Mahasiswa FIB UNS Selenggarakan Pementasan Drama Berbahasa Inggris

Mahasiswa FIB UNS Selenggarakan Pementasan Drama Berbahasa Inggris
Dengarkan artikel

UNS English Department 2023 (ED 23) atau mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2023 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan pementasan drama berbahasa Inggris sebagai bagian dari kegiatan akademik. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (28/6/2025) di Gedung Auditorium Padmanegara SMKN 8 Surakarta. Pementasan ini merupakan bagian dari penilaian akhir semester untuk mata kuliah Introduction to English Drama, yang rutin diselenggarakan setiap akhir semester genap (semester 4) setiap tahunnya.

Pementasan drama kali ini menampilkan dua kelas sebagai penampil utama. Kelas A membawakan drama berjudul The Perplex Interrogation, sementara kelas B menampilkan drama berjudul God is Dead. Kedua drama tersebut merupakan hasil karya orisinal yang ditulis dan diproduksi oleh masing-masing kelas. Sebagai pembuka acara, pementasan diawali dengan persembahan Tari Bambangan Cakil atau Tari Perang Kembang yang dibawakan oleh siswa SMKN 8 Surakarta.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari dosen pengampu mata kuliah Introduction to English Drama, Karunia Purna Kusciati, S.S., M.Si., atau yang akrab disapa Miss Nia. Dalam sambutannya, Miss Nia menyampaikan bahwa pementasan kali ini merupakan produksi ketujuh sejak program ini dimulai, termasuk dua pementasan virtual yang telah diselenggarakan pada tahun 2021 dan 2022. Ia juga menjelaskan bahwa dalam kelas Introduction to English Drama yang diadakan pada setiap semester 4, teori produksi drama diperkenalkan dan didiskusikan. Setelah itu, teori tersebut diterapkan dalam bentuk pertunjukan drama sebagai proyek akhir semester.

Pada kesempatan tersebut, Miss Nia sangat mengapresiasi ED 23 yang telah mempersiapkan pementasan ini selama kurang lebih empat bulan di tengah padatnya kegiatan perkuliahan. Ia menambahkan bahwa produksi kali ini menjadi lebih istimewa karena menampilkan naskah orisinal yang ditulis sendiri oleh para mahasiswa. “Semoga drama kali ini dapat memberikan hiburan, dan pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik,” ujar Miss Nia.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Program Studi Sastra Inggris, Muhammad Taufiq Al Makmun, S.S., M.A., Ph.D., atau yang akrab disapa Mr. Taufiq. Ia merasa sangat bangga dan mengapresiasi pementasan ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan contoh nyata dari project-based learning yang selama ini didengungkan dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya membaca dan mengkaji teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi.

Mr. Taufiq juga berharap agar para mahasiswa Sastra Inggris semakin berkembang dan leluasa mengekspresikan diri, terutama setelah lulus dari Sastra Inggris. Ia memuji karya orisinal dalam pementasan drama kali ini sebagai hasil kreativitas mahasiswa yang patut dibanggakan. “Semoga kedua cerita ini dapat menginspirasi pemikiran kita, membadai dalam otak dan benak kita. Itulah sastra, diinspirasi oleh masyarakat dan akan mempengaruhi masyarakat,” tutupnya.

Acara dilanjutkan dengan pementasan drama pertama yang berjudul The Perplex Interrogation. Drama ini mengisahkan proses interogasi atas kematian misterius Anna Scott, yang ditemukan tak bernyawa setelah jatuh dari rumahnya. Kecurigaan pun mengarah pada tiga orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian: seorang tetangga yang kaya raya, seorang dokter, dan seorang kurir. Pada saat proses interogasi, serangkaian kesalahpahaman dan perilaku mencurigakan justru mengaburkan kebenaran. Namun, sebuah komentar yang terlontar secara tidak sengaja akhirnya memicu sebuah petunjuk yang membawa mereka semakin dekat pada pelaku yang sebenarnya.

Drama bergenre tragedi yang dibalut unsur komedi ini sukses menghibur para penonton. Dengan total sembilan karakter penting, pementasan ini menghadirkan alur cerita yang menarik. Sutradara The Perplex Interrogation, Faridah, mengaku bahwa para pemeran telah dipilih secara tepat karena mereka sangat merepresentasikan karakter dalam naskah. Ia juga menambahkan bahwa para pemain sangat menikmati peran masing-masing tokoh, sehingga mampu membawakan karakter dengan penuh penjiwaan.

Penampilan drama terakhir sekaligus penutup berjudul God is Dead. Drama ini mengisahkan seorang jaksa yang tampak berwibawa dari luar, namun menyimpan rahasia tersembunyi di balik penampilannya. Cerita ini berfokus pada enam tokoh utama, Eleanor, sang jaksa misterius; Catherine dan Cecilia, dua pengacara dengan prinsip moral yang bertolak belakang; Selma, polisi yang berlidah tajam; Ophelia, hakim dengan masa lalu kelam; serta Grey, terdakwa yang terjebak di antara konflik mereka. Ketika empat dari mereka berkumpul dalam sebuah jamuan makan malam yang sarat ketegangan, rahasia dan luka lama mulai terungkap.

Drama kedua ini bergenre psikologis dan menyoroti sejauh mana seseorang rela melangkah demi memperbaiki sistem yang telah rusak dari dalam. Dengan enam tokoh utama, drama ini menghadirkan alur cerita yang menggugah kesadaran para penonton. Sang sutradara, Kartika, menyampaikan bahwa para pemeran berlatih dengan totalitas untuk membawakan karakter masing-masing. Para pemeran juga mengaku memiliki role model masing-masing sebagai referensi untuk mendalami peran, sehingga mampu menjiwai setiap karakter dengan lebih maksimal.
Humas UNS