SOLO – Gelar kolosal Reog Ponorogo meriahkan Dies Natalis Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang ke-37 pada Minggu (10/3/2013) di halaman Gedung Rektorat kampus setempat. Gelaran bertajuk “50 Reog Ponorogo untuk Indonesia” ini mengisahkan perjuangan Prabu Klonosewandono yang hendak memboyong Putri Songgolangit ke Wengker, atau kini yang dikenal dengan nama Ponorogo.
Keinginan sang prabu tidaklah mudah untuk diwujudkan. Dalam perjalanannya di Hutan Lodoyo Blitar, ia dihadang oleh Singobarong yang ingin membantu sang putri. Putri Songgolangit rupanya tidak ingin diboyong ke Wengker oleh Prabu Klonosewandono. Tak putus asa dihadang masalah, sang prabu akhirnya dapat melumpuhkan barisan Singobarong menggunakan pecut Samandiman milik Sunan Lawu. Kekalaham para Singobarong membuat burung merak merasa iba dan ia pun hinggap di atas kepala Singobarong. Demikian pula dengan Putri Songgolangit, ia akhirnya mau diboyong dengan syarat dibuatkan kesenian yang belum pernah ada di muka bumi. Dari sanalah kesenian Reog Ponorogo lahir, yaitu gabungan dari singa dan burung merak.
Dalam perjuangan Prabu Klonosewandono yang hendak menggapai cita-citanya sering kali ditemui halangan maupun ancaman. Namun, semua masalah ini dapat dilewati apabila berjuang dengan keteguhan hati. “Kisah ini pula menggambarkan perjuangan UNS dalam menjadi World Class University. Banyak halangan dan ancaman yang akan menghadang. Dan untuk menghadapi ini semua diperlukan sebuah keteguhan hati,” ungkap Kepala Institut Javanologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS Sahid Teguh Widodo saat dijumpai di sela-sela acara.
Ia pun mengungkapkan bahwa pengangkatan kesenian tradisi ini karena Reog Ponorogo itu seni yang merakyat. “Ia adalah seni rakyat yang hadir di tengah-tengah masyarakat, yang memiliki nilai-nilai solidaritas, nilai guyub, dan persatuan. Selain itu, reog adalah seni yang meriah, sehingga tepat untuk memeriahkan Dies Natalis UNS dan menjadi objek wisata,” tegasnya.
Kemeriahan gelar kolosal Reog Ponorogo ini pun sukses menarik perhatian masyarakat Solo. Kesuksesan ini tak lepas dari peran 250 seniman-seniwati yang tergabung dalam 42 grup Reog Ponorogo dari Wonogiri, Ponorogo, Sukaharjo, dan Solo. Dari kesemuanya, mereka pun terbagi ke dalam peran masing-masing. Ketua Panitia, Dyah Pradnya S. Paramita menuturkan, terdapat 40 buah dhadhak merak, 10 pemain jathil, 8 pemain klono, 2 pemain ganong, 20 orang warok, 5 penari bedaya, 1 buah payung agung, dan 100 orang pangombyong dalam gelaran kali ini.
Adanya kegiatan kesenian inipun diapresiasi oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS. “Saya memberikan apresiasi kepada semuanya yang komitmen menggelar aktivitas ini, dan ke depan akan jadi event tahunan. Karena UNS sendiri juga berkomitmen untuk nguri-nguri budaya Jawa,” kata Ravik. Pagelaran ini menjadi wujud nyata, keikutsertaan UNS sebagai garda depan pengembangan seni budaya tradisi yang unggul dan tersebar di pelosok negeri. Tidak hanya memberikan ruang dan kesempatan bagi kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo untuk berkiprah, melainkan juga untuk meningkatkan kecintaan dan nilai-nilai luhur budaya tradisional, yaitu dengan cara lebih membumikan kesenian Reog Ponorogo kepada masyarakat secara umum.[]


















