Tim Dosen UNS Sosialisasikan Pengolahan Sampah dengan Maggot untuk Anak SD

Tim Dosen UNS Sosialisasikan Pengolahan Sampah dengan Maggot untuk Anak SD
Tim Dosen UNS Sosialisasikan Pengolahan Sampah dengan Maggot untuk Anak SD
Dengarkan artikel

UNS— Sampah masih menjadi permasalahan yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia, terutama daerah perkotaan yang luas wilayahnya terbatas. Demikian juga dengan Kota Surakarta yang merupakan kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi di Jawa Tengah. Kota Surakarta memiliki satu buah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah yaitu TPA Putri Cempo. Permasalahan TPA yang sudah over load serta beberapa persoalan lain juga dihadapi dalam upaya pengelolaan sampah.

Atas dasar hal ini tim pengabdian dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan sosialiasi sekaligus workshop pengelolaan sampah organik menggunakan maggot. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2024 di Aula Sekolah Dasar Negeri (SD N)  Panularan Kota Surakarta. Tim pengabdian merupakan tim dosen dari grup riset “food engineering” yang beranggotakan Sigit Prabawa, Bara Yudhistira, Godras Jati Manuhara, Kawiji dan Bambang Sigit Amanto.

Bara Yudhistira mengatakan, pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah sekitar 200 ribu ton per hari berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan hal ini meningkat setiap tahun seiring pertambahan jumlah penduduk dan aktivitas yang mengikutinya. Pada tahun 2022, total sampah nasional yaitu sebesar 9.952.769.83 ton per tahun. “Jumlah yang cukup besar ini tentu menjadi masalah dalam proses penanganannya khususnya untuk mencegah terjadi penumpukan sampah yang berpotensi menyebabkan masalah kesehatan maupun masalah estetika lainnya, sehingga semua pihak diharapkan dapat mengurangi produksi sampah atau bahkan dapat mengelola sampah secara mandiri,” terang Bara, Jumat (23/8/2024).

SD N Panularan Kota Surakarta merupakan salah satu sekolah rintisan sekolah Adiwiyata yang telah menerapkan prinsip-prinsip adiwiyata di lingkungan sekolah. Dilansir dari situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, per tahun 2019 terdapat sekitar 434 sekolah Adiwiyata yang tersebar di seluruh Indonesia. “Dengan adanya program Adiwiyata diharapkan seluruh masyarakat di sekitar sekolah dapat menyadari bahwa lingkungan yang hijau adalah lingkungan yang sehat bagi kesehatan tubuh kita,” imbuhnya.

Sosialisasi dilaksanakan dengan mengenalkan siklus hidup maggot mulai dari telur sampai dengan lalat dewasa. Selain itu, siswa diajak untuk mempraktekan langsung budidaya maggot lengkap dengan pakan yang telah disediakan. Siswa cukup antusias mengikuti kegiatan ini ditandai dengan para siswa yang konsentrasi ketika dijelaskan materi dan melaksanakan langsung apa yang ditutorialkan. Selanjutnya tim pengabdian juga telah memberikan bantuan pengadaan kendang maggot, sehingga hasil tutorial maggot yang telah siap langsung dapat diletakan dalam kendang yang sudah siap.

Kegiatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran siswa untuk peduli lingkungan yang dalam hal ini dengan mengelola sampah secara mandiri di lingkungan sekolah. Ketua tim sekolah Adiwiyata SD N Panularan, Dwi Purnomo menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh siswa dengan proses pemeliharaan maggot disekolah dengan optimal, disamping dapat memanfaatkan hasil budiaya maggot untuk pakan ikan sekolah dan sebagai pupuk untuk tanaman di lingkungan sekolah. Perwakilan tim pengabdian UNS, Bara Yudhistira menyampaikan mudah-mudahan kegiatan ini dapat dilakukan secara kontinu kedepan dengan topik lain untuk mendukung SDN Panularan sebagai sekolah Adiwiyata Tingkat nasional.

HUMAS UNS

Redaktur: Dwi Hastuti