Kenalkan Budaya, UNS dan UNAIR Gelar Indonesian Heritage Course yang Pertama Kali

UNS – Dalam rangka memperkenalkan budaya Indonesia, UNS (Universitas Sebelas Maret) Surakarta dan UNAIR (Universitas Airlangga) bekerjasama mengadakan program IN-HERIT (Indonesian Heritage Course) 2018 pada (2-15/7/2018) untuk para mahasiswa asing. Mereka diajarkan untuk mengenal jamu dan batik melalui kursus singkat (short course) selama dua minggu di dua kota yaitu Surabaya dan Surakarta.

Kegiatan ini diikuti oleh 14 mahasiswa dari berbagai negara, sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa asing dari UNS dan UNAIR serta beberapa mahasiswa dari beberapa universitas di kota Surabaya. Empat belas mahasiswa tersebut antara lain Fiorella Geraldine (Peru), Seheno Arson Dolly (Madagascar), Li Wen Lin (China), Maria Madalena De Jeus Soares (Timor Leste), Rokayah Luebaesa (Thailand), Kuhafessah Rongso (Thailand), Khaled Nour Aldeen (Syria), Muhammet Hudayberdiyev (Turkmenistan), Azad Hind Gulshan Nanda (India), Burwan Tilusubya (Tanzania), Silas O. Emovwodo (Nigeria), Takanobu Shiina (Jepang), Cuthberth N. Mlosa (Tanzania), dan Robbert Trice (Amerika serikat).

Di agenda kedua, yakni pada acara yang diadakan di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) UNS ini, mereka diajak untuk mengenal lebih jauh kearifan lokal Indonesia, nilai-nilai serta filosofi batik secara mendalam. Untuk lebih mendalami ragam batik, mereka juga berkunjung ke museum Danarhadi, pengrajin batik abstrak Pandono, serta menginap semalam di Desa Pilang, Sragen untuk melihat keunikan proses pembuatan batik yang masih sangat tradisional.

“Kegiatan IN-HERIT ini adalah yang pertama kalinya. Dalam kegiatan ini kita ingin mengenalkan budaya lokal yang ada di Indonesia, yang salah satunya di Solo yaitu batik. Kita berharap nantinya kalau mereka pulang ke negaranya mereka akan campaign tentang skill dan juga pengetahuan tentang batik yang sudah mereka pelajari di sini,” ungkap Taufik Al Makmun, Kepala Internasional Office UNS.

Mereka para mahasiswa asing yang mengikuti kegiatan ini juga nantinya akan mendapatkan 4 kredit semester di perkuliahan mereka.

“Jadi mahasiswa yang ikut dalam kegiatan ini juga nantinya akan mendapatkan 4 sks kredit, dimana 2 dari UNS dan yang sisanya lagi dari UNAIR,” imbuhnya.

Selain pemahaman mengenai batik para peserta juga belajar untuk membuat batik karya mereka sendiri yang nantinya akan ditampilkan dalam sebuah mini-exhibition di akhir kegiatan.

“Sebenarnya saya sangat kesulitan untuk membatik di atas kain, tapi setelah saya menggambar pola terlebih dahulu, ternyata  jadi semakin mudah. Saya sekarang mengerti mengapa harga batik terkadang mahal, karena prosesnya sangat sulit dan filosofis. Ini merupakan pertama kalinya saya tau tentang batik, jadi saya berharap akan ada acara seperti ini lagi,” tutur Khaled, mahasiswa asal Suriah dari UNAIR.

Sebelumnya, di agenda pertama mereka sudah melakukan beberapa agenda kegiatan di Universitas Airlangga berupa short course tentang pembuatan jamu-jamu tradisional asli Indonesia seperti halnya beras kencur, kunyit asam dan wedang pokak. Selain itu mereka juga mempelajari teknik pijat tradisional Jawa dan Bali serta belajar meramu sendiri perlengkapan pijat seperti lulur dari bahan-bahan alami bersama dengan praktisi profesional.

“Kemarin kita juga mengajak mereka ke Bromo, sebenarnya kita ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan hanya tentang Bali, Jakarta atau tempat-tempat yang sudah terkenal lainnya. Namun, juga banyak daerah lain yang bagus dan punya keunikannya masing-masing,” ungkap Dian Ekowati, direktur deputi eksekutif Universitas Airlangga.

“Kita juga berharap kerjasama ini bisa membantu menjaga budaya Indonesia, karena kecenderungan anak muda sendiri lebih ke budaya barat, padahal budaya kita sendiri sangatlah kaya,” tutupnya. Humas-red.uns/Ysp/Isn

By | 2018-07-09T22:18:03+00:00 July 9th, 2018|Categories: Berita Terkini|