Mahasiswa Pendidikan Geografi UNS Raih Juara 2 LKTI Geosfair 2025

UNS – Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Kali ini, kabar membanggakan datang dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Hardiant Terrent Zetta Mahendra berhasil meraih Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional Geosfair IX 2025.

Ajang Geosfair IX 2025 digelar oleh Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia (Imahagi) Komisariat Universitas Negeri Medan (Unimed). Puncak acara sekaligus pengumuman pemenang dilaksanakan di Unimed, Jumat (16/5/2025). Tahun ini, Geosfair IX mengangkat tema “Shaping Youth for Success : Generasi Muda Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas”. Geosfair IX merupakan agenda tahunan bagi insan Geografi se-Indonesia yang rutin digelar. Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan potensi mahasiswa dalam bidang keilmuan geografi dan lintas ilmu lainnya. Salah satu cabang lomba yang diadakan adalah LKTI tingkat nasional yang dapat diikuti seluruh mahasiswa Indonesia.

Dalam kompetisi ini, Hardiant berhasil mengusung gagasan inovatif di bidang teknologi pertanian. Ia mengangkat karya berjudul “Agroboy Robotic (AR): Inovasi Robot Pertanian Berbasis IoT sebagai Pembasmi Hama dan Upaya Meningkatkan Kualitas Hasil Panen pada Tanaman Demi Mewujudkan Indonesia Emas 2045”. Melalui karya tersebut, Hardiant menawarkan solusi bagi permasalahan pertanian di Indonesia yang masih bergantung pada pestisida.

Saat dihubungi uns.ac.id, Hardiant mengungkapkan alasan memilih tema tersebut. Menurutnya, penggunaan pestisida secara berlebihan dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Ia menilai perlu adanya teknologi modern yang ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan ini.

“Agroboy Robotic atau AR memiliki fungsi untuk meningkatkan kualitas hasil panen serta pemanfaatan energi ramah lingkungan,” ujar Hardiant, Kamis (12/6/2025).

Hardiant menjelaskan konsep kerja Agroboy Robotic yang dikembangkan. Robot ini dapat dikendalikan melalui aplikasi smartphone untuk mengontrol berbagai hal. Fitur yang tersedia meliputi penjebak serangga, penyemprot air, kamera sensor, dan sistem suara pengusir hama. Ia berharap inovasi ini bisa membantu meningkatkan hasil panen tanpa bahan kimia berbahaya. Selain itu, Agroboy Robotic juga diharapkan mampu mendukung program ketahanan pangan nasional.

“Dengan ini (fitur agroboy robotic), harapannya kualitas hasil panen akan menjadi lebih baik hasilnya serta ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan kimia sama sekali untuk mengusir hama,” harapnya.

Lebih lanjut, menurutnya, inovasi berbasis teknologi sangat penting dalam menghadapi tantangan era digital. Terlebih, Indonesia saat ini tengah mempersiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045. Teknologi menjadi kunci penting dalam peningkatan produktivitas di berbagai sektor, termasuk pertanian.

Dalam proses penyusunan karya tulis, Hardiant juga menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari mencari ide yang relevan hingga merancang prototipe secara detail. Menjadi hal yang cukup menantang saat mengaitkan permasalahan pertanian dengan solusi berbasis teknologi modern.

Tantangan juga muncul saat mempresentasikan karyanya di hadapan dewan juri. Hardiant harus mempresentasikan secara individu, sementara peserta lain hadir bersama rekan satu tim. Meski sempat gugup, Hardiant tetap percaya diri dan berhasil menyampaikan gagasannya dengan baik.

Atas prestasi ini, Hardiant merasa bangga bisa membawa nama baik UNS di luar Pulau Jawa. Ia berharap capaian ini bisa menjadi awal dari perjalanan panjangnya dalam berkarya dan berkontribusi. Ia juga berpesan kepada mahasiswa UNS lainnya untuk terus berinovasi dan aktif berkarya. Menurutnya, kunci keberhasilan adalah fokus, disiplin, dan yakin terhadap kemampuan diri.

“Tentu saja bahagia karena saya sudah memimpikan sejak lama untuk meraih prestasi guna membanggakan almamater Universitas, Fakultas, dan Prodi. Dapat meraih juara di luar pulau Jawa membuat saya semakin bersyukur,” ungkap Hardiant.
Humas UNS