Alumnus FK UNS Menginspirasi Lewat Layanan Kesehatan Anak dan Media Sosial, ini Kisah dr. Miza Afrizal

Alumnus FK UNS Menginspirasi Lewat Layanan Kesehatan Anak dan Media Sosial, ini Kisah dr. Miza Afrizal
Alumnus FK UNS Menginspirasi Lewat Layanan Kesehatan Anak dan Media Sosial, ini Kisah dr. Miza Afrizal

UNS – Media sosial saat ini telah menjadi ruang informasi yang luas, termasuk untuk isu kesehatan anak. Di balik kemudahan tersebut, masyarakat tetap perlu cermat dalam memilah sumber informasi yang kredibel. Salah satu sosok dokter anak yang aktif berbagi edukasi kesehatan melalui media sosial sekaligus alumnus kebanggaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta adalah dr. Miza Dito Afrizal, Sp.A., BMedSci., M.Kes.

Dokter Miza, sapaan akrabnya, merupakan alumnus Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran (FK) UNS. Ia menyelesaikan studi spesialisnya pada tahun 2016, setelah sebelumnya menempuh pendidikan dokter umum di Universitas Indonesia (UI).

Ketertarikan pada Ilmu Kesehatan Anak

Kepada uns.ac.id, dr. Miza mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap dunia kesehatan anak sudah tumbuh sejak menjalani pendidikan profesi dokter. Stase Ilmu Kesehatan Anak menjadi bagian dari pendidikan klinis yang ia jalani dengan penuh rasa semangat dan antusias.

“Saya merasa ini satu-satunya stase yang membuat saya semangat berangkat dari rumah, nggak pakai malas-malasan, belajarnya juga nggak terpaksa,” ungkapnya sembari mengenang masa pendidikan profesi.

Kecintaan itu bahkan membuatnya mantap hanya ingin menjadi dokter spesialis anak.

“Saya beneran suka banget sama (stase) anak sampai waktu itu berkeputusan hanya akan menjadi dokter spesialis anak. Jika tidak bisa, saya memilih tidak akan menjadi dokter sama sekali,” imbuhnya.

Cerita Semasa Kuliah di UNS

Keputusan memilih UNS sebagai tempat studi lanjut spesialis bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Perkenalannya dengan UNS berawal dari obrolan santai bersama sepupunya yang kala itu juga tengah menempuh pendidikan di UNS. Ia pun akhirnya mengalihkan tujuan studi ke FK UNS.

Selama menempuh PPDS di UNS, dr. Miza merasakan lingkungan belajar yang suportif. Ia mengaku tidak pernah mengalami senioritas berlebihan atau bahkan perundungan. Sebaliknya, seluruh proses pembelajaran yang ia jalani selalu berorientasi pada kebaikan pasien.

“Di UNS itu tidak ada senioritas yang berlebihan dan tidak perlu. Semua proses belajar yang saya dapatkan benar-benar untuk kepentingan pasien. Itu adalah hal yang benar-benar saya alami sejak saya masuk,” tuturnya.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Sebagai warga asli Jakarta, dr. Miza sempat mengalami culture shock saat pertama kali tinggal di Solo. Perbedaan suasana kota dan budaya membuatnya harus beradaptasi.

“Itu tantangan terbesar saya. Beberapa kali saya sampai mengabari orang rumah. Tapi Alhamdulillah kalau tempat belajarnya baik di FK UNS maupun di RSUD Dr. Moewardi sangat-sangat suportif,” tambahnya.

Karier sebagai Dokter dan Influencer Kesehatan Anak

Setelah menyelesaikan studi, karier dr. Miza berlanjut di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tumbuh Kembang, Depok. Menariknya, sebelum menempuh PPDS, ia memang sudah bekerja di rumah sakit tersebut dan mendapat rekomendasi untuk melanjutkan studi spesialis. Sejak lulus tahun 2016, Ia telah mengabdi sebagai dokter spesialis anak di sana selama lebih dari delapan tahun.

Selain praktik di rumah sakit, dr. Miza aktif berbagi edukasi kesehatan anak melalui media sosial. Akun Instagram dan TikTok miliknya masing-masing diikuti lebih dari 500 ribu dan 90 ribu pengikut. Ia memulai aktivitas digital ini sejak 2017, diawali dengan sesi QnA yang berlanjut dalam video reels.

“Awalnya saya mulai dari QnA Instagram tahun 2017. Dalam tanda kutipnya semi konsultasi. Saya buat agar lebih banyak orang bisa mendapat akses edukasi kesehatan anak yang benar,” ujarnya.

Tak hanya itu, bersama tiga rekannya, dr. Miza juga mendirikan platform klinikkecil.com. Layanan ini mulanya fokus menyediakan telekonsultasi saat pandemi Covid-19 yang sempat membatasi aktivitas tatap muka dengan tenaga medis. Kini, klinikkecil.com berkembang dengan menyelenggarakan berbagai webinar dan kelas daring bertema kesehatan anak.

“Awalnya fokus pada telekonsultasi. Setelah itu kami kembangkan dengan membuat kelas-kelas daring yang membahas topik tertentu terkait kesehatan anak,” terangnya.

Pesan kepada Para Ayah

Sebagai seorang ayah, dr. Miza juga menekankan pentingnya kehadiran sosok ayah dalam menjaga tumbuh kembang anak. Ia menyarankan agar orang tua, khususnya ayah, benar-benar meluangkan waktu berkualitas untuk buah hati.

“Walaupun satu hari hanya bertemu selama satu jam, usahakan itu adalah kehadiran yang 100%. Ayah tidak sambil melakukan hal lain seperti pegang handphone, meeting, ataupun mengobrol dengan orang lain. Satu jam itu harus benar penuh untuk anak,” pesannya.

Habiskan Jatah Kegagalan

Kepada para mahasiswa kedokteran, dr. Miza menitipkan pesan penting tentang pentingnya memanfaatkan masa belajar sebaik mungkin. Ia menekankan bahwa fase preklinik, koas, hingga residen adalah waktu terbaik untuk menghabiskan jatah kesalahan dan belajar darinya. Pesan ini juga berlaku bagi semua mahasiswa UNS yang masih dalam fase belajar.

“Mumpung lagi preklinik, koas, ataupun residen, lakukanlah kesalahan dan kegagalan sebanyaknya. Proses yang paling berharga adalah belajar dari kesalahan dan kegagalan. Saat berkuliah, masih ada yang mengoreksi, masih ada kesempatan kedua,” tutupnya.

Kisah dr. Miza menjadi inspirasi bahwa seorang dokter tidak hanya berkiprah di ruang praktik, tetapi juga bisa memberikan edukasi luas kepada masyarakat melalui berbagai platform. Ia sekaligus menjaga nilai-nilai kekeluargaan dan humanisme yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di FK UNS.

Humas UNS