Universitas Sebelas Maret melalui program pengabdian memberikan pendampingan kepada Bank Sampah Sapu Jagad di Magetan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular guna meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan efisiensi pengolahan lingkungan secara berkelanjutan.
UNS— Pendampingan dan dukungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) turut mendorong perkembangan Bank Sampah Sapu Jagad (BSSJ) yang berada di Sumberrejo RT 03/RW 03, Ringinagung, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan. Dukungan UNS yang diberikan secara berkelanjutan, baik melalui pendampingan maupun bantuan peralatan, membantu BSSJ meningkatkan kapasitas pengolahan sampah sekaligus mengembangkan berbagai produk kreatif bernilai ekonomi.
Direktur BSSJ, Juli Kuswanto, menyampaikan apresiasi atas pendampingan UNS yang telah dilakukan sejak BSSJ mulai berkembang. Menurutnya, dukungan tersebut membantu BSSJ bertransformasi dari pengelolaan sampah sederhana menjadi usaha pengolahan sampah yang dikenal masyarakat di berbagai daerah.
“UNS sudah berkenan membimbing kami dari nol hingga sekarang bisa dikenal di mana-mana. Semua ini berkat bimbingan Bapak dan Ibu dari UNS. Tanpa dukungan tersebut, kami bukanlah apa-apa. Kami juga menyampaikan terima kasih atas berbagai bantuan peralatan, mulai dari komputer, mesin produksi, hingga peralatan lainnya yang sangat membantu kami untuk semakin kreatif dan inovatif dalam membuat berbagai desain produk,” ujarnya.
Juli berharap seluruh bantuan yang diberikan dapat dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara optimal. Sebagai mitra binaan UNS, BSSJ juga berkomitmen menjaga kepercayaan dan nama baik UNS melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat serta inovasi pengelolaan sampah.
Berawal dari Pengelolaan Sampah Campuran
Juli menjelaskan, BSSJ berdiri pada 10 Januari 2014. Pada periode awal, yakni sekitar 2014–2018, sebagian besar sampah yang diterima masih berupa sampah campuran sehingga proses pemilahan dilakukan secara manual. Pengelola juga harus menjemput sampah dari rumah-rumah warga dengan menyewa kendaraan pikap.
“Dulu kami mengambil sampah dari rumah-rumah warga. Sampah yang kami terima masih berupa sampah campuran. Warga kemudian menabung sampahnya dan hasilnya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti tabungan, piknik, tabungan Lebaran, maupun dibagikan dalam bentuk sembako menjelang Lebaran,” jelasnya.
Seiring dengan pendampingan dan edukasi yang dilakukan, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya mulai meningkat. Jika sebelumnya BSSJ harus menjemput sekitar 750 kilogram hingga satu ton sampah per bulan, kini sebagian masyarakat telah datang langsung membawa sampah yang sudah dipilah.
“Sekarang masyarakat sudah mulai memilah sampah dari rumah. Jadi, sampah yang dibawa ke sini sudah dalam kondisi terpilah. Ini merupakan hasil dari edukasi dan sosialisasi yang terus kami lakukan,” ungkap Juli.
Menurutnya, edukasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah. BSSJ tidak hanya menerima dan mengolah sampah, tetapi juga memberikan sosialisasi kepada siswa SD, SMP, SMA, ibu-ibu PKK, dan berbagai kelompok masyarakat.
“Bagi kami, edukasi dan sosialisasi merupakan kewajiban. Kami ingin masyarakat memahami bahwa apabila sampah dikelola dengan baik, sampah tidak akan menjadi bencana atau masalah, tetapi justru dapat memberikan manfaat,” tuturnya.

Sampah Diolah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi
Berbagai jenis sampah kering yang diterima BSSJ kemudian diolah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti sofa dari botol plastik, tempat pensil, tas, tempat penyimpanan kantong plastik, serta berbagai produk kerajinan lainnya.
