Dialog Sehat RS UNS: Benjolan di Leher, Apakah Tanda Kanker?

Dialog Sehat RS UNS Benjolan di Leher, Apakah Tanda Kanker

UNS Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan kegiatan Dialog Sehat bertajuk “Benjolan di Leher, Apakah Tanda Kanker?”. Acara ini dihadiri puluhan pasien, keluarga pasien, serta masyarakat umum, dan menghadirkan narasumber Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher RS UNS, dr. Andri Firmansyah, Sp.THT-KL,.

Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia (World Head and Neck Cancer Day). Tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kanker kepala dan leher serta pentingnya deteksi dini. Hal ini dikarenakan kasus kanker sering kali ditemukan pada stadium lanjut akibat keterlambatan pemeriksaan.

Kanker kepala dan leher merupakan salah satu masalah kesehatan global yang memiliki angka kejadian cukup tinggi. Menurut data World Health Organization (WHO), kanker kepala dan leher termasuk dalam 10 besar kanker terbanyak di dunia. Salah satu gejala yang sering ditemukan adalah benjolan di leher. Namun banyak masyarakat yang menganggapnya sepele atau menunda pemeriksaan. Melalui kegiatan ini, RS UNS ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa tidak semua benjolan adalah kanker, tetapi setiap benjolan yang tidak kunjung sembuh harus mendapat perhatian medis.

Pentingnya Mengenali Benjolan di Leher

Dalam paparannya, dr. Andri Firmansyah menjelaskan bahwa tidak semua benjolan di leher merupakan kanker, namun tetap perlu diwaspadai. Beberapa benjolan bisa saja disebabkan oleh pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi, gangguan tiroid, atau tumor jinak. Namun, ada pula benjolan yang dapat menjadi indikasi kanker kepala dan leher.

“Benjolan atau tumor tidak selalu berarti kanker, tetapi masyarakat harus waspada. Apabila benjolan bertahan lebih dari dua minggu, ukurannya semakin membesar, terasa keras, atau disertai gejala lain seperti sulit menelan dan suara serak, maka sebaiknya segera diperiksakan,” tutur dr. Andri Firmansyah seperti dikuti dari rs.uns.ac.id, Jumat (12/9/2025).

Tanda-Tanda Benjolan yang Perlu Diwaspadai

Menurut materi yang disampaikan dr. Andri Firmansyah, ada beberapa gejala yang patut diperhatikan. Diantaranya benjolan bertahan lebih dari 2 minggu atau semakin membesar, teraba padat dan berkurang mobilitasnya disertai luka pada permukaan benjolan, menimbulkan sesak napas atau sulit menelan, luka di area mulut yang tidak kunjung sembuh. Perubahan suara atau suara serak menetap, sumbatan hidung dan mimisan berulang, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, amandel membesar hanya di satu sisi, dan lesi pada kulit yang menetap.

“Gejala-gejala tersebut dapat menjadi petunjuk awal yang tidak boleh diabaikan,” imbuhnya.

Pentingnya Deteksi Dini

dr. Andri Firmansyah juga menekankan pentingnya deteksi dini untuk menentukan penyebab benjolan di leher. Pemeriksaan dapat meliputi konsultasi dengan dokter spesialis THT. Lalu radiologi melalui USG, CT Scan, Rontgen. Laboratorium yaitu dengan pemeriksaan darah, mikrobiologi, tumor marker. Patologi anatomi yaitu dengan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) atau biopsi jaringan.

“Semakin cepat benjolan diperiksa, semakin baik peluang keberhasilan terapi bila ternyata ditemukan kanker,” tambah dr. Andri Firmansyah. HUMAS UNS