Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd., menekankan tanggung jawab moral dan intelektual profesor di ruang publik. Melalui workshop penulisan opini, diharapkan profesor dapat mencerahkan masyarakat, memperkuat nalar kritis, dan menawarkan pandangan jernih atas persoalan bangsa.
UNS — Ketua Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd. menegaskan bahwa Guru Besar memiliki peran strategis yang tidak hanya terbatas pada dunia akademik, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral dan intelektual di ruang publik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Profesor UNS, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd. saat memberikan sambutan dalam acara Workshop Penulisan Opini yang diselenggarankan Dewan Profesor UNS di UNS Inn, Rabu (20/5/2026).
“Workshop penulisan opini ini memiliki makna yang sangat penting bagi Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret. Profesor tidak hanya memiliki tanggung jawab akademik dalam bidang pendidikan, penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk hadir di ruang publik,” terang Prof. Joko dihadapan paea Guru Besar UNS.
Lanjutnya, kehadiran profesor di ruang publik diperlukan untuk memberikan pencerahan, memperkuat nalar kritis masyarakat, serta menawarkan pandangan yang jernih terhadap berbagai persoalan bangsa. Dalam posisi ini, profesor tidak cukup hanya berbicara di ruang kuliah, forum ilmiah, atau jurnal akademik. Profesor juga perlu hadir dalam percakapan publik yang lebih luas, termasuk melalui media massa.
“Saat ini, ruang publik kita dipenuhi arus informasi yang sangat cepat, beragam, dan tidak jarang membingungkan. Media sosial, media daring, dan berbagai kanal komunikasi publik telah membuat setiap orang dapat menyampaikan pendapat dengan mudah. Namun, kemudahan itu tidak selalu diikuti oleh kedalaman berpikir, ketepatan data, kejernihan argumentasi, dan tanggung jawab etis,” imbuhnya.
Di sinilah kaum akademisi, khususnya para profesor, perlu mengambil peran. Akademisi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan suara yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, data, pengalaman, refleksi kritis, dan kepekaan moral. Ruang publik memerlukan pandangan yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepat; tidak hanya menarik, tetapi juga mencerahkan; tidak hanya populer, tetapi juga bertanggung jawab.



Opini yang ditulis oleh akademisi bukan sekadar tulisan populer. Opini merupakan bentuk tanggung jawab keilmuan. Melalui opini, gagasan akademik dapat diterjemahkan ke dalam bahasa publik yang lebih komunikatif. Melalui opini, hasil pemikiran dan penelitian dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Melalui opini pula, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran publik, mengawal kebijakan, dan memperkuat peradaban bangsa.
“Penulisan opini merupakan salah satu jalan bagi akademisi untuk menjalankan fungsi pencerahan publik. Ketika seorang profesor menulis opini, sesungguhnya ia sedang memperluas manfaat keilmuannya bagi masyarakat,” ujar Prof. Joko.
Ia menyampaikan bahwa kemampuan menulis artikel ilmiah tidak selalu otomatis sama dengan kemampuan menulis opini di media massa. Menurutnya, artikel ilmiah menuntut ketelitian metodologis dan kedalaman akademik, sedangkan tulisan opini menuntut kejernihan sikap, kekuatan argumentasi, ketajaman sudut pandang, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara ringkas, menarik, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Ia juga menambahkan bahwa tulisan opini menuntut kepekaan terhadap isu-isu aktual. Penulis opini harus mampu membaca persoalan publik, memilih sudut pandang yang relevan, menyusun argumen yang kuat, dan menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang hidup, jernih, dan komunikatif. Ia menegaskan bahwa di sinilah letak tantangannya, karena gagasan akademik yang sangat penting belum tentu mudah dipahami oleh publik apabila tidak dikemas dalam bahasa yang tepat.
“Oleh karena itu, workshop ini menjadi penting.
Kegiatan ini diharapkan dapat membantu para peserta memahami cara memilih isu yang relevan, merumuskan sudut pandang yang kuat, membangun argumentasi yang meyakinkan, menggunakan bahasa yang efektif, serta menyesuaikan tulisan dengan karakteristik media massa,” lanjutnya.
Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan tersebut yaitu Guru Besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Prof. Dr. K.H. Fathorrahman Ghufron; Sekretaris UNS, Prof. Dr. Agus Riwanto, S.H., S.Ag., M.Ag., M.H.; dan Project Manager Solopos, Shoqib Angriawan. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa peran guru besar di ruang publik menurut Ketua Dewan Profesor UNS?
Guru besar memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk hadir di ruang publik guna memberikan pencerahan, memperkuat nalar kritis, dan menawarkan pandangan jernih terhadap berbagai persoalan bangsa. Lihat di artikel
Mengapa kehadiran profesor di ruang publik penting di era informasi saat ini?
Kehadiran profesor di ruang publik penting untuk memberikan suara yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, data, dan refleksi kritis, menawarkan pandangan yang tidak hanya cepat tetapi juga tepat dan mencerahkan. Lihat di artikel
Bagaimana opini yang ditulis oleh akademisi berkontribusi bagi masyarakat?
Opini akademisi menerjemahkan gagasan akademik ke bahasa publik yang komunikatif, menjangkau masyarakat luas, membangun kesadaran publik, mengawal kebijakan, dan memperkuat peradaban bangsa.
Apa perbedaan mendasar antara artikel ilmiah dan tulisan opini?
Artikel ilmiah menuntut ketelitian metodologis dan kedalaman akademik, sedangkan tulisan opini menuntut kejernihan sikap, kekuatan argumentasi, ketajaman sudut pandang, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara ringkas dan mudah dipahami.



