Salah satu produk unggulan BSSJ adalah sofa ecobrick yang telah dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Surabaya, Sukoharjo, hingga Kalimantan. Selain memasarkan produk, BSSJ juga menerima kunjungan dari berbagai daerah yang ingin mempelajari pengelolaan sampah dan pembuatan produk kreatif berbahan sampah.
“Produk kami sudah dibawa dan dipasarkan ke berbagai daerah. Kami juga menerima kunjungan dari berbagai daerah yang ingin belajar mengenai pengelolaan sampah dan pembuatan produk kreatif dari sampah,” katanya.
Pemasaran produk dilakukan melalui media sosial, antara lain TikTok dan Instagram Rumah Kreatif BSSJ, serta melalui berbagai kegiatan pelatihan dan edukasi yang dilaksanakan di sejumlah daerah.
Peralatan dari UNS turut meningkatkan kapasitas produksi BSSJ. Jika sebelumnya BSSJ hanya mampu menghasilkan sekitar satu hingga dua set produk per hari, kini kapasitas produksi dapat mencapai sekitar lima set per hari.
“Satu set produk bisa bernilai sekitar Rp2 juta. Dengan adanya bantuan peralatan dari UNS, proses produksi menjadi lebih cepat dan kapasitas kami meningkat. Ini sangat membantu kami dalam memenuhi permintaan sekaligus mengembangkan usaha,” jelas Juli.
Dorong Edukasi dan Ekonomi Sirkular
Juli menilai dukungan pemerintah dan berbagai pihak diperlukan untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Menurutnya, perubahan perilaku membutuhkan edukasi yang konsisten serta keteladanan dari berbagai pihak.
“Kalau kita ingin mengubah perilaku masyarakat, memang tidak mudah. Namun, jika pemerintah dan para pejabat mau turun langsung memberikan contoh dan mengajak masyarakat memilah sampah bersama-sama, saya yakin masyarakat akan lebih mudah mengikuti. Edukasi dan sosialisasi harus terus dilakukan,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberadaan BSSJ tidak semata-mata berorientasi pada produksi dan keuntungan ekonomi. BSSJ juga berupaya membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah melalui edukasi, pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah.
“Kami sebenarnya hanya membantu pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam pengelolaan sampah. Harapan kami, gerakan ini bisa terus berkembang dan semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” pungkasnya.
Sementara itu, Perwakilan LPPM UNS, Prof. Dr. Eng. Ir. Syamsul Hadi, S.T., M.T., mengatakan bahwa pendampingan terhadap BSSJ merupakan bagian dari komitmen UNS dalam mendorong pengembangan pengelolaan sampah yang produktif dan berkelanjutan di masyarakat.
“Pendampingan yang dilakukan UNS tidak hanya berupa bantuan peralatan. Ketika mitra membutuhkan mesin atau peralatan pendukung lainnya, UNS berupaya membantu sesuai kebutuhan dan kapasitas program yang tersedia. Pendampingan ini telah berlangsung cukup lama,” jelasnya.
Menurut Prof. Syamsul Hadi, sinergi perguruan tinggi dengan masyarakat perlu terus diperkuat agar kegiatan pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berkembang menjadi proses peningkatan kapasitas dan kemandirian mitra.
“UNS ingin terus membantu perkembangan usaha pengolahan sampah agar sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat berlangsung secara berkelanjutan. Melalui pendampingan tersebut, kami berharap dapat meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat sekaligus mendorong peningkatan perekonomian melalui pengelolaan sampah yang produktif,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan BSSJ sejalan dengan upaya mendorong penerapan ekonomi sirkular, yaitu mengubah sampah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, UNS berharap praktik pengelolaan sampah yang dilakukan BSSJ dapat terus berkembang dan direplikasi di masyarakat. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung penyelesaian persoalan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa nama bank sampah yang didampingi oleh UNS di Magetan?
Bank sampah yang didampingi adalah Bank Sampah Sapu Jagad di Magetan.
Apa fokus utama dari program pendampingan yang diberikan UNS?
Fokus utamanya adalah mengembangkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.


















