Ahli Gizi RS UNS, Banun Ma’rifah Fathsidni, membagikan tips konsumsi daging sehat pasca Iduladha. Tips meliputi pemilihan daging rendah lemak, metode pengolahan yang disarankan seperti merebus atau memanggang, serta pembatasan natrium dan lemak tambahan. Pentingnya mengimbangi dengan sayur dan buah juga ditekankan.
UNS — Momentum Hari Raya Iduladha identik dengan meningkatnya konsumsi daging di masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang memilih menyimpan daging kurban di dalam freezer agar dapat dikonsumsi secara bertahap dalam beberapa hari bahkan beberapa minggu ke depan. Meski demikian, pola konsumsi dan pengolahan daging tetap perlu diperhatikan agar manfaat gizinya dapat diperoleh secara optimal tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Menyikapi hal tersebut, Ahli Gizi Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Banun Ma’rifah Fathsidni, S.Gz., membagikan sejumlah tips mengonsumsi dan mengolah daging secara lebih sehat, aman, dan seimbang.
Banun menjelaskan bahwa langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah memilih daging yang berkualitas baik dengan kandungan lemak yang lebih rendah. Ia menyarankan masyarakat untuk mengurangi konsumsi bagian daging yang banyak mengandung lemak, seperti gajih maupun jeroan, karena kandungan lemaknya relatif lebih tinggi dibandingkan bagian daging tanpa lemak.
“Pilihlah daging yang segar dan berkualitas baik serta minim kandungan lemak. Konsumsi bagian daging tanpa lemak dapat menjadi pilihan yang lebih sehat,” terang Banun, Rabu (3/6/2026).
Selain pemilihan bahan, cara pengolahan daging juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas gizi makanan. Banun merekomendasikan metode memasak seperti merebus, mengukus, atau memanggang dibandingkan menggoreng. Penggunaan minyak maupun santan juga sebaiknya dibatasi agar kandungan lemak dalam makanan tidak berlebihan.
Beberapa contoh olahan daging yang lebih sehat antara lain gadon daging sapi, macaroni schotel daging kukus, maupun tahu isi daging yang diolah dengan cara dikukus. Menurutnya, metode pengolahan tersebut dapat membantu mengurangi asupan lemak tambahan tanpa mengurangi cita rasa makanan.
Lebih lanjut, Banun mengingatkan masyarakat untuk membatasi penggunaan bahan-bahan yang tinggi natrium dan lemak tambahan dalam masakan. Penambahan kecap, penyedap rasa, maupun santan secara berlebihan dapat meningkatkan kandungan natrium dan lemak dalam makanan sehingga perlu digunakan secara bijak.
Ia juga menyarankan untuk menghindari konsumsi makanan yang dipanaskan berulang kali. Selain dapat menurunkan kualitas cita rasa dan tekstur makanan, pemanasan berulang berpotensi memengaruhi kualitas zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Tidak kalah penting, konsumsi daging perlu diimbangi dengan asupan sayur dan buah yang cukup setiap hari. Sayur dan buah mengandung serat, vitamin, dan mineral yang membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan serta mendukung keseimbangan pola makan.
“Meskipun sedang banyak mengonsumsi daging, jangan lupa tetap memenuhi kebutuhan sayur dan buah setiap hari serta menerapkan prinsip gizi seimbang,” tutur Banun. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Bagaimana cara memilih daging yang lebih sehat untuk dikonsumsi?
Pilihlah daging yang segar dan berkualitas baik serta minim kandungan lemak. Konsumsi bagian daging tanpa lemak dapat menjadi pilihan yang lebih sehat. Lihat di artikel
Metode pengolahan daging apa yang direkomendasikan ahli gizi RS UNS?
Ahli gizi merekomendasikan metode memasak seperti merebus, mengukus, atau memanggang dibandingkan menggoreng, serta membatasi penggunaan minyak dan santan. Lihat di artikel
Mengapa penting untuk membatasi penggunaan bahan tambahan dalam masakan daging?
Pembatasan penggunaan bahan tinggi natrium dan lemak seperti kecap, penyedap rasa, maupun santan secara berlebihan penting agar kandungan lemak dan natrium dalam makanan tidak berlebihan. Lihat di artikel
Apa yang perlu dilakukan selain mengonsumsi daging setelah Iduladha?
Konsumsi daging perlu diimbangi dengan asupan sayur dan buah yang cukup setiap hari untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan dan mendukung keseimbangan pola makan. Lihat di artikel



















