UNS – Research Group Manajemen dan Inovasi Pembelajaran Fisika (MIPF) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan pengabdian masyarakat di Pacitan. Ini menjadi wujud komitmen UNS dalam pengembangan pendidikan di daerah. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Penyusunan Perangkat Pembelajaran Deep Learning bagi Guru IPA SMP Kabupaten Pacitan”.
Acara berlangsung di Auditorium Museum dan Galeri SBY-Ani Pacitan pada Rabu (28/5/2025). Peserta kegiatan adalah para guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sekolah Menengah Pertama (SMP). Para guru tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kabupaten Pacitan. Program ini menjadi bagian dari Hibah Grup Riset (HGR) UNS tahun 2025 yang berfokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Sarwanto, S.Pd., M.Si., dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Beliau didampingi Prof. Dr. Widha Sunarno, Prof. Sukarmin, Ph.D., serta sejumlah dosen UNS lainnya. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran berbasis deep learning.


“Program ini merupakan bagian dari skema Hibah Grup Riset UNS tahun 2025 yang fokus pada pengembangan manusia dan daya saing bangsa,” ujar Prof. Sarwanto.
Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan yang diwakili Rino Budi Santoso, S.Sos. Ia berharap pelatihan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi guru-guru di Pacitan. Pendampingan dilakukan secara interaktif dengan sesi materi dan praktik langsung. Prof. Dr. Sarwanto bersama Prof. Sukarmin memberikan materi tentang konsep dan strategi deep learning dalam pembelajaran IPA. Setelah itu, peserta melakukan praktik penyusunan perangkat ajar berbasis deep learning.
Ketua MGMP IPA Kabupaten Pacitan, Rubi Talayi Rahman, S.Si., menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan semacam ini masih sangat terbatas di daerah. Ia menilai kegiatan tersebut mampu menjawab kebutuhan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong integrasi nilai kearifan lokal dan etnosains dalam proses pembelajaran. Potensi budaya dan kekayaan alam Pacitan dinilai sangat sesuai sebagai konteks lokal pembelajaran IPA. Guru didorong untuk mengaitkan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar siswa.
“Saya menyambut baik program ini, mengingat masih terbatasnya pelatihan dan sumber daya pendukung bagi guru dalam mengintegrasikan pembelajaran mendalam ke dalam proses belajar mengajar, khususnya untuk mata pelajaran IPA di tingkat SMP,” tutur Rubi.
Program ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) bidang pendidikan berkualitas. Dengan adanya pelatihan ini, guru IPA di Pacitan diharapkan lebih siap menghadirkan pembelajaran berbasis deep learning. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan sains di tingkat SMP. Selain itu, kegiatan ini memperkuat peran UNS sebagai perguruan tinggi penggerak inovasi pendidikan nasional.
Humas UNS



















