Dokter RS UNS menjelaskan prolaps uteri (turun berok) adalah pergeseran rahim akibat melemahnya otot panggul. Gejalanya meliputi sensasi berat hingga tonjolan di vagina, serta gangguan berkemih dan buang air besar. Penanganannya bervariasi dari senam Kegel hingga operasi, tergantung tingkat keparahan.
UNS — Prolaps uteri atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai turun berok merupakan kondisi ketika rahim bergeser dari posisi normalnya dan turun ke arah vagina akibat melemahnya otot serta jaringan penyangga dasar panggul. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup perempuan apabila tidak ditangani dengan tepat.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Uroginekologi Rekonstruksi RS UNS, dr. Asih Anggraeni, Sp.OG, Subsp. Urogin-RE, M.Kes., menjelaskan bahwa prolaps uteri terjadi ketika otot dan ligamen yang berfungsi menopang rahim mengalami penurunan kekuatan sehingga tidak lagi mampu mempertahankan posisi organ reproduksi secara optimal.
Berdasarkan tingkat keparahannya, prolaps uteri dibagi menjadi empat stadium. Pada stadium pertama, rahim turun sebagian namun masih berada di dalam vagina. Stadium kedua ditandai dengan posisi rahim yang turun hingga mendekati lubang vagina. Pada stadium ketiga, sebagian rahim mulai terlihat keluar dari vagina, sedangkan stadium keempat atau prolaps total terjadi ketika seluruh bagian rahim keluar dari vagina.
Pada tahap awal, prolaps uteri sering kali tidak menimbulkan gejala yang berarti. Namun seiring perkembangan kondisi, pasien dapat merasakan sensasi berat atau mengganjal di area panggul, nyeri punggung bawah, perut bagian bawah, atau panggul, terutama setelah berdiri lama maupun melakukan aktivitas berat. Pada stadium lanjut, dapat muncul tonjolan jaringan yang terlihat atau teraba di area vagina.
Selain itu, prolaps uteri juga dapat menyebabkan gangguan fungsi organ di sekitarnya. Penderita dapat mengalami kesulitan berkemih, rasa tidak tuntas saat buang air kecil, hingga inkontinensia urine atau kebocoran urine saat batuk dan tertawa. Gangguan buang air besar seperti sembelit juga dapat terjadi akibat tekanan pada rektum. Sebagian pasien bahkan merasakan nyeri saat berhubungan seksual karena perubahan posisi organ reproduksi.
Melemahnya struktur penyangga panggul umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko. Persalinan normal berulang, terutama dengan bayi berukuran besar, menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, bertambahnya usia dan menopause yang menyebabkan penurunan hormon estrogen turut berkontribusi terhadap berkurangnya elastisitas jaringan panggul. “Faktor lain seperti obesitas, kebiasaan mengangkat beban berat, sembelit kronis, serta batuk berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya prolaps uteri,” terang dr. Asih seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Senin (8/6/2026).
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis terkait keluhan dan riwayat persalinan pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik panggul untuk menilai posisi rahim. Bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG) dan urinalisis juga dapat dilakukan guna membantu evaluasi kondisi pasien secara menyeluruh.
Penanganan prolaps uteri di RS UNS disesuaikan dengan tingkat keparahan yang dialami pasien. Pada kasus ringan hingga sedang, terapi konservatif dapat menjadi pilihan. Salah satunya adalah latihan otot dasar panggul melalui senam Kegel yang bertujuan memperkuat jaringan penyangga rahim. Selain itu, penggunaan alat bantu berupa cincin pessarium dapat membantu menopang rahim pada pasien yang belum memerlukan atau belum memungkinkan menjalani operasi. Perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan ideal, meningkatkan konsumsi serat, serta berhenti merokok juga berperan penting dalam mengurangi gejala dan mencegah perburukan kondisi.
Sementara itu, pada kasus yang lebih berat atau ketika terapi konservatif tidak lagi memberikan hasil yang optimal, tindakan operatif dapat dilakukan.
Pilihan operasi meliputi histerektomi melalui vagina, kolporafi anterior dan posterior untuk memperbaiki posisi organ panggul, serta prosedur uterine suspension yang bertujuan mengembalikan dukungan terhadap organ reproduksi.
Pencegahan prolaps uteri dapat dilakukan sejak dini melalui penerapan gaya hidup sehat. Rutin melakukan senam Kegel, menjaga berat badan ideal, memenuhi kebutuhan cairan dan serat harian, serta menghindari kebiasaan mengangkat beban berlebihan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan dasar panggul.
Masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila merasakan keluhan berupa sensasi berat pada panggul, muncul benjolan di area kewanitaan, atau gangguan berkemih dan buang air besar yang mengganggu aktivitas sehari-hari. “Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, prolaps uteri dapat ditangani secara efektif sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga,” pungkasnya. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu prolaps uteri atau turun berok?
Prolaps uteri atau turun berok adalah kondisi ketika rahim bergeser dari posisi normalnya dan turun ke arah vagina akibat melemahnya otot serta jaringan penyangga dasar panggul. Lihat di artikel
Apa saja gejala prolaps uteri?
Gejala prolaps uteri meliputi sensasi berat atau mengganjal di area panggul, nyeri punggung bawah, dan pada stadium lanjut dapat muncul tonjolan jaringan di area vagina. Lihat di artikel
Apa penyebab utama prolaps uteri?
Penyebab utama prolaps uteri adalah persalinan normal berulang, terutama dengan bayi berukuran besar, serta bertambahnya usia dan menopause. Lihat di artikel
Bagaimana penanganan prolaps uteri di RS UNS?
Penanganan prolaps uteri di RS UNS disesuaikan dengan tingkat keparahan, mulai dari terapi konservatif seperti senam Kegel dan pessarium, hingga tindakan operatif pada kasus berat. Lihat di artikel
Bagaimana cara mencegah prolaps uteri?
Pencegahan prolaps uteri dapat dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat, rutin melakukan senam Kegel, menjaga berat badan ideal, dan menghindari kebiasaan mengangkat beban berlebihan. Lihat di artikel



















