Prof. Ani Rakhmawati Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kepakaran Analisis Wacana

Prof. Ani Rakhmawati Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kepakaran Analisis Wacana

UNS— Prof. Dra. Ani Rakhmawati, M.A., Ph.D., merupakan Guru Besar ke-84 pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan ke-315 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Beliau dikukuhkan menjadi guru besar dalam bidang ilmu Kepakaran Analisis Wacana. Pidato inaugurasi yang disampaikan mengangkat judul “Analisis Wacana sebagai Strategi Penafsiran Teks dan Momentum Atributif Menggapai Jenjang Kesetaraan Akademik”.

Dalam piodatonya, Prof. Ani Rakhmawati menyampaikan bahwa komunikasi inter dan antar-bangsa memerlukan wacana yang dapat menjembatani pemahaman interpretasi makna dan tujuan bertutur. Wacana adalah sistem sosial yang menentukan semua kemungkinan pernyataan atau pendapat yang dapat dihasilkan pada bidang dan suasana tertentu melalui media bahasa. Sebagai satuan pendukung wacana dikenal istilah kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga bentuk naskah yang utuh. Penyusunan teks dari unsur terkecil hingga terlengkap dalam bentuk naskah mensyaratkan kelengkapan satuan kebahasaan dan kejelasan dari sudut pandang tatabahasa. Keterpaduan semua unsur itulah yang membentuk wacana yang bermakna.

Terdapat berbagai model penelitian berbasis analisis wacana yang cukup berpengaruh, antara lain Genre Analysis (Swales), Systemic Functional Linguistics (Halliday) dan Critical Genre Analysis. Teknik analisis wacana berbagai model ini memberikan hasil dan interpretasi mengapa seseorang bertutur dengan cara seperti itu. Analisis teks khususnya pada bentuk gramatika dan fungsi linguistik belum mencukupi untuk menguak makna dan tujuan di balik susunan kata yang digunakan. Analisis unsur kontekstual yang memerlukan proses penafsiran khusus diperlukan untuk menjawab mengapa seseorang menggunakan bentuk dan tujuan yang menyelimuti wacana. Langkah ini akan dilanjutkan ke proses eksplanasi, yaitu penjelasan yang melibatkan penjabaran karakteristik masyarakat penutur bahasa mengapa mereka melakukan tindakan.

Penelitian menggunakan model Genre Analysis menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan penulisan teks artikel ilmiah yang ditemukan belum sesuai dengan eksptektasi masyarakat ilmiah dunia. Hasil analisis menunjukkan sebagian penulis Indonesia antara lain masih sering terkendala dalam mengutarakan dan menempatkan ‘gap’ yaitu cara seorang penulis menunjukkan perbedaan bidang penelitiannya di dalam lingkaran keahlian tertentu. Hal ini ditengarai oleh kentalnya tradisi masyarakat Indonesia yang masih berpegang teguh pada adab, pola pikir dan nilai-nilai lokal. Publikasi pada jurnal ilmiah, baik di Indonesia maupun pada jurnal internasional, memerlukan kepiawaian dan keberanian penulis untuk terampil mengungkapkan dan menerapkan berbagai konvensi dan pola yang disarankan.

“Pada dasarnya setiap wacana dapat dianalisis dari berbagai aspek baik kebahasaan maupun non- kebahasaan, baik tekstual maupun kontekstual. Pemilihan berbagai model analisis wacana ini sejatinya bertujuan agar kita dapat memahami dan menafsirkan maksud tuturan dalam wacana baik yang tersurat maupun tersembunyi. Sehingga kita dapat terlibat dan berkontribusi alam proses komunikasi yang dibangun,” terang Prof. Ani Rakhmawati.

Agar tujuan berkomunikasi berjalan dengan efektif, maka diperlukan bidang analisis wacana sebagai modal dasar utama yang diperlukan untuk menggapai kesuksesan seorang akademisi dalam ikut berkontribusi dalam peraturan dunia publikasi. Bidang Analisis Wacana dapat mengantarkan seorang akademisi, baik sebagai penulis maupun pembaca, dalam menggapai jenjang kesetaran akademik yang semestinya.

Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si. pada kesempatan ini menekankan bahwa sebagai institusi pendidikan tinggi, UNS akan terus mengukuhkan peran dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Beliau memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru besar baru. Tak lupa Beliau mengapresiasi keluarga yang senantiasa mendukung perjalanan panjang dalam meraih pencapaian ini.

Dengan dikukuhkannya guru besar baru, UNS semakin memperkuat perannya sebagai pusat keunggulan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Prof. Hartono berharap kontribusi mereka tidak hanya berhenti sampai di sini. Pencapaian ini harus menjadi titik tolak mereka untuk menjadi pemimpin pemikiran dan penggerak perubahan yang menginspirasi.

“Sebagai seorang guru besar, tanggung jawab yang diemban bukanlah tanggung jawab ringan. Gelar ini bukan hanya pengakuan akademik, tetapi juga amanah untuk menjadi inspirator, pemimpin pemikiran, dan penggerak perubahan dalam masyarakat,” ujar Prof. Hartono. HUMAS UNS

Redaktur: Dwi Hastuti