UNS – Program Studi (Prodi) S-3 dan S-2 Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menggelar diskusi publik bertema lingkungan. Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, kegiatan ini mengangkat topik “Mendaur Ulang Masa Depan: Mengurangi Sampah Plastik dengan Inovasi”.
Diskusi publik dibuka dengan sambutan dari Dekan Sekolah Pascasarjana UNS, Prof. Dr. rer.nat. Sajidan, M.Si. Beliau menegaskan pentingnya kepedulian bersama terhadap isu sampah plastik, khususnya mikroplastik. Penanganan masalah ini memerlukan pendekatan lintas disiplin dan kolaborasi berkelanjutan sejumlah pihak.
Prof. Dr. Prabang Setyono, S.Si., M.Si., selaku Ketua Prodi (Kaprodi) S-3 Ilmu Lingkungan UNS, bertindak sebagai moderator diskusi dalam acara yang digelar di Ruang Sidang Lantai 6 Gedung Pascasarjana UNS, pada Kamis (25/6/2025). Dalam pengantarnya, Prof. Prabang menyoroti peran penting akademisi dalam mengedukasi masyarakat tentang ancaman sampah plastik. Beliau juga mendorong lahirnya riset transdisiplin yang aplikatif untuk mengatasi permasalahan lingkungan.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber yang memberikan pandangan dari perspektif berbeda. Narasumber pertama, Prigi Arisandi, S.Si., M.Si., Founder Ecoton Foundation, menyampaikan hasil riset mikroplastik di sungai-sungai Indonesia. Ia memaparkan fakta tentang bahaya serius mikroplastik bagi kesehatan manusia dan ekosistem perairan.
Prigi juga menjelaskan aktivitas ekspedisi lingkungan yang rutin dilakukan Ecoton di berbagai wilayah Jawa Timur. Hasil temuannya mengungkap bahwa mikroplastik kini ditemukan di air minum, ikan sungai, hingga endapan sedimen. Temuan ini menjadi pengingat bahwa masalah mikroplastik sudah dalam tahap darurat lingkungan.
Selanjutnya, Prof. Dr. Muhammad Masykuri, M.Si., Kaprodi S-2 Ilmu Lingkungan UNS, menyampaikan materi dari sudut pandang ilmiah. Beliau menjelaskan proses fragmentasi plastik hingga membentuk mikroplastik berukuran dibawah 5 milimeter. Tantangan utamanya adalah keberadaan mikroplastik yang sulit terurai dan mengendap di lingkungan dalam waktu lama. Prof. Masykuri juga menyoroti berbagai metode pengelolaan limbah plastik yang tengah diuji coba, termasuk pendekatan biologis. Meski begitu, Beliau menyebut masih terdapat kendala dalam efektivitas, biaya, dan skalabilitas pengaplikasian metode tersebut di Indonesia.



“Meskipun sudah ada metode biologis seperti pemanfaatan maggot dan bakteri, efektivitas dan efisiensi biaya masih menjadi kendala yang harus diatasi melalui pendekatan inovatif dan teknologi terapan,” ujar Prof. Masykuri.
Dari perspektif hukum, Dr. Dewi Gunawati, S.H., M.Hum., Dosen Hukum Lingkungan UNS, mengangkat pentingnya kesadaran hukum masyarakat. Ia menyatakan bahwa pengelolaan sampah plastik harus disertai penegakan hukum dan advokasi berbasis komunitas. Selain itu, hak atas lingkungan yang sehat adalah bagian dari hak konstitusional warga negara.
“Aspek penegakan hukum dan advokasi berbasis komunitas masih menjadi titik lemah dalam upaya pengurangan sampah plastik di Indonesia,” tutur Dr. Dewi Gunawati.
Diskusi berjalan interaktif dengan sesi tanya jawab yang diikuti peserta secara antusias. Beberapa peserta mahasiswa menyampaikan pertanyaan tentang solusi mikroplastik di air minum dan kebijakan pelarangan kantong plastik. Para narasumber memberikan tanggapan serta solusi berbasis data dan pengalaman lapangan.
Acara ini turut menampilkan instalasi seni berbentuk keran plastik di depan gedung pascasarjana. Instalasi ini merupakan hasil kolaborasi dengan Ecoton Foundation sebagai simbol ajakan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Acara ditutup dengan peluncuran Instagram Feed Challenge yang terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Peserta diundang mengunggah foto kreatif dengan instalasi seni plastik dan memenangkan hadiah dari panitia.
Diskusi publik ini diikuti mahasiswa program S3, S2, dan S1 Ilmu Lingkungan serta masyarakat umum. Antusiasme peserta tampak sejak awal acara hingga sesi diskusi berlangsung. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi akademisi, aktivis, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman sampah plastik. UNS kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam isu lingkungan berkelanjutan.
Humas UNS



















