UNS Hadirkan Gus Zastrouw Dalam Tausyiah Ramadan Spesial Dies Natalis Ke-49

UNS Hadirkan Gus Zastrouw Dalam Tausyiah Ramadan Spesial Dies Natalis Ke-49

UNS – Tepat pada peringatan Dies Natalis ke-49, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Tausyiah Ramadan Spesial. Pada kesempatan ini menghadirkan budayawan Nahdlatul Ulama, Dr. Ngatawi Al Zastrouw atau juga sering dipanggil Gus Zastrouw sebagai penceramah. Tausyiah spesial ini diselenggarakan bertempat di Masjid Nurul Huda UNS pada Selasa (11/3/2025) tepat setelah sholat tarawih. Tausyiah ini juga disiarkan secara langsung pada kanal Youtube Universitas Sebelas Maret.

Acara tausyiah Ramadan Spesial Dies Natalis UNS ke-49 ini turut dihadiri langsung oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si.; segenap Wakil Rektor UNS; Wakil Ketua MWA, Prof. Dr. Mohammad Furqon Hidayatullah, M.Pd.; Sekretaris MWA UNS, Prof. Dr. Eng. Syamsul Hadi, S.T., M.T.; Sekretaris Senat Akademik, Prof. Dr. Mohammad Jamin, S.H., M.Hum.; Rektor UNS Periode 2019-2024, Prof. Dr. H. Jamal Wiwoho, S.H.,M.Hum.; para Dekan, Direktur dan Ketua Lembaga di lingkungan UNS.

Prof. Hartono pada kesempatan ini menyampaikan bahwa bulan Ramadan bulan yang penuh berkah, bulan yang mengajarkan kita makna kesabaran dan keikhlasan juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT. Beliau menekankan bahwa acara tausyiah ini menjadi momentum positif bagi kita semua untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan lebih memperdalam tentang nilai-nilai keislaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagai kampus benteng Pancasila, UNS berkomitmen untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kebhinekaan dalam kehidupan akademik maupun social. Di tengah keberagaman yang ada, kita harus terus memperkuat semangat kebersamaan dan persatuan sebagaimana yang diwariskan leluhur bangsa Indonesia. Komitmen ini bukan hanya menjadi slogan tetapi juga kita wujudkan dalam berbagai aktivitas akademik dan sosial yang mendorong pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai kebangsaan dan keagamaan yang saling melengkapi,” tutur Prof. Hartono.

Gus Zastrouw dalam tausyiahnya memperumpamakan Al-Qur’an sebagai alat yang super canggih, mengutip potongan ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Hudallinnas” yang memiliki arti “petunjuk bagi seluruh umat manusia”. Akan tetapi umat Islam saat ini seakan hanya begini-begini saja. Beliau mengajak para jamaah untuk merefleksi ke diri sendiri mengenai hal tersebut.

“Ibaratnya memiliki senjata canggih, hanya bisa digunakan secara efektif akurat dan tepat dengan dua syarat. Pertama yang punya senjata tau cara menggunakannya, yang kedua yakni dia tau peruntukannya untuk apa. Saya jadi memiliki dugaan sementara apakah umat Islam saat ini tidak mengerti peruntukan Al-Qur’an itu sendiri. Lihat Imam Ghozali, Imam Syafi’i, dan lain sebagainya, itu adalah cerminan orang yang punya senjata, tau cara penggunaannya, dan tau peruntukannya. Ini sebetulnya yang harus menjadi refleksi ke diri sendiri,” ujarnya.

Gus Zastrouw juga menekankan bahwa menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu adalah wajib hukumnya. Beliau memakai perumpamaan dengan salat itu wajib maka wudhu dan menutup aurat menjadi wajib hukumnya ketika salat. Begitu juga dengan mengamalkan nilai-nilai Islam adalah wajib maka menjaga NKRI agar tetap aman dan damai sebagai sarana menjalankan syariat Islam hukumnya menjadi wajib.

Humas UNS