Semarak Dies Natalis ke-42, UNS Persembahkan Pagelaran Budaya

UNS – Berupaya untuk melestarikan budaya bangsa, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta persembahkan pagelaran budaya di rangkaian acara Dies Natalis ke-42. Mengambil lakon “Semar Maneges”, pagelaran wayang kulit ini menampilkan Ki Widodo Wilis bersama tujuh dalang lainnya, yaitu Ki KPAA H Begug Poernomosidi, Ki Eko Sunarsono, Ki Jlitheng Lukito, Ki Pujono Gumelar, Ki Agus Wiranto, Ki Sigit Wursito, dan Nyi Wulan Panjang Mas. Acara ini dipandu oleh Supardjo, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Ilmu Budaya UNS, dan berlangsung di halaman Gedung dr. Prakosa Rektorat UNS, Sabtu, (17/3/2018).

Ravik Karsidi memberikan hadiah kepada Septia Rachma Pramurdya sebagai pemenang lomba tembang macapat.

Pagelaran ini ramai dihadiri masyarakat, mulai dari senat universitas, dekanat fakultas, Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS, Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI), pihak keluarga keraton, pihak pendukung acara, mahasiswa, dan khalayak umum. “Semar Maneges” menceritakan tentang para pemimpin yang pandai dan cerdik tetapi senang membodohi rakyatnya. Hal tersebut menimbulkan rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap pemimpin sehingga terjadilah kerusuhan dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar.

Selain pagelaran wayang, UNS juga mengapresiasi mahasiswanya yang mencintai kebudayaan lokal dengan cara mengadakan lomba tembang macapat. Di acara tersebut, diumumkan nama Septia Rachma Pramurdya, mahasiswa program studi Sastra Daerah (Jawa) UNS sebagai pemenang.

Dalam sambutannya, Solihin As’ad, Ketua Dies Natalis ke-42 UNS, mengatakan bahwa UNS selalu berupaya untuk maju. Selain berupaya untuk mengedepankan sisi akademik, UNS juga berupaya untuk tidak meninggalkan kebudayaan.

Ravik Karsidi selaku Rektor UNS mengharapkan semoga pagelaran ini bukan hanya dapat dijadikan tontonan, melainkan juga dapat dijadikan tuntunan. Selanjutnya, Rektor UNS ini mengajak semua masyarakat untuk selalu melestarikan budaya Indonesia.

“Pertama, saya bangga sebagai alumni UNS. Kedua, saya mengapresiasi prestasi UNS yang selalu masuk ke dalam 10 besar perguruan tinggi. Ketiga, meminta doa restu agar organisasi alumni semakin bagus. Keempat, UNS bisa menjadi jaya, menjadi contoh, subur, dan makmur. Terakhir, kita semua berjanji untuk setiap tahun selalu bisa berbagi seperti ini, karena ini semata-mata bukan untuk kami, terlebih untuk masyarakat Surakarta. Ini merupakan satu wahana untuk berkomunikasi, antara kami, kampus, dan masyarakat, melalui media wayang.” ujar Bambang Dwi Wahyudi selaku Sekretaris Jenderal IKA UNS.

Penampilan Tari Bedaya oleh BKKT UNS

Sebelum dimulainya pagelaran wayang, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT) UNS turut meriahkan acara dengan menampilkan Tari Bedaya. Dalam rangka Dies Natalis UNS, tari ini dinamakan Tari Bedaya Sebelas Maret yang menceritakan tentang sejarah terbentuknya UNS, dibawakan oleh sebelas penari wanita dan diiringi dengan instrumen gamelan. Selain itu, BKKT UNS juga menampilkan Tari Gambyong. Penampilan kedua tarian ini telah dipersiapkan sejak awal bulan Februari lalu.

“Tari Bedaya itu memiliki banyak jenisnya. Kalau di keraton-keraton biasanya sakral. Ada juga yang tentang kisah percintaan. Kalau ini, BKKT itu membuat untuk memeriahkan ulang tahun UNS tentang sejarahnya UNS, baik gerakan maupun musiknya,” terang Dina, mahasiswa pegiat UKM BKKT UNS. humas.red-uns/Zul/Isn