UNS – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan sebuah inovasi pengolahan biji nangka menjadi produk cemilan sehat yang dinilai dapat menghindari penyakit anemia dan unik untuk dikonsumsi dikalangan masyarakat. Program ini diketuai oleh M. Nur Dewi Kartikasari S.ST., M.Kes. dan beranggotakan Dr. Sri Anggarini Parwatiningsih S.SiT., M.Kes, Gusti Ananda Syahputri S.TP.,M.Sc, Vivin Sulistyowati S.E.,M.M., Nazhifa Anindya Raissa Dewanti, Samudraning Pramesti, Nailah Atina Rifda, dan Nasha Al Aisda.
Dosen Program Studi (Prodi) D3 Kebidanan berkolaborasi dengan Dosen D3 Teknologi Hasil Pertanian (THP) dan D3 Manajemen Bisnis Sekolah Vokasi (SV) UNS yang tergabung dalam tim mengungkapkan bahwa ide tersebut muncul dari keprihatinannya melihat banyak biji nangka yang terbuang percuma. “Sayang sekali jika banyak biji nangka yang terbuang begitu saja. Padahal, biji nangka memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai macam produk makanan,” ujar Dewi saat melihat biji nangka yang menumpuk di Pasar-pasar.
Biji nangka sendiri adalah bagian dari buah nangka yang seringkali dianggap sebagai limbah. Namun, biji nangka memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai macam produk makanan yang lezat dan bergizi. Melalui program yang mulai dilaksanakan pada April 2024 ini, tim melakukan pendampingan kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk olahan biji nangka yang selama ini sering dianggap sebagai limbah menjadi bahan makanan yang menarik dan bernilai ekonomis tinggi.



Kegiatan diawali dari diskusi dengan pemilik UMKM Syukaaza Food Nusantara yaitu Arva Rochmawati. UMKM tersebut sudah memiliki produk andalannya, yaitu keripik pisang. Pendampingan tim PKM UNS dilakukan untuk menghasilkan keripik pisang yang lebih sehat dan tahan lama dengan penggunaan alat spinner serta diversifikasi biji nangka menjadi keripik. Namun, seiring berjalannya proses trial and error, tim menemukan sebuah inovasi berupa biji nangka yang diproduksi menjadi serundeng.
Proses pembuatan serundeng dari biji nangka ini terbilang sederhana namun membutuhkan ketelatenan. Selain menjadi serundeng, biji nangka juga dikembangkan menjadi cookies. Untuk membuat serundeng, biji nangka terlebih dahulu dibersihkan, kemudian di oven hingga kering. Setelah itu, biji nangka digiling halus lalu dicampur dengan bumbu-bumbu pilihan sehingga menghasilkan serundeng yang gurih dan renyah.
“Untuk membuat cookies, biji nangka yang sudah digiling halus dicampur dengan tepung terigu, gula, telur, dan bahan-bahan lainnya. Kemudian adonan dicetak dan dipanggang hingga matang,” jelas Arva Rochmawati, pemilik UMKM Syukaaza Snack.
Produk tersebut telah launching pada kegiatan Expo Vokasi Vaganza (pameran produk P2M) yang diadakan dalam rangka Dies Natalis Sekolah Vokasi UNS dan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak yang penasaran dengan rasa serundeng dan cookies dari biji nangka. “Rasanya unik dan berbeda dari serundeng pada umumnya, teksturnya juga renyah,” ujar Ningsih, salah satu pecinta kuliner lokal.
M. Nur Dewi Kartikasari S.ST., M.Kes. menambahkan, keberhasilan dalam mengolah biji nangka menjadi produk makanan yang bernilai ekonomis tinggi diharapkan dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk lebih kreatif dalam mengolah bahan-bahan lokal. Selain itu, inovasi ini juga dapat membantu meningkatkan nilai jual buah nangka dan mengurangi jumlah limbah makanan.
“Saya berharap kedepannya produk olahan biji nangka ini dapat menembus pasar yang lebih luas, baik ditingkat lokal maupun nasional. Produk ini juga bisa menjadi oleh-oleh khas dari daerah kita dan dikenal oleh banyak orang,” ujar Dewi kepada uns.ac.id, Senin (11/11/2024).
Kegiatan ini mendukung SDGs ke-12 yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab, dengan memanfaatkan bahan yang ada dilingkungan masyarakat, yang semula dianggap tidak terlalu penting.
HUMAS UNS



















