Era AI, Guru Besar UNS Dituntut Jaga Integritas dan Beri Dampak

Era AI, Guru Besar UNS Dituntut Jaga Integritas dan Beri Dampak
Dengarkan artikel

Di era kecerdasan buatan, Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) dituntut untuk senantiasa menjaga integritas akademik serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

UNS— Ketua Dewan Profesor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Joko Nurkamto, M.Pd., menegaskan bahwa peran Guru Besar semakin penting di tengah perkembangan pengetahuan, teknologi digital, dan kecerdasan artifisial (AI) yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan tersebut menuntut Guru Besar tidak hanya memiliki kepakaran di bidangnya, tetapi juga mampu menjaga kebenaran dan integritas ilmiah.

Selain itu, Guru Besar diharapkan mampu membangun kolaborasi lintas disiplin serta memastikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, kepakaran yang dimiliki tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Hal tersebut disampaikan Prof. Joko Nurkamto dalam sambutannya pada acara pengukuhan tujuh Guru Besar UNS, Selasa (6/10/2026) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Menurutnya, kemajuan teknologi digital dan AI telah memungkinkan informasi diperoleh, diolah, bahkan dihasilkan dalam hitungan detik. Kondisi tersebut membuat masyarakat membutuhkan sosok akademisi yang mampu membedakan antara informasi dan pengetahuan, pendapat dan bukti, serta sesuatu yang sekadar meyakinkan dan sesuatu yang benar secara ilmiah.

“Dalam situasi seperti ini, peran profesor justru semakin penting. Masyarakat membutuhkan sosok yang mampu membedakan antara informasi dan pengetahuan, antara pendapat dan bukti, serta antara sesuatu yang sekadar meyakinkan dan sesuatu yang benar secara ilmiah,” ujar Prof. Joko.

Ia menjelaskan, setidaknya terdapat tiga tanggung jawab utama Guru Besar pada masa kini. Pertama, Guru Besar harus menjadi penjaga mutu dan integritas pengetahuan. Kehadiran AI dapat membantu manusia dalam mencari, mengolah, dan mengomunikasikan informasi. Namun, tanggung jawab atas kebenaran, kejujuran, orisinalitas, dan dampak karya ilmiah tetap berada pada manusia.

“AI dapat membantu manusia mencari, mengolah, dan mengomunikasikan informasi, tetapi tanggung jawab atas kebenaran, kejujuran, orisinalitas, dan dampak karya ilmiah tetap berada pada manusia,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Guru Besar diharapkan menjadi teladan dalam membangun budaya akademik yang menjunjung tinggi bukti, terbuka terhadap kritik, serta mengedepankan integritas ilmiah. Prinsip Human-Centered AI menjadi penting agar pemanfaatan teknologi tetap menempatkan manusia beserta tanggung jawab etis dan akademiknya sebagai pusat.

Kedua, Guru Besar harus menjadi penghubung antardisiplin ilmu. Prof. Joko menilai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini hampir tidak pernah dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu. Oleh karena itu, keberagaman kepakaran tujuh Guru Besar yang dikukuhkan UNS menjadi modal intelektual yang sangat berharga bagi pengembangan universitas.

Ketujuh Guru Besar tersebut memiliki kepakaran yang beragam, mulai dari filsafat dan kebudayaan, kimia, seni film, teknologi biopolimer, sistem komunikasi nirkabel, pendidikan kewarganegaraan, hingga energi terbarukan.

“Keberagaman tersebut diharapkan dapat bertemu dalam kolaborasi multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner untuk menjawab persoalan nyata masyarakat,” tuturnya.

Ketiga, Guru Besar harus mampu mengubah kepakaran menjadi dampak. Menurut Prof. Joko, kehebatan seorang profesor tidak cukup hanya diukur dari jumlah publikasi, sitasi, maupun hibah penelitian. Berbagai capaian akademik tersebut tetap penting, tetapi ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana ilmu pengetahuan yang dikembangkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

“Profesor harus mampu membawa pengetahuan dari laboratorium ke masyarakat, dari artikel ke kebijakan, dari teori ke inovasi, dan dari ruang kuliah ke perubahan kehidupan,” katanya.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan diharapkan tidak berhenti sebagai prestasi individual, tetapi berkembang menjadi kemaslahatan publik. Guru Besar memiliki tanggung jawab untuk memastikan kepakaran yang dimiliki dapat memberikan kontribusi bagi penyelesaian persoalan bangsa dan menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Prof. Joko menambahkan, tantangan Guru Besar pada masa kini bukan sekadar menjadi orang yang paling mengetahui dalam bidangnya. Lebih dari itu, Guru Besar harus menjadi sosok yang dapat dipercaya dalam menjaga kebenaran ilmiah, terbuka untuk bekerja sama, dan bersungguh-sungguh menjadikan ilmu pengetahuan bermanfaat bagi sesama.

“Kepada ketujuh Guru Besar yang baru saja dikukuhkan, saya mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung dalam keluarga besar Dewan Profesor UNS. Kami menantikan pemikiran, keteladanan, kolaborasi, dan karya nyata Bapak dan Ibu untuk memperkuat UNS serta memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban,” pungkas Prof. Joko. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tuntutan bagi Guru Besar UNS di era AI?

Guru Besar UNS dituntut untuk menjaga integritas dan memberikan dampak nyata.