Dua Mahasiswa Internasional UNS Raih Juara Pertama di Dojo Science and Genomics World Champions 2025

Dua Mahasiswa Internasional UNS Raih Juara Pertama di Dojo Science and Genomics World Champions 2025

UNS – Dua mahasiswa internasional dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi Dojo Science and Genomics World Champions 2025. Mereka tergabung dalam Tim 28, yaitu Sylvia Aulila Lugereka dari Tanzania (Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat) dan Nuha Amer Al-Aghbari dari Yaman (Program Studi S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat). Mereka berhasil mengungguli 22 tim lain yang lolos dari 60 tim se-Indonesia berdasarkan keberhasilan mereka mengikuti tiga minicamp Dojo selama 4 bulan terakhir.

Apa itu Genomics Science Dojo?

Program Genomics Science Dojo didukung oleh British Embassy di Jakarta dan pertama kali dilaksanakan pada tahun 2024. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas peneliti dalam menganalisis data genomik dan ilmu kesehatan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih efektif. Program ini terbuka bagi semua individu tanpa memandang gender, latar belakang, maupun penyandang disabilitas.

“Program ini dibagi ke dalam beberapa gelombang peserta, di mana setiap peserta mengerjakan proyek masing-masing, biasanya berupa manuskrip. Para peserta harus mempertahankan ide mereka dihadapan lawan. Program ini juga melatih peserta untuk publikasi, melakukan tinjauan artikel, serta memahami proses peer-review. Bagi peserta terpilih, akan diberikan kesempatan untuk mempublikasikan karya mereka di jurnal-jurnal bereputasi secara gratis,” jelas Sylvia kepada uns.ac.id pada Rabu (4/6/2025).

Sylvia menambahkan bahwa setiap tim harus terdiri dari dua orang dan program ini sepenuhnya dibiayai. Semua peserta mendapatkan biaya penuh mulai dari tiket pesawat, akomodasi, konsumsi, transportasi lokal, dan lain-lain. Program Genomics Science Dojo 2025 dimulai dengan workshop yang diadakan secara daring pada 15-16 Mei, lalu minicamp secara luring di Novotel Cikini Jakarta pada 19-22 Mei. Terakhir ditutup dengan Shinjitsu Grand tournament pada 23 Mei.

Program tersebut terdiri dari tiga Cycle, yaitu Cycle 1, 2, dan 3. Dari masing-masing Cycle akan diseleksi delapan tim yang akan maju ke puncak acara, Shinjitsu Grand tournament pada 23 Mei.

Masing-masing Cycle menghasilkan delapan tim yang lolos seleksi, sehingga total 24 tim bertanding di Jakarta. Akan tetapi, di Genomics Science Dojo 2025 ini terdapat dua tim yang tidak dapat mengikuti kegiatan final, sehingga tersisa total 22 tim dari seluruh Cycle. Semua tim tersebut bertanding untuk menentukan juara pertama.

Sylvia juga menambahkan bahwa selama workshop di Jakarta, tim-tim tersebut juga mengikuti challenge Shinjitsu Ninja, yang berisi serangkaian challenge menantang yang harus diselesaikan secara berurutan. Beberapa tantangan yang dihadapi meliputi pembuatan abstrak, visualisasi data, dan kritik terhadap hasil peer review. Bagi tim Sylvia, sesi ini menjadi keuntungan tersendiri karena tantangan ini baru pertama kali diperkenalkan di Cycle 3 yang merupakan Cycle yang Sylvia ikuti.

Berbagi Pengalaman selama Mengikuti Kompetisi

Sylvia dan rekannya, Nuha, merupakan satu-satunya tim dengan mahasiswa internasional dalam kompetisi tersebut, sementara peserta lain mayoritas berasal dari Indonesia. Awalnya, Sylvia merasa ragu akan memenangkan kompetisi ini karena mayoritas peserta berasal dari bidang yang lebih spesifik, seperti bioteknologi dan genetika, sedangkan mereka berasal dari kesehatan masyarakat dan menggunakan data sekunder dari IFLS. “Tapi kesempatan ini menjadi pengalaman yang bagus karena kami bisa mempertahankan ide dan melawan argumen dari tim lain,” tambah Sylvia.

Sylvia bercerita bahwa tekanan besar dirasakan karena mereka tidak tahu siapa lawan berikutnya, sehingga harus selalu siap dan terus mempersiapkan diri. Setiap tim membuat poster presentasi, sehingga peserta harus cepat mempelajari materi lawan, mencari kelemahan, dan menyiapkan pertanyaan dan argumen. “Proses ini sangat membuat stres, malam itu kami tidak tidur,” katanya.

Awalnya mereka tidak berharap menang, tapi setelah menang melawan lawan pertama dan kedua, mereka mulai serius.

Selama program berlangsung, tim Sylvia dibimbing oleh Dr. Edward sebagai mentor atau sensei tim. Dr. Edward memberi arahan mengenai cara mempertahankan ide, apa yang harus diucapkan, dan apa yang harus dihindari. Peserta juga boleh berkonsultasi dengan doktor lain yang hadir. Mentorship ini sangat membantu tim-tim yang bertanding.

Sylvia mengaku tidak menyangka mereka bisa menang, mengingat peserta lain mayoritas berasal dari mahasiswa S2/S3 atau profesional, dan hanya beberapa yang sarjana. Sebagai persiapan, Sylvia mempelajari topik yang akan Nuha bawakan secara mendalam. Mereka juga berbagi peran, Nuha menjawab pertanyaan dari para tim lawan, sementara Sylvia fokus menyerang argumen lawan. Kerja sama yang baik inilah yang membuat mereka menjadi pemenang.

Sylvia merekomendasi mahasiswa UNS dalam bidang sains untuk ikut serta dalam program Dojo Science and Genomics World Champions karena program ini memberikan pengalaman berharga. Program ini membantu membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, peserta yang terpilih berkesempatan mendapat publikasi gratis untuk riset mereka, yang akan sangat bermanfaat bagi para peserta.

“Saya sangat menyarankan mahasiswa UNS, terutama dalam bidang sains, untuk dapat mengikuti program ini tahun depan. Pengalaman ini dapat membantu membangun kepercayaan diri. Dalam kompetisi debat ini, kita ditantang untuk menjawab pertanyaan yang tidak terduga, sehingga kita harus berpikir kritis dan cepat. Benefit lainnya yaitu mendapatkan kesempatan untuk publikasi gratis yang mana ini merupakan kesempatan yang langka dan bagus,” pungkas Sylvia.
Humas UNS