Dari Surakarta ke Berlin, Dosen FK UNS Bawa Suara Bidan Indonesia ke Panggung Kesehatan Global

Dari Surakarta ke Berlin, Dosen FK UNS Bawa Suara Bidan Indonesia ke Panggung Kesehatan Global
Dengarkan artikel

Dr. Rizka Ayu Setyani, SST, MPH, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS), berpartisipasi dalam World Health Summit (WHS) 2026 di Berlin, Jerman, pada 11–13 Oktober 2026. Ia terpilih sebagai salah satu penerima fellowship untuk membawa suara dan perspektif bidan Indonesia serta isu kesehatan reproduksi ke panggung kesehatan global.

UNS — Pengalaman dan tantangan pelayanan kebidanan di Indonesia mendapat ruang dalam diskusi kesehatan global melalui partisipasi Dr. Rizka Ayu Setyani, SST, MPH, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dalam World Health Summit (WHS) 2026 di Berlin, Jerman, pada 11–13 Oktober 2026.

Dr. Rizka terpilih sebagai salah satu dari 15 penerima WHS 2026 Stipend and Fellowship Program dari lebih dari 2.000 pendaftar dari seluruh dunia. Program yang didukung Wellcome Trust ini memberikan kesempatan kepada peserta dari negara berpendapatan rendah dan menengah, serta individu dengan pengalaman hidup tertentu, untuk berpartisipasi dalam forum kesehatan global. WHS 2026 mempertemukan lebih dari 4.000 peserta dari 130 negara dengan lebih dari 400 pembicara untuk membahas tantangan dan masa depan kesehatan dunia.

Bagi Dr. Rizka, kesempatan ini bukan sekadar pencapaian personal. Melainkan ruang untuk membawa perspektif Indonesia, khususnya pengalaman bidan, perempuan, remaja, dan kelompok rentan yang membutuhkan layanan kesehatan maternal dan reproduksi yang berkualitas, inklusif, serta berorientasi pada hak.

Sebagai dosen dan bidan, Rizka memiliki kepakaran dalam kebidanan pada kelompok rentan, termasuk perempuan, remaja, serta orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Fokus tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif yang menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah SEKOCI (Sekolah Komplementer Cinta Ibu), sebuah inovasi berbasis komunitas untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. Ia juga mengembangkan model edukasi digital dan skrining mandiri untuk memperkuat upaya pencegahan HIV pada remaja.

Kepakaran tersebut menjadi landasan kontribusinya sebagai panelis dalam acara “The Role of Midwifery in Advancing Reproductive Autonomy for All” pada 11 Oktober 2026. Acara yang diselenggarakan oleh International Confederation of Midwives (ICM) bersama Center for Reproductive Rights (CRR) ini membahas peran bidan dalam memperkuat kesehatan seksual dan reproduksi, hambatan dalam penyelenggaraan layanan, serta pentingnya kebijakan yang mendukung otonomi reproduksi.

Selama WHS 2026, Rizka mengikuti berbagai agenda terpilih, termasuk diskusi tentang masa depan sistem kesehatan, promosi kesehatan, diplomasi kesehatan di era kecerdasan artifisial, akses kesehatan yang berkeadilan, serta penguatan respons global terhadap HIV. Ia juga memperluas jejaring dengan peneliti, praktisi, dan pemimpin kesehatan internasional serta mengikuti agenda kunjungan ke Kantor Kementerian Luar Negeri Federal Jerman.

Dalam forum tersebut, Dr. Rizka membawa perspektif Indonesia mengenai pentingnya pendidikan bidan yang berkualitas, pendekatan berbasis komunitas, serta sistem kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan perempuan dan remaja. Baginya, pemerataan kesehatan tidak cukup hanya dengan memperluas akses layanan, tetapi juga membutuhkan tenaga kesehatan yang kompeten, lingkungan pelayanan yang mendukung, serta penghormatan terhadap hak setiap individu untuk mengambil keputusan mengenai kesehatannya.

Partisipasi ini diperkuat oleh rekam jejak Dr. Rizka sebagai alumnus Emerging Voices for Global Health, perwakilan Steering Group Alliance to Improve Midwifery Education, serta anggota International AIDS Society. Pengalaman tersebut membuka peluang untuk menghubungkan perspektif lokal dengan kolaborasi global, sekaligus memperkuat kontribusi UNS dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ke depan, pengetahuan dan jejaring yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan menjadi kolaborasi riset internasional, pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas dosen dan mahasiswa, serta inovasi pelayanan kebidanan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kelompok rentan.

Kontribusi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kelima tujuan tersebut saling berkaitan dalam mendorong layanan kesehatan berkualitas, pendidikan tenaga kesehatan yang kuat, perlindungan hak perempuan, pengurangan kesenjangan akses, serta kemitraan lintas negara.

“Bagi saya, kesehatan global yang berkeadilan bukan sekadar menghadirkan lebih banyak suara dalam forum internasional, melainkan memastikan suara tersebut turut membentuk keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Saya berharap pengalaman ini menjadi jembatan antara realitas lokal dan aksi global, serta membawa manfaat nyata bagi pendidikan dan pelayanan kebidanan di Indonesia,” ungkap Dr. Rizka kepada uns.ac.id, Senin (19/10/2026).

Perjalanan dari Surakarta ke Berlin menjadi pengingat bahwa pengalaman lokal memiliki arti penting dalam percakapan tentang kesehatan global. Melalui pendidikan, penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan kemitraan internasional, dosen dan tenaga kesehatan Indonesia dapat berkontribusi dalam mewujudkan sistem kesehatan yang lebih inklusif, setara, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa perwakilan dari Universitas Sebelas Maret yang hadir di World Health Summit 2026?

Dr. Rizka Ayu Setyani, SST, MPH, yang merupakan dosen Fakultas Kedokteran UNS. Lihat di artikel

Kapan dan di mana World Health Summit 2026 diselenggarakan?

WHS 2026 diselenggarakan di Berlin, Jerman, pada tanggal 11–13 Oktober 2026. Lihat di artikel

Apa program yang diikuti oleh Dr. Rizka Ayu Setyani di WHS 2026?

Ia terpilih sebagai salah satu penerima WHS 2026 Stipend and Fellowship Program. Lihat di artikel

Apa inovasi berbasis komunitas yang dikembangkan oleh Dr. Rizka Ayu Setyani?

Ia mengembangkan SEKOCI (Sekolah Komplementer Cinta Ibu) untuk mendukung kesehatan ibu dan anak. Lihat di artikel