelaskan pembuatan pektin kulit jeruk Pamelo ini ditujukan sebagai pengganti pemakaian bleng di industri kerupuk. Bleng biasanya digunakan untuk mengembangkan dan mengenyalkan adonan. Bahan kimia ini sebenarnya tidak boleh dikonsumsi dalam waktu panjang dan dengan dosis berlebihan karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal hingga kematian.

Karena itu, dia bersama rekan-rekannya berinisiatif untuk memanfaatkan potensi jeruk Pamelo yang belum termanfaatkan. Mereka mendapatkan Jeruk Pamelo atau Bali Merah dari Magetan, yang memang sudah dikenal sebagai produk unggulan kota tersebut.

“Penggunaan pektin kulit jeruk Pamelo selain lebih aman, biaya yang dikeluarkan bisa bersaing dengan produk kerupuk dengan bleng. Kalau dihitung, 80 gr kerupuk siap makan harganya Rp 3.400. Tapi kalau kerupuk Gamalo dengan berat yang sama, harganya Rp 3.000,” ungkapnya.

Penentuan harga itu tentu sudah dengan perhitungan keuntungannya bagi produsen. Karena pengenyalnya berasal dari pemanfaatan limbah yang belum termanfaatkan, itu dapat menekan biaya produksi.

Di samping itu, Dwi menambahkan kerupuk yang menggunakan kulit jeruk Pamelo bisa bertahan sampai 2 bulan dengan penyimpan yang baik. Tekstur yang didapat pun sama dengan kerupuk gendar biasanya.

Dia lanjut berharap inovasi mereka dapat diteruskan ke ranah yang lebih luas dan bisa bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Magetan untuk mendukung dan membantu mempromosikan penemuan ini kepada masyarakat. “Kami berencana untuk bekerjasama dengan kelompok usaha seperti UMKM di Magetan,” tutur Dwi.

Sejauh ini, Dwi mengaku pengenyal dari kulit jeruk Pamelo ini baru sebatas  dilombakan di kompetisi inovasi tingkat nasional. Terakhir, penemuan mereka itu berhasil menyabet juara ketiga di ajang “Kalijaga Innovation and Research Competition 4” yang diadakan oleh Forum Kajian Islam dan Sains Teknologi (FKIST) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Yogya) pada awal Maret lalu. Mereka menyisihkan 84 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. HUMAS UNS/MIA

Leave a Reply