UNS – Prof. Dr. Senot Sangadji, S.T., M.T., dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Bidang Keilmuan Kinerja Struktur di Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Prof. Senot dikukuhkan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si., dalam Sidang Terbuka Senat Akademik pada Rabu (12/2/2025). Prosesi tersebut berlangsung di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS.
Kepala Laboratorium Struktur Program Studi (Prodi) Teknik Sipil UNS, Prof. Senot dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-37 FT dan ke-353 UNS. Pada pidato inaugurasinya, beliau mengangkat judul “Hidup Berdampingan dengan Gempa bumi: Menakar Kinerja (Performance) dan Kerapuhan (Kerapuhan (fragility)) Infrastruktur, Mereduksi Risiko Bencana Gempa.” Penelitian tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh.
Prof. Senot dalam pidato inaugurasinya menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dari segi risiko gempa bumi. Hal itu disebabkan karena berada di kawasan cincin api Pasifik. Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya, ratusan hingga ribuan gempa bumi kecil hingga besar terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, Prof. Senot mengembangkan konsep untuk hidup berdampingan dengan gempa dan menjadikan kesiapsiagaan gempa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dengan memahami dan memitigasi risiko gempa
“Gempa dapat menimbulkan korban jiwa, kerusakan ekonomi besar, merusak infrastruktur, dan memicu bencana lanjutan seperti tsunami dan tanah longsor. Oleh karena itu, mitigasi risiko, seperti pembangunan gedung tahan gempa, edukasi kebencanaan, dan sistem peringatan dini, menjadi langkah krusial dalam mengurangi dampak gempa,” tutur Prof. Senot.
Rekayasa Gempa Bumi Berbasis Kinerja atau Performance-Based Earthquake Engineering (PBEE) merupakan pendekatan modern dalam perancangan struktur yang menekankan pada kinerja bangunan saat menghadapi gempa. Yaitu dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan, dampak ekonomi, dan keberlanjutan fungsi pasca-bencana. Meskipun menghadapi tantangan seperti biaya tinggi dan kompleksitas analisis, PBEE tetap menjadi solusi inovatif dalam membangun infrastruktur tahan gempa, dengan potensi besar untuk meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan jika didukung oleh regulasi dan kesadaran yang lebih luas.
“Berbeda dari metode konvensional, PBEE menggunakan analisis probabilistik, skenario multi-level, dan pemantauan real-time untuk menghasilkan desain yang lebih adaptif dan efisien. Pendekatan ini telah diterapkan dalam proyek-proyek besar seperti retrofit Jembatan Golden Gate dan rekonstruksi Pelabuhan Kobe,” terang Prof. Senot.
Gempa bumi sering kali memberikan dampak paling besar pada bangunan hunian sederhana yang dirancang tanpa pertimbangan teknis. Menakar risiko gempa bumi adalah langkah krusial dalam mitigasi bencana untuk meminimalkan dampaknya terhadap manusia, lingkungan, dan infrastruktur. Strategi praktis yang dapat dilakukan untuk mereduksi risiko ini seperti pemilihan lokasi yang aman, desain bangunan yang simetris dan stabil, penggunaan material yang tepat, teknik konstruksi yang aman, perkuatan bangunan eksisting, perabotan dan tata letak interior, serta edukasi dan latihan untuk keluarga.
“Strategi mitigasi dan kesiapan menghadapi gempa bumi mencakup langkah-langkah proaktif untuk mengurangi risiko serta upaya responsif dalam menghadapi bencana. Mitigasi melibatkan penerapan standar desain bangunan tahan gempa, penguatan bangunan lama (retrofit), serta regulasi yang ketat untuk memastikan konstruksi yang aman. Sementara itu, kesiapan meliputi edukasi masyarakat, simulasi bencana, serta pengembangan sistem peringatan dini. Dengan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, strategi ini dapat mengurangi dampak gempa serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana,” pungkas Prof. Senot.
Prof. Senot mengungkapkan pentingnya peran masyarakat dalam mitigasi risiko gempa bumi untuk menciptakan lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat juga diperlukan dalam penerapan regulasi serta penguatan infrastruktur. Program sosialisasi, seperti pelatihan teknis bagi pelaku jasa konstruksi tentang standar bangunan tahan gempa, membantu meningkatkan kesadaran dan kesiapan individu serta komunitas, seperti edukasi tentang risiko, persiapan darurat, dan pembentukan kelompok tanggap bencana. Dengan keterlibatan aktif semua pihak, mitigasi risiko dapat dilakukan secara efektif, sehingga mengurangi potensi kerugian dan meningkatkan ketahanan sosial terhadap gempa bumi.
Humas UNS
Reporter: Dikky Yudi Pradana
Redaktur: Dwi Hastuti



















