Dokter RS UNS Sampaikan Strategi Mengendalikan Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi (hipertensi) yang dijuluki “pembunuh senyap” dapat memicu komplikasi fatal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS UNS, dr. Evi Liliek Wulandari, Sp.PD., M.Kes., menjelaskan bahwa hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah di atas normal (≥ 140/90 mmHg menurut WHO). Faktor pemicu meliputi usia, genetik, jenis kelamin, serta gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, konsumsi garam berlebih, merokok, alkohol, stres, dan kurang tidur. Strategi pencegahan dan pengendalian meliputi pola makan seimbang, pembatasan natrium, pemenuhan nutrisi pendukung, aktivitas fisik rutin, manajemen stres, dan tidur cukup. Bagi penderita, diperlukan konsultasi medis, kepatuhan obat, dan pemantauan rutin. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan stroke, gagal ginjal, penyakit jantung, gangguan penglihatan, dan demensia.

UNS — Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi sering dijuluki sebagai “pembunuh senyap” karena gejalanya yang jarang disadari oleh penderita. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini berpotensi memicu komplikasi fatal seperti stroke, gagal ginjal, hingga penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, sangat krusial bagi kita untuk memahami faktor pemicunya serta langkah-langkah untuk menurunkan maupun mencegah kenaikan tekanan darah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Evi Liliek Wulandari, Sp.PD., M.Kes. menyampaikan, secara medis, hipertensi didefinisikan sebagai gangguan kesehatan kronis di mana tekanan darah pada dinding arteri berada di atas batas normal. Indikatornya diukur melalui dua angka, sistolik (saat jantung berdenyut) dan diastolik (saat jantung beristirahat).

Berdasarkan standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang didiagnosis hipertensi apabila hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan menunjukkan angka sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau angka diastolik ≥ 90 mmHg,” terang dr. Evi, seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Selasa (13/1/2026).

Pada tahun 2023, WHO mencatat bahwa sekitar 33% penduduk dunia menderita hipertensi, dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di negara-negara berkembang.

Faktor Pemicu Hipertensi

Penyebab tekanan darah tinggi umumnya merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan. Sebagian faktor tersebut bersifat permanen dan tidak dapat diubah, sehingga hanya dapat dikendalikan melalui pemantauan dan gaya hidup sehat. Faktor yang tidak bisa diubah antara lain usia, di mana risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya umur, umumnya setelah pria berusia 45 tahun dan wanita 55 tahun.

Selain itu, faktor genetik juga berperan penting, karena seseorang yang memiliki orang tua atau kerabat dekat dengan riwayat hipertensi memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kondisi serupa. Jenis kelamin turut memengaruhi risiko, di mana pria cenderung lebih rentan mengalami hipertensi pada usia muda, sementara wanita memiliki risiko yang meningkat ketika memasuki usia lanjut.

Faktor yang bisa dikendalikan berperan besar dalam terjadinya tekanan darah tinggi dan sangat dipengaruhi oleh gaya hidup sehari-hari. Kurangnya aktivitas fisik, seperti jarang berolahraga, dapat memicu peningkatan berat badan dan obesitas yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Berat badan berlebih membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Selain itu, konsumsi garam yang berlebihan menyebabkan kadar natrium dalam tubuh meningkat sehingga mengikat lebih banyak cairan dan menambah volume darah. Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol juga berkontribusi terhadap hipertensi karena dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan aliran darah. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah stres berkepanjangan dan kurang tidur, karena kondisi ini dapat memicu pelepasan hormon tertentu yang secara berkala meningkatkan tekanan darah.

Strategi mencegah dan mengendalikan tekanan darah tinggi pada dasarnya bertumpu pada konsistensi dalam menerapkan gaya hidup sehat. Salah satu langkah utama adalah menerapkan pola makan seimbang dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, gandum utuh, serta sumber protein rendah lemak, sekaligus membatasi asupan kolesterol.

Pembatasan natrium juga sangat penting, di mana konsumsi garam dianjurkan tidak lebih dari 5 gram atau setara satu sendok teh per hari. Selain itu, pemenuhan nutrisi pendukung seperti kalium yang terdapat pada pisang dan alpukat serta magnesium dari sayuran hijau dapat membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks.

Aktivitas fisik rutin, khususnya olahraga aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang, bermanfaat untuk memperkuat otot jantung dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Manajemen stres dan kualitas tidur juga tidak boleh diabaikan, dengan menerapkan teknik relaksasi serta memastikan waktu tidur yang cukup, yaitu sekitar 7–9 jam setiap malam.

Bagi penderita hipertensi yang telah terdiagnosis, perubahan gaya hidup ini perlu disertai dengan konsultasi medis, kepatuhan mengonsumsi obat sesuai resep dokter, serta pemantauan tekanan darah secara mandiri di rumah. “Meskipun hipertensi merupakan kondisi yang serius, penyakit ini sangat mungkin untuk dicegah dan dikendalikan melalui pemahaman risiko serta kedisiplinan dalam menjalani pola hidup sehat, sehingga komplikasi kesehatan di masa depan dapat dihindari,” imbuh dr. Evi.

Komplikasi Akibat Hipertensi

Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada struktur pembuluh darah dan berbagai organ vital akibat paparan tekanan hemodinamik yang tinggi secara terus-menerus. Kondisi ini memaksa organ-organ tubuh bekerja di luar kapasitas normalnya dan pada akhirnya memicu beragam komplikasi serius.

Tekanan darah tinggi membuat jantung bekerja lebih keras sehingga terjadi penebalan otot jantung dan penyempitan arteri yang dapat berujung pada gagal jantung maupun serangan jantung.

Kemudian di otak, hipertensi meningkatkan risiko stroke akibat pembuluh darah yang menyempit, pecah, atau tersumbat, sehingga aliran darah terganggu dan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

Ginjal juga rentan mengalami kerusakan karena tekanan tinggi merusak pembuluh darah halus yang berperan dalam proses penyaringan, yang dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.

Selain itu, pembuluh darah kecil di retina mata dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan gangguan penglihatan bahkan kebutaan permanen.

Tidak hanya itu, hipertensi juga sering kali berkaitan dengan sindrom metabolik, yaitu kumpulan gangguan metabolisme seperti resistensi insulin, peningkatan lingkar pinggang, dan rendahnya kadar kolesterol baik, yang meningkatkan risiko diabetes.

Tekanan darah kronis juga dapat melemahkan dinding pembuluh darah dan membentuk aneurisma yang berisiko pecah dan mengancam nyawa. Lebih jauh, gangguan aliran darah ke otak akibat kerusakan arteri dapat menurunkan fungsi kognitif, memicu gangguan memori, kesulitan konsentrasi, hingga demensia vaskular. HUMAS UNS

Pertanyaan umum

Apa definisi medis dari hipertensi menurut WHO?
Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang didiagnosis hipertensi apabila hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan menunjukkan angka sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau angka diastolik ≥ 90 mmHg. Lihat di artikel

Apa saja faktor pemicu hipertensi yang tidak dapat diubah?
Faktor yang tidak bisa diubah meliputi usia yang meningkat, faktor genetik (riwayat keluarga), dan jenis kelamin. Lihat di artikel

Bagaimana strategi utama untuk mencegah dan mengendalikan tekanan darah tinggi?
Strategi utama bertumpu pada konsistensi dalam menerapkan gaya hidup sehat, termasuk pola makan seimbang, pembatasan natrium, aktivitas fisik rutin, manajemen stres, dan kualitas tidur yang cukup. Lihat di artikel