UNS – Mahasiswa Program Studi (Prodi) D-3 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Muhammad Daffa Al Fayyadh, menorehkan prestasi membanggakan. Ia terpilih sebagai salah satu penerima Program Akuisisi Pengetahuan Lokal yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui karya dokumenternya yang berjudul “Dalang Perempuan sebagai Wujud Eksistensi dalam Pusaran Pelestarian Budaya”, Daffa berhasil mengangkat isu budaya dan kearifan lokal melalui sudut pandang baru.
Program Akuisisi Pengetahuan Lokal merupakan upaya BRIN dalam mendokumentasikan dan melestarikan kekayaan pengetahuan lokal di Indonesia. Program ini mendorong kontribusi berbagai pihak melalui riset dan dokumentasi yang berorientasi pada pelestarian budaya. BRIN merancang program ini sebagai bentuk nyata kontribusi lembaga riset dalam menjawab permasalahan bangsa, terutama dalam penyediaan informasi yang kredibel dan inovatif.
Ketertarikan Daffa pada topik dalang perempuan berawal dari tugas akhirnya sebagai mahasiswa D-3 DKV. Ia ingin mengangkat tema budaya dalam bentuk film dokumenter. Setelah melakukan riset awal dan mendapatkan berbagai masukan dari Henricus Hans Setyawan Prabowo, S.I.Kom., M.I.Kom., selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir dan Dedy Eka Timbul Prayoga, S.Sn., M.Sn., selaku Dosen Prodi D3 DKV serta dari pelaku budaya, ia memutuskan untuk mendalami eksistensi dalang perempuan.
Menurutnya, topik ini masih jarang diangkat dan belum banyak diketahui masyarakat luas. Ia melihat bahwa perjuangan dalang perempuan dalam mempertahankan seni pedalangan menyimpan banyak nilai moral dan sosial yang layak untuk diketahui generasi muda.
“Dalang perempuan punya pengaruh penting dalam pelestarian budaya, jarang diketahui memang. Namun, dibalik itu ada perjuangan yang luar biasa agar dalang perempuan tetap bertahan dan eksis sampai kapanpun,” jelas Daffa kepada uns.ac.id, Selasa (19/8/2025).
Dalam proses pengerjaan dokumenter, Daffa melakukan observasi langsung maupun tidak langsung. Ia juga melakukan wawancara dengan para narasumber, termasuk dalang perempuan, dan mengumpulkan data dari berbagai literatur dan jurnal daring. Semua itu dilakukan untuk memastikan informasi yang disampaikan akurat dan mendalam.
Sebagai mahasiswa D-3 DKV, Daffa menggunakan pendekatan visual ekspositori dalam karyanya. Ia menggabungkan narasi dengan rekaman dokumenter, foto-foto arsip, peta, grafik, serta motion graphic. Ia juga memanfaatkan teknik aerial shot dengan drone untuk memberikan konteks visual yang lebih kuat. Pendekatan tersebut dinilai mampu menjelaskan topik kompleks secara lebih menarik dan informatif.
“Saya melakukan pendekatan visual Ekspositori dengan tujuan memberikan penjelasan atau argumen terhadap topik tertentu. Ada pula pendekatan visual tambahan seperti motion graphic dan drone Footage/Aerial Shot,” imbuhnya.
Tantangan terbesar yang dihadapi Daffa adalah kurangnya referensi awal terkait dunia pedalangan, terutama dalang perempuan. Ia harus memulai riset dari nol dan menyesuaikan berbagai materi dokumentasi dengan ketelitian tinggi selama proses pasca produksi.
Menurut Daffa, peran generasi muda, khususnya mahasiswa seni dan desain, sangat penting dalam pelestarian budaya lokal. Mereka memiliki kemampuan untuk menyuarakan budaya Indonesia melalui media visual yang kreatif dan mudah diakses masyarakat. Ia berharap lebih banyak mahasiswa tertarik mengenal budaya di sekitarnya dan ikut melestarikannya.
“Cobalah mengenali budaya yang ada di sekitar kita seperti tarian, wayang, dan masih banyak budaya lainnya. Kalau belum bisa mencoba kebudayaan secara langsung, tidak apa-apa. Karena dengan melihat sudah termasuk melestarikan dan mendukung kebudayaan. Mengenal budaya di Indonesia adalah bagian dari mencintai negeri ini,” pesannya.
Humas UNS


















