UNS – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali mengirimkan 24 mahasiswa untuk mengikuti Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional melalui Program South-East Asia (SEA) Teacher Batch 10. Di bawah naungan South-East Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO), 24 mahasiswa FKIP UNS melakukan kegiatan pengajaran di sekolah-sekolah Asia Tenggara selama satu bulan yaitu pada November 2024.
Khoirul Nur Adhi, salah satu mahasiswa yang mengikuti PLP Internasional, menjelaskan bahwa terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan agar bisa mengikuti program tersebut. “Salah satu syarat mengikuti SEA Teacher ini adalah mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah microteaching. Terdapat pula beberapa tahapan seleksi seperti seleksi administrasi dan wawancara,” terang Khoirul, Selasa (17/12/2024).
Seleksi administrasi yang harus diikuti meliputi screening transkrip nilai, english proficiency test (EPT), dan pengiriman video microteaching dengan bahasa Inggris. Sedangkan tahap wawancara berbahasa Inggris dilakukan secara luring bersama interviewer. Mahasiswa yang dinyatakan layak akan ditempatkan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah Asia Tenggara. Sebanyak 24 partisipan dari FKIP UNS ditempatkan di 8 universitas yang ada di Thailand dan Filipina seperti, Thepsatri Rajabhat University (TRU), Udon Thani Rajabhat University (UDRU), University of Santo Tomas (UST), Saint Louis University (SLU), Nueva Ecija University of Science and Technology (NEUST), Cavite State University (CvSU), Iloilo Science and Technology University (ISATU), dan University of Northern Philippines (UNP).



“Setelah mendapatkan sekolah penempatan, kami mempersiapkan dokumen-dokumen keberangkatan seperti paspor, asuransi kesehatan, surat tugas dan surat perintah perjalanan dinas dari FKIP. Untuk dokumen pra-keberangkatan seperti paspor dan asuransi kesehatan, biaya ditanggung sendiri. Namun kami diberi uang saku dan juga akomodasi untuk transportasi dari Solo ke Jakarta hingga Filipina maupun Thailand,” tambah Khoirul.
Khoirul turut menyampaikan bahwa dirinya amat berkesan dengan kesempatan untuk mengikuti PLP Internasional ini. Dirinya mengaku banyak mendapat insight baru dari program tersebut. “PLP Internasional ini sangat memberikan kesan kepada saya, keseluruhan proses dan perjalanannya sangat seru. Selain bisa belajar di lingkungan baru, kita juga bisa belajar budaya negara lain, mengunjungi tempat-tempat wisata di negara lain, memiliki teman dari negara lain, dan yang pasti bisa menantang diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman,” ujar Khoirul.
Mahasiswa FKIP tersebut berpesan kepada teman-teman yang ingin mengikuti PLP Internasional di batch berikutnya agar mempersiapkan persyaratan dari jauh-jauh hari. “Untuk teman-teman yang berminat mengikuti PLP Internasional, dapat dipersiapkan dari sekarang, terutama nilai English Proficiency Test (EPT)-nya karena sertifikat EPT butuh waktu kurang lebih 1 minggu untuk terbit, akan berisiko jika dipersiapkan mendadak. Setiap ada kesempatan coba saja dulu, kesempatan tidak datang dua kali,” pesannya.
PLP Internasional ini mendukung pemberian akses pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas untuk semua kalangan. Program ini turut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengakses pendidikan yang berbeda, memperluas wawasan, serta meningkatkan pemahaman lintas budaya yang penting untuk pembelajaran. Hal tersebut mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 yaitu “Pendidikan Berkualitas”.
HUMAS UNS



















