dr. Artika Ramadhani, Sp.PD, dokter Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) Surakarta, mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala, faktor pemicu, dan tanda bahaya lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin guna mengendalikan peradangan dan mencegah kerusakan organ.
UNS — Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang membutuhkan penanganan dan pemantauan secara berkelanjutan. Dokter Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Artika Ramadhani, Sp.PD, mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala, faktor pemicu, serta tanda bahaya lupus agar penyakit dapat ditangani sedini mungkin.
Menurut dr. Artika, lupus terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Kondisi tersebut dapat menimbulkan peradangan yang mengenai berbagai organ.
“Lupus sering disebut sebagai Penyakit Seribu Wajah karena gejalanya sangat beragam. Gejala pada satu pasien dapat berbeda dengan pasien lainnya dan bahkan dapat menyerupai penyakit lain,” jelas dr. Artika seperti dikutip dari laman _rs.uns.ac.id, Senin (7/9/2026).
Ia mengatakan, perjalanan lupus juga dapat berubah-ubah. Terdapat periode ketika penyakit menjadi aktif atau mengalami kekambuhan (flare), serta periode ketika kondisi penyakit lebih terkendali atau remisi.
Di Indonesia, orang yang hidup dengan lupus dikenal dengan istilah ODAPUS (Orang dengan Lupus). Meskipun merupakan penyakit kronis, lupus dapat dikendalikan dengan pengobatan dan pola hidup yang tepat sehingga ODAPUS tetap dapat menjalani kehidupan secara aktif dan produktif.
dr. Artika menjelaskan bahwa penyebab pasti lupus hingga saat ini belum diketahui. Namun, lupus diduga berkaitan dengan interaksi berbagai faktor, mulai dari jenis kelamin dan hormon, faktor genetik, etnis, hingga lingkungan.
Lupus lebih sering ditemukan pada perempuan, terutama pada usia reproduktif. Faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko, khususnya pada seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan lupus atau penyakit autoimun lainnya. Meski demikian, faktor genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengalami lupus.
“Selain faktor genetik dan hormonal, faktor lingkungan juga dapat berperan. Paparan sinar ultraviolet, infeksi tertentu, stres fisik maupun emosional, serta perubahan hormonal pada sebagian orang dapat memicu atau memperberat gejala,” terang dr. Artika.
Karena pemicu dapat berbeda pada setiap orang, ODAPUS perlu mengenali kondisi yang biasanya mendahului munculnya keluhan. Dengan demikian, pasien dapat lebih waspada dan melakukan langkah pencegahan sesuai anjuran dokter.
Waspadai 11 Gejala Lupus
Lebih lanjut, dr. Artika mengimbau masyarakat untuk mengenali sejumlah gejala yang dapat ditemukan pada lupus. Gejala tersebut antara lain demam berulang tanpa penyebab yang jelas dan mudah lelah meskipun sudah cukup beristirahat.
Gejala lainnya berupa nyeri atau pembengkakan pada sendi yang berulang, ruam kemerahan pada kedua pipi dan batang hidung yang menyerupai kupu-kupu (butterfly rash), serta ruam kulit bersisik yang dapat meninggalkan bekas atau perubahan warna.
“Pasien juga dapat mengalami kulit yang sensitif terhadap sinar matahari sehingga ruam muncul atau bertambah berat setelah terpapar matahari. Sariawan yang sering berulang, terutama yang tidak terasa nyeri, serta rambut rontok lebih banyak dari biasanya juga perlu diperhatikan,” ungkapnya.
Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah perubahan warna jari tangan atau kaki ketika terpapar dingin atau mengalami stres. Jari dapat berubah menjadi pucat, kebiruan, atau kemerahan.
Pembengkakan pada kaki atau sekitar mata juga perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada ginjal. Selain itu, nyeri dada ketika menarik napas dalam atau sesak napas juga dapat ditemukan pada pasien lupus.
Meski demikian, dr. Artika menegaskan bahwa munculnya satu atau beberapa gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang menderita lupus.
“Jika beberapa keluhan muncul secara bersamaan, menetap, atau sering kambuh tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter,” sarannya.
Diagnosis lupus tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala atau satu pemeriksaan laboratorium. Dokter perlu melakukan penilaian secara menyeluruh melalui keluhan pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan darah dan urine.
