Banyaknya permasalahan lingkungan di dunia seperti perubahan iklim, global warming, trans boundary dan earth ethic membuat Dhion Ghafara Herputra, alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, tergugah untuk ambil bagian dalam penyelesaian masalah-masalah tersebut. Mahasiswa lulusan Agribisnis angkatan 2012 ini menceritakan pengalamannya ketika mengikuti program Young Southeast Asian Leader Initiative (YSEALI) di Amerika Serikat akhir Agustus lalu. Menurutnya, manusia sebagai penyebab dari masalah tersebut hendaknya juga meyumbangkan ide dan pemikiran untuk menemukan solusi terbaik dan pencegahan dari permasalahan yang ada.

Selama berada di University of Montana, Missoula, Dhion yang mengambil isu lingkungan sebagai fokus program di YSEALI mengaku banyak sekali kegiatan  yang bermanfaat bagi dia dalam mengembangkan leadership skill dan juga menambah wawasan tentang lingkungan itu sendiri. Kegiatan yang dia ikuti seperti, kuliah, diskusi, seminar, group presentation dan  kegiatan di luar kelas lainnya. Dhion terbang ke Amerika bersama empat mahasiswa dari Indonesia dan 17 mahasiswa lainnya dari negara ASEAN untuk mengikuti serangkaian program YSEALI dari 23 Agustus hingga 28 September 2016.

Dhion Ghafara Herputra dan delegasi ASEAN

Dhion bersama delegasi dari negara-negara ASEAN

Tak Ada Kendala Ibadah dan Bahasa

Mahasiswa yang lulus di tahun 2016 ini juga mengungkapkan bahwa ia tak menemukan kendala dalam beribadah selama kurang lebih satu bulan hidup di negeri Paman Sam. Kekhawatirannya terkait ibadah terjawab ketika ia menemukan banyak Islamic Center dan masjid di setiap negara bagian.

“Disana orang-orang sangat baik dan respect, bahkan sudah banyak Islamic Center dan masjid di setiap negara bagian. Hal ini sangat membantu saya sebagai seorang muslim untuk beribadah,” ungkap Dhion.

Dhion Ghafara Herputra ketika berada di University of Montana

Suasana di USA yang kental akan iklim persaingan membuat Mas UNS 2016 ini yakin bahwa yang perlu disiapkan agar seseorang dapar berkembang dan sukses adalah mental yang kuat. Kemampuan mengembangkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki juga tak kalah penting. Selain itu, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang baik juga perlu dikuasai. Menurut Dhion, sepintar apapun seseorang jika dia tidak bisa mengkomunikasikan ide dan gagasan maka akan percuma. “Kita tidak perlu minder dan jangan menunda mimpi dengan alasan bahasa Inggris tidak bagus, karena orang disana sangat menghargai effort kita sebagai foreigner untuk belajar bahasa asing,” tutupnya. (Refita Helya Shufia/Dty)