UNS— Dalam upaya mendukung kesiapan tenaga kesehatan di era digital, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berpartisipasi dalam proyek kolaborasi bertajuk Digitally Enhanced Scenario-Based Learning for Digital Soft Skills (DISCERN DSS). Proyek ini didanai oleh European Commission melalui skema Capacity building in the field of higher education (ERASMUS-EDU-2024-CBHE). Pada proyek kolaborasi DISCERN DSS ini, UNS tergabung dalam konsorsium dengan anggota lain yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), serta dua institusi akademik ternama di Eropa, yaitu European Union of Medical Specialist (Belgia) dan Karolinska Institutet (Swedia). Koordinator konsorsium ini adalah Aristotelio Panepistimio Thessalonikis dari Yunani.
Kolaborasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterampilan digital mahasiswa kedokteran melalui pendekatan scenario-based learning. Ini merupakan sebuah metode pembelajaran berbasis skenario yang interaktif dan kontekstual, melalui peningkatan kapasitas dan transfer of knowledge ke dosen dan tenaga kependidikan. Sebagai langkah awal dalam implementasi proyek ini, pada tanggal 11-13 Februari 2025 kemarin telah dilaksanakan Kick-off Meeting di Brussels, Belgia. Pertemuan ini menjadi wadah bagi para mitra kolaborasi untuk menyelaraskan persepsi, menetapkan tujuan, serta merancang strategi pelaksanaan proyek selama tiga tahun ke depan mulai 2025 hingga 2027.



FK UNS diwakili oleh tiga delegasi, yakni Prof. Ari Probandari, dr., MPH., Ph.D.; Vitri Widyaningsih, dr., M.S., Ph.D.; serta Amandha Boy Timor Randita, dr., M. Med. Ed., Sp.K.F.R. Dalam pertemuan tersebut, disepakati serangkaian program pengembangan digital soft skills yang akan diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan kedokteran dan kesehatan, termasuk pelaksanaan Training of Trainers yang dijadwalkan berlangsung di Yogyakarta pada tahun 2025.
Terampil dalam Penggunaan Teknologi Digital
Prof. Ari Probandari, dr., MPH., Ph.D. mengatakan, harapan besar dari proyek ini adalah mencetak mahasiswa kedokteran Indonesia yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga terampil dalam penggunaan teknologi digital dalam dunia medis. “Dengan demikian, lingkungan pembelajaran akan semakin modern, kontekstual dengan permasalahan medis nyata, serta lebih interaktif secara pedagogis,” terang Prof. Ari Probandari.
Selain itu, keterampilan digital yang diperoleh di tingkat sarjana diharapkan dapat terus berkembang pada tahap pendidikan profesi hingga ke jenjang continuing medical education. Sehingga menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan kerja serta sarana aktualisasi diri bagi tenaga kesehatan di masa depan.
Keterlibatan FK UNS dalam proyek-proyek Erasmus ini menunjukkan komitmennya untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendidikan, penelitian, dan kolaborasi internasional.
HUMAS UNS
Redaktur: Dwi Hastuti



















