UNS – Kelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menyelenggarakan acara Kilas Balik Sejarah Melalui Suara (Kibas), sebuah inovasi pembelajaran sejarah inklusif yang berkolaborasi dengan komunitas Difalitera.org. Kegiatan ini berlangsung di Omah Buku Bahagia, Kartasura, dengan dihadiri 15 anggota komunitas Difalitera, para akademisi UNS, dan relawan.
Acara Kibas digagas untuk menghadirkan sejarah dalam format audio, sehingga dapat diakses oleh teman-teman tunanetra. Dengan semangat “Suara Sejarah untuk Semua,” acara ini menyajikan narasi sejarah tokoh-tokoh lokal Surakarta seperti Brigjen Ignatius Slamet Riyadi dan Adipati Mangkunegoro VII. Narasi tersebut diikuti dengan diskusi interaktif bersama Nur Fatah Abidin, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Sejarah UNS, dan dihadiri pula oleh Prof. Dr. Leo Agung, M.Pd., serta dosen pembimbing Dr. Sutiyah, M.Pd., M.Hum.
Salah satu mahasiswa PPG Pendidikan Sejarah UNS sekaligus Ketua Panitia, Raka Kumara Jati menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan akses belajar sejarah yang setara bagi penyandang tunanetra. Program ini juga bertujuan agar teman-teman tunanetra merasa dihargai dan mendapatkan wawasan baru tentang sejarah melalui cara yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Melalui program ini, kami mendapat pengalaman bermakna dalam menciptakan acara yang inklusif dan menyadari pentingnya menyentuh kehidupan orang lain melalui upaya kecil. Kami juga ingin menunjukkan bahwa sejarah dapat dinikmati tidak hanya melalui teks, tetapi juga melalui suara. Kami ingin membangun kesadaran bahwa pendidikan sejarah harus bersifat inklusif,” ujar Raka.
Acara ini juga melibatkan quiz bingo untuk menambah interaksi, dan hasilnya jauh melampaui ekspektasi. Peserta tunanetra menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan pertanyaan kritis dan berdiskusi secara mendalam tentang materi yang disajikan.


Indah Darmastuti, pendiri Difalitera, mengapresiasi upaya mahasiswa PPG UNS. “Acara ini bukan hanya sarana pembelajaran sejarah, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi bagi komunitas kami. Kami berharap acara seperti ini dapat diadakan kembali dengan tema yang lebih beragam,” ungkapnya.
Kibas sendiri adalah bagian dari proyek kepemimpinan mahasiswa PPG Sejarah UNS yang mencakup produksi podcast sejarah untuk diunggah ke website Difalitera.org. Proyek ini berhasil menyentuh sisi inklusivitas dan meningkatkan literasi sejarah bagi penyandang tunanetra, memberikan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan inklusif.
Harapan dan Keberlanjutan
Melalui proyek ini, Kelompok Mahasiswa PPG Pendidikan Sejarah berharap dapat menginspirasi komunitas akademik untuk terus memperjuangkan pendidikan yang inklusif. “Kami ingin menekankan bahwa teman-teman difabel juga mampu terlibat aktif dalam diskusi akademik dan belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan,” tambah Raka.
Dengan kolaborasi yang solid dan manajemen yang efektif, proyek ini menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar, baik bagi komunitas Difalitera maupun masyarakat umum. Para mahasiswa berharap bahwa inisiatif seperti ini dapat berkembang lebih jauh untuk mencakup lebih banyak tokoh sejarah lokal dan menyentuh komunitas yang lebih luas. HUMAS UNS



















