Batik Balontang Kasmaran, Inovasi Riset Kolaboratif UNS dan TSU yang Tampil di Sragen Batik Heritage 2026

Batik Balontang Kasmaran, Inovasi Riset Kolaboratif UNS dan TSU yang Tampil di Sragen Batik Heritage 2026
Dengarkan artikel

Tim dosen Prodi Desain Mode FSRD UNS bersama TSU dan Pemkab Sragen mengembangkan motif Batik Balontang Kasmaran yang ditampilkan dalam Sragen Batik Heritage 2026 pada Sabtu (3/10/2026). Inovasi riset kolaboratif berbasis pendekatan Research and Development ini bertujuan memperkuat identitas dan karakter khas Batik Sragen berdasarkan naskah kuno Babad Giyanti.

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terus mendorong penguatan identitas budaya daerah melalui riset dan inovasi desain. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan motif Batik Balontang Kasmaran yang tampil dalam gelaran Sragen Batik Heritage 2026 di Kabupaten Sragen, Sabtu (3/10/2026). Motif tersebut merupakan bagian dari hasil penelitian bertajuk Revitalisasi Desain Motif Batik Sragen Berbasis Kearifan Lokal yang melibatkan Program Studi (Prodi) Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, Sekolah Vokasi Tiga Serangkai University (TSU), serta Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Penelitian ini dilaksanakan oleh tim dosen Prodi Desain Mode FSRD UNS. Tim peneliti menggali potensi sejarah, budaya, dan lingkungan Sragen untuk menghasilkan desain batik yang memiliki karakter khas serta mampu merepresentasikan identitas lokal.

Pengembangan Batik Balontang Kasmaran dilatarbelakangi oleh kebutuhan memperkuat ciri khas Batik Sragen yang selama ini masih banyak dipengaruhi karakter batik Surakarta. Melalui pendekatan Research and Development (R&D), penelitian ini menelusuri berbagai sumber historis dan potensi visual daerah sebagai dasar penciptaan motif baru yang berakar pada kearifan lokal.

Salah satu sumber yang menjadi pijakan pengembangan motif adalah Babad Giyanti. Manuskrip tersebut memuat kisah mengenai Pangeran Mangkubumi yang mengenakan kain bermotif Balontang Kasmaran dalam sebuah peristiwa pertempuran di tepi Bengawan Solo, wilayah yang kini berada di Kabupaten Sragen.

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Johny Adhi Aryawan, S.Sos., M.I.Kom., menjelaskan bahwa catatan sejarah tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam penelusuran asal-usul motif Balontang Kasmaran.

“Di dalam Babad Giyanti, tercatat sebuah peristiwa pertempuran di tepi Bengawan Solo. Manuskrip mencatat bahwa Pangeran Mangkubumi mengenakan rompi tanpa lengan bernama Kutung Kencono dan kain batik dengan motif Balontang Kasmaran,” jelas Johny dalam wawancara penelitian.

Penelusuran tersebut juga menemukan keterkaitan istilah Balontang atau Plontang dengan burung kecil berbulu hitam-putih yang dikenal hidup berpasangan. Karakteristik ini kemudian dihubungkan dengan kata kasmaran, yang menggambarkan perasaan cinta, kasih sayang, dan kesetiaan.

“Secara leksikon, kata Plontang merujuk pada jenis burung kecil endemik berbulu hitam-putih yang hidup berpasang-pasangan, sehingga dikaitkan dengan makna Kasmaran,” ungkapnya.

Berangkat dari temuan tersebut, tim peneliti menerjemahkan narasi sejarah ke dalam bentuk visual melalui proses stilisasi dan sintesis desain. Burung Balontang menjadi elemen utama motif, sedangkan kembang kates, tumbuhan adem-adem, dan isen-isen digunakan sebagai elemen pendukung dalam pengembangan desain batik tulis.

Proses kreatif tersebut tidak sekadar mereproduksi bentuk objek yang ditemukan dalam sumber sejarah, tetapi juga mengolahnya menjadi komposisi motif yang memiliki karakter estetis dan landasan akademik. Johny menilai keterlibatan akademisi dan desainer diperlukan untuk mengembangkan rekonstruksi motif agar lebih terarah dan memiliki nilai artistik. “Rekonstruksi kain yang sempat kami buat masih sangat naif, yakni sekadar menggambar bentuk burung tanpa stilisasi desain khusus. Ini menjadi ruang bagi akademisi sebagai desainer untuk menerjemahkannya secara lebih akademis,” kata Johny.

Selain Balontang Kasmaran, penelitian tersebut menghasilkan sejumlah alternatif eksplorasi motif yang mengangkat kekayaan visual Sragen. Sumber inspirasi yang digunakan mencakup ikonografi Sangiran, bentang alam Bengawan Solo, budaya agraris Sukowati, serta flora dan ornamen lokal.

Eksplorasi tersebut menegaskan bahwa kekayaan identitas budaya Sragen tidak hanya bersumber dari Situs Sangiran, tetapi juga dari sejarah Sukowati, manuskrip lama, kehidupan agraris, lingkungan, dan perkembangan masyarakatnya. Berbagai sumber tersebut dapat menjadi landasan penciptaan motif batik yang tidak hanya memiliki nilai dekoratif, tetapi juga menyimpan cerita dan makna budaya.

Dosen Prodi Desain Mode FSRD UNS sekaligus anggota tim peneliti, M. Rudianto, menyampaikan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari upaya menghubungkan pengetahuan sejarah dengan pengembangan desain kontemporer. Melalui pendekatan tersebut, batik menjadi medium untuk menghadirkan kembali narasi budaya daerah dalam bentuk karya yang dapat diapresiasi masyarakat.

“Melalui penelitian ini, kami tidak terbatas menciptakan motif baru, upaya kami menghidupkan kembali narasi sejarah dan kearifan lokal Sragen ke dalam bahasa visual batik. Balontang Kasmaran menjadi contoh bagaimana sumber sejarah dapat ditafsirkan secara akademis, kemudian dikembangkan menjadi desain yang memiliki nilai budaya sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” ujar M. Rudianto.

Tampilnya Batik Balontang Kasmaran dalam Sragen Batik Heritage 2026 menjadi salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian kepada masyarakat. Kolaborasi antara UNS, TSU, dan Pemerintah Kabupaten Sragen juga memperlihatkan pentingnya sinergi perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi budaya menjadi karya kreatif.

Melalui pengembangan desain berbasis kearifan lokal, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat karakter Batik Sragen, memperluas sumber inspirasi bagi perajin, serta membuka peluang pengembangan produk ekonomi kreatif berbasis warisan budaya. Dengan demikian, nilai sejarah dan budaya Sukowati dapat terus dihidupkan melalui karya batik yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus diwariskan kepada generasi mendatang. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa nama motif batik hasil riset kolaboratif UNS dan TSU yang tampil di Sragen Batik Heritage 2026?

Motif batik tersebut adalah Batik Balontang Kasmaran. Lihat di artikel

Manuskrip apa yang menjadi sumber historis dalam pengembangan motif Batik Balontang Kasmaran?

Manuskrip yang menjadi sumber historis adalah Babad Giyanti. Lihat di artikel

Siapa saja pihak yang terlibat dalam penelitian revitalisasi desain motif Batik Sragen?

Penelitian ini melibatkan Prodi Desain Mode FSRD UNS, Tiga Serangkai University (TSU), serta Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dekranasda dan OPD terkait. Lihat di artikel