UNS — Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bekerja sama dengan Solopos FM mengadakan talkshow dengan tema “Paru Sehat Untuk Semua” dalam rangka Hari Paru Dunia 2022 pada Selasa (27/9/2022) melalui siaran langsung di kanal YouTube Espos Live.
Talkshow ini mengundang salah satu dokter spesialis paru dari RS UNS yaitu dr. Brigitta Devi Anindita Hapsari, Sp.P. dr. Brigitta membagikan informasi terkait penyakit paru dan pentingnya menjaga kesehatan organ paru.
dr. Brigitta membagi penyakit paru ke dalam dua kategori, yaitu penyakit paru menular dan tidak menular. Ia juga menyebutkan penyebab-penyebab penyakit paru tersebut.
“Untuk penyakit paru yang menular itu karena bakteri dan virus, seperti Covid, influenza dan pneumonia. Untuk asma penyebabnya macam-macam, (ada yang dikarenakan) keturunan, kelelahkan akibat excersice berlebih, lingkungan atau jenis pekerjaan. Misalnya bekerja di industri tekstil atau sablon itu bisa menyebabkan sesak napas dan batuk berdarah. Kemudian rokok juga menyebabkan penyakit paru. Lingkungan perokok juga bisa kena penyakit paru,” terang dr. Brigitta.
Lebih lanjut, dr. Brigitta menekankan bahayanya asap rokok bagi orang di sekitarnya, terutama pada anak kecil.
“Anak kecil lebih mudah terpapar penyakit paru. (ia tergolong) 3rd hand smoker. Contohnya ketika seorang ayah yang perokok pulang ke rumah dan langsung menggendong anaknya tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu bisa berpotensi menyebabkan pneumonia dan infeksi paru. Anak bisa jadi sesak napas hingga butuh dirawat dan mengonsumsi antibiotik,” jelas dr. Brigitta.

Ia pun menyarankan kepada perokok aktif yang memiliki anak untuk berhenti merokok. “Sebaiknya menghentikan merokok. Kalau belum bisa ya pelan-pelan dengan cara mandi dulu sebelum menggendong anak,” ujarnya.
Terkait gejala penyakit paru yang mengharuskan untuk dibawa ke rumah sakit, dr. Brigitta menyebut bahwa gejala yang dialami akan berbeda-beda, tergantung apakah pasien sudah memiliki penyakit paru sebelumnya atau tidak.
Untuk proses penyembuhan pada penyakit paru juga tergantung dari jenis penyakit itu sendiri. “(untuk penyakit) asma tidak bisa sembuh tapi terkontrol, untuk kanker paru memang jumlah kesembuhan 100% masih dikit tapi bisa dimaksimalkan sampai kondisi optimal untuk pasien bisa bekerja. TBC bisa sembuh sempurna asal ketahuan cepat, pengobatan tepat, pasien tidak putus obat, serta bukan merupakan kasus yang terlalu berat,” jelas dr. Brigitta.
Dr. Brigitta juga merekomendasikan beberapa aktivitas untuk mencegah penyakit paru serta menjaga kesehatan paru, seperti berenang, bersepeda ringan, serta jalan pagi. “Karena mencegah lebih baik. Olahraga yang sederhana tapi konsisten,” ujar dr. Brigitta.
Selain itu, dr. Brigitta juga menyampaikan bahwa makan-makanan bergizi juga dapat membantu untuk menjaga kesehatan paru.
Terakhir, ia menyampaikan betapa pentingnya menjaga kesehatan paru untuk diri sendiri dan juga lingkungan sekitar.
“Dengan menjaga paru kita tetap sehat, kita juga akan ikut menjaga lingkungan kita tetap sehat. kita ikut berperan di situ. Paru sehat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk menjaga kesehatan paru orang di sekitar kita. Paru sehat memang untuk semua,” pungkasnya. Humas UNS
Reporter: Adisti Daniella
Redaktur: Dwi Hastuti



















