Dokter RS UNS mengingatkan ibu hamil untuk mewaspadai preeklamsia, komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi dan protein dalam urine, berpotensi membahayakan ibu dan janin jika tidak ditangani. Deteksi dini melalui pemeriksaan rutin sangat krusial.
UNS — Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat membahayakan keselamatan ibu maupun janin. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan memasuki 20 minggu dan ditandai dengan peningkatan tekanan darah disertai adanya protein dalam urine (proteinuria).
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS UNS, Dr. Hafi Nurinasari, dr., Sp.OG., M.Kes., menjelaskan bahwa preeklamsia dapat mengganggu fungsi berbagai organ penting, seperti ginjal, hati, paru-paru, otak, hingga plasenta. Apabila tidak ditangani secara tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi eklamsia yang ditandai dengan kejang dan berisiko mengancam nyawa ibu serta janin.
“Preeklamsia merupakan kondisi yang harus dikenali sejak dini. Pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi kunci untuk mendeteksi dan menangani kondisi ini sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat,” jelas Dr. Hafi seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Kamis (30/7/2026).
Ibu hamil perlu mewaspadai sejumlah gejala yang dapat mengindikasikan terjadinya preeklamsia. Tanda-tanda yang sering muncul antara lain tekanan darah tinggi, sakit kepala atau pusing yang menetap, pembengkakan pada wajah, tangan, maupun kaki, pandangan kabur atau gangguan penglihatan, nyeri pada ulu hati, serta tubuh yang terasa lemas atau tidak nyaman. Apabila satu atau beberapa gejala tersebut muncul, ibu hamil sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin.
Risiko preeklamsia dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari kondisi ibu maupun gaya hidup. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain obesitas, usia kehamilan di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun, riwayat hipertensi atau preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, kehamilan pertama, diabetes mellitus, penyakit ginjal, paparan asap rokok, konsumsi garam berlebihan, serta kurangnya kepatuhan menjalani pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care/ANC).
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, pemeriksaan urine untuk mendeteksi protein, tes darah guna menilai fungsi ginjal, hati, dan jumlah trombosit, serta pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk memantau kondisi janin dan aliran darah ke plasenta.
Penanganan preeklamsia disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisi serta usia kehamilan ibu. Dokter akan melakukan pemantauan secara ketat melalui pemeriksaan rutin, mengontrol tekanan darah, serta menganjurkan pembatasan aktivitas atau istirahat sesuai kebutuhan pasien. Selain itu, terapi obat seperti antihipertensi, kortikosteroid untuk membantu pematangan paru janin bila diperlukan persalinan dini, dan magnesium sulfat untuk mencegah kejang dapat diberikan sesuai indikasi medis.
Apabila tidak ditangani dengan baik, preeklamsia dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti eklamsia, sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzymes, Low Platelets), persalinan prematur, lepasnya plasenta (solusio plasenta), hingga kerusakan organ seperti ginjal, hati, dan otak.
Risiko preeklamsia dapat diminimalkan melalui penerapan pola hidup sehat selama kehamilan. Ibu hamil dianjurkan menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan garam, mencukupi kebutuhan cairan, serta menjaga berat badan tetap ideal. Selain itu, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam hamil, atau yoga prenatal sesuai anjuran tenaga kesehatan juga dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan mendukung kehamilan yang lebih optimal.
Ibu hamil juga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami tekanan darah di atas 140/90 mmHg atau muncul gejala yang mengarah pada preeklamsia.
Dr. Hafi mengimbau seluruh ibu hamil untuk tidak mengabaikan tanda-tanda preeklamsia dan selalu melakukan pemeriksaan kehamilan secara berkala. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serta meningkatkan keselamatan ibu dan bayi hingga proses persalinan. HUMAS UNS
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu preeklamsia pada ibu hamil?
Preeklamsia adalah komplikasi kehamilan yang muncul setelah 20 minggu kehamilan, ditandai peningkatan tekanan darah dan protein dalam urine, yang dapat mengganggu fungsi organ vital. Lihat di artikel
Apa saja gejala preeklamsia yang perlu diwaspadai?
Gejala preeklamsia meliputi tekanan darah tinggi, sakit kepala menetap, pembengkakan wajah/tangan/kaki, pandangan kabur, nyeri ulu hati, dan tubuh terasa lemas. Lihat di artikel
Faktor apa saja yang meningkatkan risiko preeklamsia?
Faktor risiko meliputi obesitas, usia ibu di bawah 20 atau di atas 35 tahun, riwayat hipertensi/preeklamsia, kehamilan pertama, diabetes, penyakit ginjal, dan paparan asap rokok. Lihat di artikel
Bagaimana penanganan preeklamsia di RS UNS?
Penanganan disesuaikan keparahan dan usia kehamilan, meliputi pemantauan ketat, kontrol tekanan darah, pembatasan aktivitas, serta pemberian obat antihipertensi, kortikosteroid, dan magnesium sulfat. Lihat di artikel


















