UNS – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar “FK UNS Talks” dengan menghadirkan dr. Maryani, M.Si., Sp.MK (K), seorang Ahli Penyakit Infeksi dan Spesialis Mikrobiologi Klinis. Dalam kesempatan tersebut, dr. Maryani memberikan penjelasan mendalam tentang pentingnya pencegahan resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Dalam diskusi yang tayang di kanal Youtube Senin (3/3/2025) tersebut, dr. Maryani menjelaskan bahwa resistensi antibiotik adalah kondisi di mana bakteri tidak lagi dapat dilawan dengan antibiotik tertentu. Kondisi ini dipicu oleh perubahan pada bakteri, seperti kemampuan untuk menghasilkan enzim yang menonaktifkan antibiotik, perubahan tubuh pada bakteri yang membuat obat tidak efektif, hingga kemampuan bakteri untuk mengeluarkan kembali antibiotik yang telah masuk ke dalam sel mereka. Hal tersebut seringkali dipengaruhi oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat.
“Paparan antibiotik yang tidak sesuai, seperti penggunaan dosis yang kurang tepat atau waktu pemberian yang tidak teratur, memberikan kesempatan bagi bakteri untuk beradaptasi dan menjadi resisten,” jelas dr. Maryani.

Ia menegaskan bahwa masyarakat harus memahami pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak agar infeksi dapat diobati secara efektif tanpa memicu resistensi. “Diskusi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya resistensi bakteri yang kian mengancam kesehatan global,” imbuhnya.
Penggunaan antibiotik yang tepat, menurut dr. Maryani, adalah dengan pemilihan jenis antibiotik yang sesuai jenis bakteri penyebab infeksi. Selain itu, dosis yang tepat, interval pemberian yang teratur, serta durasi pengobatan yang sesuai juga perlu diperhatikan bagi pengkonsumsi antibiotik. Dosen FK UNS tersebut juga menekankan bahwa antibiotik seharusnya selalu digunakan sesuai dengan resep dan petunjuk dokter, bukan atas inisiatif sendiri atau berdasarkan sisa obat yang pernah digunakan sebelumnya.
Dalam diskusi tersebut, dr. Maryani juga menjelaskan bahwa tidak semua penyakit infeksi memerlukan antibiotik. “Infeksi yang disebabkan oleh virus, seperti demam berdarah atau flu, tidak membutuhkan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai justru akan meningkatkan risiko resistensi,” tambahnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa resistensi bakteri tidak hanya berdampak pada kesulitan pengobatan, tetapi juga meningkatkan angka kematian, memperpanjang masa rawat inap, dan menambah beban biaya pengobatan. “Jika bakteri sudah resisten terhadap antibiotik yang umum, kita harus menggunakan obat-obatan terbaru yang lebih mahal. Ini tidak hanya membebani pasien, tetapi juga sistem kesehatan secara keseluruhan,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Maryani mengimbau masyarakat untuk selalu mematuhi aturan penggunaan antibiotik, menyelesaikan pengobatan sesuai dengan yang diresepkan dokter, dan tidak menggunakan antibiotik tanpa konsultasi terlebih dahulu. Dengan kesadaran kolektif, diharapkan resistensi bakteri dapat diminimalkan demi kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya mencegah resistensi antibiotik demi keberlangsungan efektivitas pengobatan di masa depan. Hal tersebut juga sebagai langkah UNS dalam mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3, yaitu “Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan”.
HUMAS UNS



















