Dokter RS UNS, dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A, memberikan panduan penanganan kejang pada anak. Pertolongan pertama yang tepat penting untuk mencegah cedera dan membantu diagnosis, mengingat kejang adalah gejala dari berbagai kondisi medis.
UNS — Melihat anak mengalami kejang merupakan salah satu kondisi yang paling mengkhawatirkan bagi orang tua. Tubuh anak dapat tampak kaku, tangan dan kaki bergerak tidak terkendali, mata mendelik, hingga kehilangan kesadaran. Dalam situasi tersebut, kepanikan sering kali membuat orang tua melakukan tindakan yang keliru, seperti memasukkan sendok atau benda lain ke dalam mulut anak.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A, mengingatkan bahwa pertolongan pertama yang tepat sangat penting untuk mencegah cedera dan membantu proses diagnosis. “Sebagian besar kejang pada anak tidak menyebabkan kerusakan otak permanen. Namun, setiap kejadian kejang tetap perlu dievaluasi oleh tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya sehingga penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi anak,” terang dr. Aisya seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Kamis (23/7/2026).
Kejang merupakan kondisi yang terjadi akibat aktivitas listrik yang tidak normal di otak sehingga menimbulkan perubahan pada gerakan tubuh, kesadaran, perilaku, maupun sensasi. Kejang bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis. Durasi kejang dapat berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit dan dapat terjadi satu kali maupun berulang.
Penyebab kejang pada anak cukup beragam. Salah satu yang paling sering dijumpai adalah kejang demam, yaitu kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh di atas 38°C pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun tanpa adanya infeksi pada sistem saraf pusat. Selain itu, kejang juga dapat dipicu oleh epilepsi, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis, cedera kepala, gangguan kadar gula darah, gangguan elektrolit, keracunan obat, maupun kelainan bawaan pada sistem saraf. Riwayat keluarga dengan kejang atau epilepsi juga dapat meningkatkan risiko pada sebagian anak.
Saat anak mengalami kejang, orang tua dianjurkan untuk tetap tenang. Letakkan anak di tempat yang aman dengan posisi miring agar jalan napas tetap terbuka, longgarkan pakaian di sekitar leher, dan jauhkan benda-benda yang berpotensi menyebabkan cedera. Hindari memasukkan apa pun ke dalam mulut anak serta jangan menahan gerakan kejang secara paksa. Orang tua juga disarankan mencatat waktu mulai kejang dan lamanya kejang berlangsung sebagai informasi penting bagi dokter.
Upaya pencegahan kejang bergantung pada penyebabnya. Orang tua perlu memastikan anak memperoleh imunisasi sesuai jadwal, asupan gizi dan cairan yang cukup, serta segera memeriksakan anak apabila mengalami demam tinggi atau tanda-tanda infeksi. Pada anak yang telah didiagnosis epilepsi, obat antikejang harus diminum secara teratur sesuai anjuran dokter dan tidak boleh dihentikan tanpa konsultasi.
RS UNS juga mengimbau masyarakat untuk segera membawa anak ke instalasi gawat darurat apabila kejang berlangsung lebih dari lima menit, terjadi berulang dalam waktu 24 jam, disertai kesulitan bernapas, wajah tampak kebiruan, anak tidak sadar setelah kejang berhenti, atau kejang terjadi setelah cedera kepala. “Pemeriksaan segera juga diperlukan apabila kejang terjadi untuk pertama kali, dialami bayi berusia kurang dari enam bulan, atau muncul tanpa disertai demam,” imbuhnya.
Sementara itu, apabila kejang berlangsung kurang dari lima menit, hanya terjadi satu kali dalam 24 jam, terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, dan anak kembali sadar setelah kejang, orang tua tetap dianjurkan membawa anak ke dokter pada hari yang sama. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui penyebab kejang dan memastikan tidak ada kondisi lain yang memerlukan penanganan khusus.
Melalui edukasi ini, RS UNS mengajak masyarakat untuk lebih memahami cara mengenali dan menangani kejang pada anak secara tepat. Penanganan medis yang cepat dan sesuai dapat mencegah komplikasi serta meningkatkan peluang kesembuhan anak. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa yang harus dilakukan orang tua saat anak mengalami kejang?
Saat anak kejang, orang tua dianjurkan untuk tetap tenang, memposisikan anak miring, longgarkan pakaian leher, dan jauhkan benda berbahaya. Jangan memasukkan benda ke mulut atau menahan gerakan kejang. Lihat di artikel
Kapan harus segera membawa anak ke IGD saat kejang?
Segera bawa anak ke IGD jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, berulang dalam 24 jam, disertai kesulitan bernapas, wajah kebiruan, tidak sadar setelah kejang, atau terjadi setelah cedera kepala. Lihat di artikel
Apa saja penyebab umum kejang pada anak?
Penyebab kejang pada anak meliputi kejang demam, epilepsi, infeksi otak, cedera kepala, gangguan gula darah, gangguan elektrolit, keracunan obat, atau kelainan bawaan saraf. Lihat di artikel
Bagaimana cara mencegah kejang pada anak?
Pencegahan kejang bergantung pada penyebabnya, meliputi imunisasi, asupan gizi cukup, pemeriksaan saat demam tinggi, dan kepatuhan minum obat antikejang jika didiagnosis epilepsi. Lihat di artikel

