Menurut dr. Artika, hingga saat ini lupus belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, penyakit tersebut dapat dikendalikan dengan baik melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup. Tujuan pengobatan adalah mengurangi peradangan, mencegah kekambuhan, serta melindungi organ tubuh dari kerusakan.
“Pengelolaan lupus tidak hanya bergantung pada obat. Pola hidup sehat juga penting, seperti istirahat yang cukup, mengelola stres, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan tidak merokok,” jelasnya.
ODAPUS juga dianjurkan melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Perlindungan dapat dilakukan dengan menggunakan tabir surya minimal SPF 30 serta mengenakan pakaian tertutup, topi, atau menggunakan payung ketika beraktivitas di luar ruangan.
Aktivitas fisik juga tetap dianjurkan sesuai dengan kondisi tubuh. Aktivitas ringan hingga sedang dapat membantu menjaga kekuatan otot, kesehatan sendi, dan kebugaran. Pada kondisi tertentu, fisioterapi dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Sementara itu, penggunaan obat harus dilakukan secara teratur sesuai dengan anjuran dokter. Jenis dan dosis obat akan disesuaikan dengan tingkat keaktifan lupus serta organ yang terkena.
Pada lupus yang melibatkan organ penting seperti ginjal, otak, jantung, atau paru-paru, pasien mungkin memerlukan pengobatan dan pemantauan yang lebih intensif.
dr. Artika mengingatkan ODAPUS untuk tidak menghentikan atau mengubah dosis obat secara mandiri meskipun sudah merasa sehat. Kontrol rutin tetap diperlukan untuk memantau
Selain mengenali gejala, ODAPUS dan keluarga juga perlu mengetahui kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Beberapa tanda bahaya tersebut antara lain demam tinggi atau menggigil hebat, terutama apabila kondisi tubuh semakin lemah. Urine berwarna kemerahan atau sangat berbusa, khususnya jika disertai pembengkakan pada wajah atau kaki, juga perlu segera diperiksakan.
“Sesak napas berat atau nyeri dada yang muncul tiba-tiba atau semakin memburuk juga harus segera mendapatkan pertolongan medis,” tegas dr. Artika.
Tanda bahaya lainnya meliputi kejang, penurunan kesadaran, kebingungan mendadak, kesulitan berbicara, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
ODAPUS juga perlu mewaspadai tanda infeksi berat, seperti demam tinggi, menggigil, sesak napas, muntah atau diare terus-menerus, maupun kondisi tubuh yang memburuk dengan cepat. Nyeri perut hebat yang muncul tiba-tiba atau semakin berat juga memerlukan pemeriksaan segera.
Jika mengalami tanda-tanda tersebut, pasien dianjurkan segera mencari pertolongan medis atau datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Tetap Produktif Bersama Lupus
dr. Artika menekankan bahwa lupus merupakan penyakit jangka panjang yang membutuhkan pengelolaan secara berkelanjutan. Meskipun belum dapat disembuhkan sepenuhnya, pengendalian penyakit yang baik dapat membantu mencegah kekambuhan dan mengurangi risiko kerusakan organ.
“Mengenali gejala sejak dini, menjalani pengobatan secara teratur, menjaga pola hidup sehat, dan melakukan kontrol rutin merupakan bagian penting dalam pengelolaan lupus,” ujarnya.
Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga menjadi bagian penting dalam membantu ODAPUS menjalani pengobatan serta mempertahankan kualitas hidup.
Dengan diagnosis yang tepat, pengobatan teratur, pola hidup sehat, dan pemantauan berkelanjutan, ODAPUS tetap dapat menjalani kehidupan yang aktif dan produktif. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa yang dimaksud dengan penyakit lupus?
Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Lihat di artikel
Apa saja gejala awal yang perlu diwaspadai pada penderita lupus?
Gejala lupus meliputi demam berulang tanpa sebab, mudah lelah, nyeri sendi, ruam kupu-kupu di wajah, sariawan berulang, hingga rambut rontok. Lihat di artikel
Bagaimana cara mengendalikan penyakit lupus meskipun belum bisa disembuhkan?
Lupus dapat dikendalikan melalui pengobatan teratur dari dokter, penerapan pola hidup sehat, mengelola stres, dan melindungi kulit dari sinar matahari. Lihat di artikel


















