UNS — Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan seminar nasional. Kegiatan ini mengusung tema pengembangan jejaring kerja sama pengelolaan naskah kuno Nusantara secara komprehensif dan berkelanjutan. Seminar ini diselenggarakan secara luring di Ruang Werkudara UPT Perpustakaan UNS, Rabu (13/7/2022).
Webinar ini menghadirkan tiga narasumber yang ahli dalam bidang pernaskahan. Mereka yaitu Ahmad Budi Wahyono, S.S. dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jawa Tengah; Ki Totok Yasmiran, S.S. dari Museum Radya Pustaka; dan Daryono, M.IP. dari UPT Perpustakaan UNS.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Achmad Nur Chamdi berharap dengan pengelolaan yang dilakukan bersama-sama dapat melestarikan naskah kuno.
“Harapannya, melalui forum ini dapat memberikan pencerahan, bertukar pikiran, dan diskusi tentang pengelolaan di bidang naskah kuno,” harapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala UPT Perpustakaan UNS, Burhanudin Harahap, Ph.D. Ia menyampaikan bahwa naskah kuno merupakan warisan budaya yang dapat menjelaskan aspek kehidupan di suatu masyarakat atau suatu kerajaan.

“Naskah ini mempunyai nilai informasi yang dapat kita kembangkan lebih lanjut. Kalau dilihat dari sisi nilai, naskah Nusantara ini kaya dengan nilai masa lalu. Perpustakaan mempunyai tugas mengelola informasi tentang naskah kuno, maka informasi yang selama ini mungkin belum dikelola secara baik harus ditingkatkan lagi,” jelasnya.
Dalam materinya, Ahmad Budi Wahyono, S.S. menyampaikan tentang tata kelola naskah kuno di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa dalam naskah kuno tersimpan berbagai informasi.
“Kandungan dalam naskah kuno antara lain Al-Quran dan hadis, hukum syariat dan adat, sejarah, teks pengobatan, perbintangan, pemerintahan, sastra, mantra dan rajah atau primbon. Medianya pun beragam, seperti daun lontar, dluwang, daun nipah, bambu, kulit kayu, kulit binatang, rotan, dan sebagainya,” jelasnya.
Contoh naskah kuno tersebut antara lain Sutasoma, Gita Sinangsaya, Maulid Nabil, Al-Quran Al Karim, Pustaha Lak Lak, Naskah Ulu, Kutika, dan Sureg Baweng.
Sementara, pemateri berikutnya yaitu Ki Totok Yasmiran menyampaikan mengenai digitalisasi naskah yang ada di Museum Radya Pustaka.

“Museum Radya Pustaka ini menyimpan ratusan koleksi naskah kuno yang umurnya sudah ratusan tahun. Koleksi naskah kuno tersebut sebagian besar sudah rusak, rapuh fisiknya, dan hancur akibat dimakan kutu. Terlebih, kertasnya sudah berumur ratusan tahun sehingga perlu dilakukan penyelamatan,” ungkapnya.
Upaya yang dilakukan Museum Radya Pustaka salah satunya adalah mengalihmediakan koleksi naskah dalam bentuk digital. Hal ini juga agar masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah dan cepat.
Pembicara terakhir, Daryono, M.IP. menyampaikan tentang peran pustakawan dalam pengembangan jejaring kerja sama pengelolaan naskah kuno. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain dengan alih media, digitalisasi, membentuk komunitas, menggandeng pakar, akademisi, peneliti, dan membangun jejaring. Humas UNS
Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti



















