UNS – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan AppliedHE bekerja sama dalam menyelenggarakan AppliedHE Xchange 2025 di InterContinental Bali. Dalam diskusi panel yang digelar sebagai bagian dari agenda tersebut dengan tema Curriculum Alignment with Market Needs. Para pembicara dari berbagai institusi pendidikan tinggi membahas pentingnya keselarasan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja dalam diskusi hangat, Selasa (25/2/2025).
Diskusi ini dimoderatori oleh Dary Milani, Pro Vice-Chancellor, Recruitment & International Operations dari La Trobe University, Australia. Diskusi dimeriahkan oleh tiga panelis, yaitu Prof. Dr. Agr. Ir. Sigit Prastowo, S.Pt., M.Si., IPU., ASEAN Eng., LHKPN., Direktur Akademik UNS Indonesia; Angelica Baylon, Direktur Hubungan Eksternal Maritime Academy of Asia & the Pacific (MAAP), Filipina; dan Prof. Dr. Valliappan Raju, Senior Director of Research, MAHSA University, Malaysia.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sigit menekankan mengenai pentingnya kolaborasi dengan industri. Prof. Dr. Sigit menjelaskan bahwa universitas perlu merancang kurikulum yang didasarkan pada masukan dari industri, pemerintah, dan masyarakat. Beliau turut memberikan contoh keberhasilan UNS dalam mengintegrasikan pelatihan praktis, magang, dan sertifikasi industri untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa.
“Mahasiswa kami, khususnya di Sekolah Vokasi belajar langsung dari praktik di lapangan. Mahasiswa akan belajar di kelas selama empat semester dan dilanjutkan dua hingga empat semester diluar kelas. Hal tersebut ditujukan agar mereka mengaplikasikan ilmu secara langsung ke industri sehingga lulusan akan siap memasuki pasar kerja,” tegasnya.
Prof. Angelica M. Baylon, Ph.D., MBGPH, Ph.D., EdD,MSBM, MBA, MSChem,BS Chemistry, selaku Director, Maritime Academy of Asia and the Pacific (MAAP) Filipina menjelaskan pendekatan Competency-Based Training yang diterapkan di sana. Selain kemampuan teknis dan kompetensi di bidangnya, Ia menyoroti pentingnya keterampilan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja tim bagi lulusan institusinya. “Kami tidak hanya mencetak pelaut biasa, tetapi juga menghasilkan pemimpin masa depan seperti Chief Engineer dan Master Mariner wanita pertama di Filipina,” ungkapnya.
Prof. Dr. Valliappan Raju selaku selaku Senior Director, Research Management Centre, dari MAHSA University menekankan bahwa pendidikan vokasional kini semakin relevan dalam menjawab kebutuhan pasar yang cepat berubah. Ia menggarisbawahi perlunya kurikulum modular yang memungkinkan mahasiswa memilih mata kuliah dari universitas lain atau industri, sehingga memperkuat keterampilan mereka. “Kita perlu memastikan mahasiswa belajar langsung dari praktisi industri untuk memahami kebutuhan pasar secara mendalam,” katanya.

Para pembicara sepakat bahwa teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi akan mengubah lanskap pekerjaan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, universitas perlu terus memperbarui kurikulum mereka agar relevan dengan tren masa depan.
Keterlibatan Komunitas
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, institusi pendidikan seperti UNS dan MAAP juga aktif dalam program pengabdian masyarakat. Mereka melibatkan mahasiswa dalam proyek yang mendukung pengembangan komunitas lokal, seperti pelatihan petani kecil dan simulasi kebakaran untuk masyarakat pesisir. Hal tersebut dimaksudkan untuk terus meningkatkan keterlibatan komunitas dalam menghadapi berbagai perubahan global.
Diskusi ini memberikan wawasan bahwa keselarasan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja, bukan hanya menciptakan lulusan yang lebih kompeten, tetapi juga memperkuat hubungan antara universitas, industri, dan masyarakat. Para panelis menegaskan bahwa kolaborasi yang erat antara akademisi dan pelaku industri adalah kunci untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan relevan di era digital. Turut serta dalam acara ini yaitu mahasiswa-mahasiswa asing yang sedang belajar di UNS. Elisa Herawati, S.Si.,M.Eng., Ph.D. selaku Ketua International Office UNS mengatakan ada 41 mahasiswa asing dari berbagai negara yang terlibat.
Pentingnya inovasi berkelanjutan dalam sistem pendidikan global, terutama dalam menyatukan pendidikan vokasional dan pendidikan tinggi demi masa depan yang lebih inklusif dan adaptif. Hal tersebut turut sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-17, yakni Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kolaborasi global untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
HUMAS UNS



















